Jam tanganku menunjukkan pukul 14.45 tanda berakhirnya mata kuliah hari ini. Langkahku menuju parkiran sedikit cepat dikarenakan langit mulai gelap, suara petir menggelegar, dan awannya menggumpal seperti bulu domba. Tanda akan turun hujan. Benar saja, baru keluar dari area fakultas hujan turun begitu derasnya. Karena aku lupa membawa jas hujan, akhirnya aku memilih untuk menepi di masjid universitas, sekitar 200 meter dari fakultasku. “Masjid Al-Hikmah”, tulisan neon box berwarna merah menyala menyambut siapa saja yang akan memasuki kawasan masjid tersebut. Setelah memarkir sepeda, aku berlari menuju masjid dan segera melepaskan sepatuku. Lisanku bedoa “Allahummaftahlii abwaaba rahmatik”. Aku duduk bersila di kanopi masjid lalu melepaskan jaketku yang basah kuyup. 
Adzan ashar telah berkumandang dibarengi suara rintik hujan yang belum berhenti sedari tadi. Bergegas aku mengambil wudhu agar dapat mengikuti sholat ashar berjamaah. Para jamaah kebanyakan adalah mahasiswa yang senasib denganku. Terjebak hujan dan tak bisa pulang, akhirnya hanya bisa menunggu hujan yang deras ini tak turun kembali. Usai sholat, aku melepas mukenahku dan mengambil al-qur’an kecil yang ada di tasku. Makmumnya tidak begitu banyak dan sepi, tidak bising. Menurutku ini adalah waktu yang khidmat untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta dengan cara membaca kalam-Nya di salah satu rumah-Nya. Tidak terasa sudah 20 menit aku menyelami samudera ayat-ayat al-qur’an. Aku memilih untuk membaca surah Ar-Rahman. Tak tau bagaimana, tiap kali aku membacanya, yang aku rasakan hanyalah nikmat yang telah Allah berikan padaku sungguh sangat banyak, melebihi cukup. Fabiayyialaa irobbikuma tukadziban. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan? Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Hujan yang semula deras dibarengi dengan suara petir yang menggelegar berkali-kali kini berganti hujan gerimis saja. Suara rintik hujan terdengar berirama. Di sela-sela aku mendengar rintik hujan, aku mendengar pula suara lantunan ayat suci al-quran. Suaranya sangat merdu, terdengar sangat bersahaja. “Shodaqallahul adziim..”, ucapku sambil mengusapkan al-quran pada wajahku lalu kututup. Kembali aku menundukkan kepala dan memejamkan mata. Menyimak bacaan al-quran seorang lelaki yang entah dari mana asal suaranya. Buat tenang hati, tentram rasanya. Astaghfirullah, karena terlalu fokus mendengarkan lantunan ayat demi ayat yang dibaca oleh lelaki asing itu, aku jadi tidak sadar jika hujan telah berhenti. Segera aku keluar masjid dan pulang.
Pagi ini sangat cerah, hawanya sejuk. Burung-burung bernyanyi seolah bernada namun mereka saja yang tahu ritmenya. Aku berjalan di koridor fakultas, menuju mushola. Jam tanganku menunjukkan pukul 06.30. Masih ada waktu 30 menit untukku bercerita dengan Allah, berharap setiap langkahku hari ini diridhoi oleh Allah. “Assalamualaikum warahmatullah..”, suaraku lirih ketika salam di akhir sholat dhuha. Suasananya hening. Maklum, biasanya para mahasiswa datangnya mepet dengan jam masuk, dan terlebih jarang sekali ada yang masuk mushola, mungkin hanya lewat saja. Tiba-tiba ada yang memecah keheningan, suara lantunan ayat suci al-quran. Sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Ah iya!! Ini seperti suara lelaki asing yang pernah kudengar di masjid Al-Hikmah. Persis sekali suaranya, aku tidak salah mendengar.  Tidak terasa jam menunjukkan pukul 06.50, itu berarti kurang 10 menit lagi kelasku akan dimulai. Bersamaan dengan aku memakai sepatu, sosok lelaki itu pun keluar. Aku sempat melihat wajahnya sebelum dia bergegas menuju kelas. Wajahnya asing, aku belum pernah bertemu sebelumnya. 
Bagiku, semester tiga adalah masa dimana para mahasiswa mulai menggali potensi dan mencari pengalaman seluas-luasnya setelah dua semester ia menyandang gelar mahasiswa baru. Aku dan kawanku Riri pun begitu. Kami mencari pengalaman-pengalaman baru dengan mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM). Tapi pilihan kami berbeda, aku mengikuti unit kegiatan mahasiswa kerohanian (islam) dan dia mengikuti unit kegiatan mahasiswa kajian dan penelitian. Oh iya, sedikit gambaran tentang Riri. Dia yang berasal dari Bojonegoro ini adalah kawan sekelompokku kala ospek dulu. Dan kini kami juga satu kost an. Berangkat dan pulang kuliah kami sering bersama. Terkadang aku yang nebeng dengannya atau sebaliknya. Suatu saat, ketika kami akan pulang kuliah, dia mengajakku ke taman tengah di fakultas kami. Dia bilang padaku jika masih akan berkumpul dengan teman seUKMnya. Dan itu berarti membuatku harus menunggu hingga urusannya Riri selesai. “Tunggu sebentar ya, sini aja. Jangan jauh-jauh. Nggak akan diusir juga sama teman-temanku. Sebentar lagi mereka kesini, habis selesai kelas mereka.”, ucapnya. “Emang kamu mau ada acara apa sih kok kumpul?”, tanyaku. “Ini mau ada kegiatan penyuluhan gitu. Cuma tiga orang sih perwakilan angkatanku yang ditunjuk. Aku, si Bila temen kostnya Putri, sama si Radhi.”, jawab Riri. Dari kejauhan Riri melambaikan tangan kepada dua teman UKMnya itu. Aku turut melihat ke arah dua temannya itu. Aku kenal dengan si Bila. Namun lelaki yang di sebelahnya itu dilihat dari posturnya seperti lelaki yang kapan hari bertemu di mushola dan masjid Al-Hikmah. Mereka mulai mendekat ke arahku dan Riri. Benar saja! Itu lelaki yang pernah kudengar lantunan suaranya yang merdu. “Ayo sini duduk. Radhi belum kenal sama Lia ya? Kenalan dulu gih”, perkataan Riri yang sontak buatku kaget dan mengernyitkan dahi. Tidak lama lelaki itu mengajakku bersalaman. “Kenalin Radhi Gemilang, biasanya sama anak-anak dipanggil Radhi aja sih”, kata lelaki itu sangat hangat. “Iya Radhi, kenalin aku Alya Zahira. Alya aja manggilnya. Lia itu cuma panggilannya Riri ke aku, hehe”, balasku. “Oh iya, si Radhi ini anak LDK univ li, jadi kalo UKM mu mau ngundang anak LDK, bilang aja ke Radhi hahaha.”, canda Riri padaku yang membuat Radhi sedikit tertawa. Setelah satu jam berlalu, akhirnya selesai juga urusan Riri dan kami pun pulang.
Usai berkenalan dengan Radhi kala itu, aku makin sering melihatnya di kampus. Tak jarang pula kami bertegur sapa saat berpapasan. Suatu ketika aku meminta nomor telpon Radhi pada Rara karena kepentingan UKM. Mulai saat itu, kami juga sering berbalas pesan. Ya memang hanya sebatas keperluan kami saja, tidak lebih. “Ting ting”, telepon genggamku berbunyi menandakan ada suatu pesan masuk. Ternyata dari Radhi. Ia mengirim gambar berupa poster yang judulnya “Majelis Sholawat Al Hikmah”. Lalu ada pesan pesan lagi darinya, “Ayo Alya ikutan, ajak juga temen-temennya ya besok Kamis ba’da sholat isya’ di Maasjid Al Hikmah”. Saat melihat pesan itu, bibirku refleks tersenyum riang. Segera kubalas pesan dia, “Iya insyaAllah ya, terimakasih informasinya Radhii. Akan kuajak teman-teman”. Sejauh aku mengenalnya, bagiku Radhi berbeda dengan lekaki-lekaki pada umumnya. Dia sangat baik dan hangat kepada siapapun. Tutur katanya yang selalu sopan dan halus, pandai,  pembawaannya selalu bijaksana, dan wajahnya selalu teduh, tidak pernah aku melihat dia bermuka masam. Dan aku memandang dia sangat menghargai perempuan.Di samping suaranya yang merdu saat melantunkan ayat suci al-qur’an, mungkin beberapa hal yang kusebutkan tadi adalah poin plus dari Radhi yang membuatku kagum dengan dia. Iya benar, ada perasaan lain saat aku menerima pesan darinya. Hatiku seakan-akan bergetar, tapi segera kuberucap, “Astaghfirullah..”
Keesokan harinya, tibalah malam berlangsungnya kegiatan majelis sholawat di Al Hikmah. Akhirnya aku mengajak Riri untuk pergi kesana karena kawan-kawan UKM ku ada jadwal kuliah di waktu yang sama. Masjid Al Hikmah mulai dipenuhi jamaah baik laki maupun perempuan. Usai sholat isya’ berjamaah, dimulailah kegiatan sholawatan bersama. Shaf lelaki dan perempuan tetap ada sekatnya. Jadi, aku tidak tahu apakah Radhi datang atau tidak. Tidak masalah pun bagiku apabila Radhi tak datang. Sholawatan pun dimulai. Ada suara lelaki yang memimpin. Suara rebana, bass, ketipung, dan tumbuk mulai terdengar dibunyikan bersamaan. Alunannya terdengar sangat bersemangat dan membentuk suatu harmoni. Iringan yang membuat hati kami bersemangat, membuat rindu kami kian membuncah pada Baginda Nabi Rasulullah. “Assalamualaika yaa yaa Rasulallah, assalamualaika ya habiibi, ya nabi Allah..” Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan suara lelaki yang sedang memimpin kami membaca sholawat. Iya, ini suara Radhi. “Li, ini suara Radhi nih”, bisik Riri padaku. Lantunan sholawat yang dilafadzkan terdengar sangat lantang. Wajah kami sangat bahagia menyuarakan bait per bait sholawat. Hati rasanya menjadi tenang dan tentram. Malam itu, aku merasakan seakan-akan ada ribuan malaikat yang menghadiri majelis sholawat itu. Hingga tiba pada penutup, kami semua saling berjabat tangan dan saling melemparkan senyuman. Apa yang barusan kami lakukan nyatanya cukup dapat membayar rasa kerinduan kami pada Rasulullah, masyaAllah.
Sepulang dari Masjid Al Hikmah saat sampai depan kamar kosku, aku mendapat pesan dari Radhi, “Tadi Alya dateng?”. “Iya dateng. Tadi yang mimpin sholawatannya kamu kan?”, jawabku sembari mengetik dan tersenyum. “Hayo pesan dari Radhi yaa. Senyum-senyum bae”, kata Riri yang tiba-tiba berada di sampingku. Telepon genggamku berbunyi kembali, ”Iya itu aku hehe.”
”Pantesan nggak asing sama suaranya.”
”Eh iya gitu? Hehe”
”Iya bagus suara Radhi. Request nih LDK jangan ngadain sekali aja. Kalo bisa rutin.
Bagus kegiatannya sangat bermanfaat.”
”Iya insyaAllah mau diistiqomahkan. Kamis depan ada kajian dari ustad ibu kota Al.
Boleh dateng, gratis”
”Wiih, matap. insyaAllah deh dateng kalo nggak ada kegiatan lain. Makasih Radhi
informasinya yaa..”
Bermula dari kegiatan majelis itu, Radhi sering mengirimkan kegiatan-kegiatan di Masjid Al Hikmah padaku dan meminta tolong padaku supaya menyebarkan kegiatan itu pada teman-teman yang lain. Pertemanan kami hanya sebatas itu, tidak lebih. Dan mungkin malah akuyang sebetulnya berlebihan dalam menanggapinya. Tidak bisa berbohong, memang pada saat menerima pesan dari Radhi jantungku berdegup kencang, tanganku keringat dingin, dan membalas pesannya pun butuh waktu bermenit-menit supaya pesan yang dikirim itu nggak sembarangan. Penilaianku terhadap Radhi saat awal berkenalan hingga akrab sampai saat ini masih sama. Sosoknya ini memang sangat idaman menurutku. Bahkan mungkin ibuku bila kuceritakan tentang Radhi pun akan mau punya mantu sepertinya, hehe. Hush, apa-apa an ini pikiranku, astaghfirullah.
Sudah tiga minggu lamanya aku dan Radhi tidak pernah saling bertukar pesan. Dari awal aku memang berusaha agar tidak memulai duluan jika memang itu bukan suatu kepentingan yang akan dibahas. Saat aku membuat status pun dia tak pernah berkomentar lagi, hanya dilihat saja. Tiga minggu terakhir ini pun Radhi sama sekali tidak pernah membagikan jadwal kegiatan di Al Hikmah. Padahal, aku sendiri tahu bahwa kegiatan rutin di Al Hikmah itu tetap berjalan. Dan aku tetap datang walau tanpa pemberi tahuan darinya. Lamunanku saat berbaring di atas kasur pun terpecah gara-gara ada yang mengetuk pintu kamar kostku. “Lia!! Aku ada berita nih buat kamu. Aku mau cerita.”, suara Riri mengagetkanku dan membuatku penasaran. Saat kubuka pintu kamarku, wajah Riri seperti mengisyaratkan akan ada kabar yang kurang baik untukku. Aku mempersilahkan dia bercerita. “Jadi gini, Li. Nggak tahu sih ini kabar penting atau nggak buat kamu. Aku tahu kamu suka sama di Radhi. Kamu kenal sama Ariani Safitri nggak? Panggilannya Ani.”, tanya Riri. Aku kenal Ariani Safitri alias Ani ini. Aku pernah sekelompok dengannya entah saat mata kuliah apa. Kenal namun tidak akrab. Orangnya sangat baik dan penuh pengertian. “Nah, dia seUKM sama aku. Waktu aku ke sekret tadi, aku melihat ada dia dan Radhi disana. Dan obrolan mereka pun sangat intens menurutku. Tapi, awalnya aku juga menganggap itu hal biasa, Li. Mereka Cuma bicara-bicara gitu walau aku juga nggak dikasih celah untuk nimbrung sama mereka. Sampai pada akhirnya si Bila dateng. Dan kata-katanya dia ini membuat aku kaget beneran deh.”, jelas Riri panjang lebar. “Bila bilang apa emangnya, Ri?”, tanyaku. “Kamu tarik nafas dulu ya. Siapkan hati dan pikiran yang dingin saat kamu menerima penjelasanku ini.”, kata Riri yang sejujurnya makin buatku tak tenang. “Si Bila masuk nih kan ke sekret. Kan ngelihat ada si Radhi sama si Ani. Dia terus bilang gini, ‘Sudahlah pacaran saja kalian ini. Sudah deket pula dari dulu. Gimana Radhi nih nggak ada action sama sekalipun padahal Ani kulihat selalu beri kode ke kamu’ aku beneran kaget Li waktu Bila bilang gitu. Dekat? Sejak kapan coba? Terus tanggapan mereka berdua cuma tersenyum dan tertawa gitu. Geli aku yang lihat.” Aku tarik nafas sedalam-dalamnya, sesak dadaku mendengar pernyataan itu. Wajahku merautkan muka ‘sok’ tegar menerima penjelasan itu. Apakah ini alasan Radhi tidak pernah menghubungiku lagi? Tenyata ada Ani bersamanya sekarang. Mungkin dia tidak bertukar pesan denganku karena ingin menjaga hatinya Ani. Semua asumsi buruk keluar begitu saja dari pikiranku. “Sudah jangan sedih dulu. Kita perlu tahu lebih lanjut, jangan suudzon yang nggak baik dulu ke Radhi, Li. Kita perlu bukti lagi buat lebih yakin.”, kata Riri menenangkanku dengan menyeka air mataku. Ternyata aku menangis. Selemah itu diriku saat tahu kabar itu. (berlanjut...)


16 Maret 2019, pukul 19.00-19.45
Siapa sangka itu pertemuan terakhir kita, Mbak Fi? Nggak ada sedikit pun terlintas di pikiranku jika itu adalah pertemuan terakhir. Jujur, sampe sekarang aku masih dipenuhi rasa penyesalan. Andai saja tau, mungkin aku tidak akan beranjak dari rumah sakit.. 😢

Dateng ke rumah sakit sama Reshi dan Mumun. Masuk kamar rawat inapmu dan kami disambut sama utimu dan Mbak Nanda. Awalnya kamu masih tidur, Mbak Fi. Kami berbicara dengan uti dan Mbak Nanda tentang bagaimana kondisimu. Sejauh yang kudengar kamu baik-baik saja dan sedang menjalani puasa sudah 4 hari. Selang beberapa menit, kamu membuka matamu dan memandang ke arah kami. “Mbak Fii..”, panggilku. Mbak Fi liat ke Amal ya? “Mau bilang apa Mbak Fii?”, tanyaku. Matamu berisyarat, mau bilang sesuatu tapi tidak bisa kamu lontarkan lantaran kamu masih lemas, iya kan? Tapi aku merasa, kamu mau bilang sesuatu pada kami.

Dipandang wajah kami satu persatu. “Mbak Fii ngantuk?”, kamu menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Mbak Fi dengerin kan ya waktu aku, Reshi, sama Mumun ngobrol? Amal sempet ngajak kamu nonton Dilan kan? :’) Terus Amal juga sempet mau belikan kamu kipas portable yang bentuknya hello kitty tuh, kan kamu sukaa..

Tanganmu sempet juga takgenggam. Kamu menatapku sarat akan makna. Apa yang mau diucapkan, Mbak Fi? Aku masih bertanya-tanya. Dan bahkan pertanyaanku masih belum sempat terjawab sampai sekarang. Cukup lama dan tak terasa kamu kembali memejamkan matamu lagi.

“Mbak Fi yang kuat ya, cepet sembuh. Kalo ndak sibuk, Amal kesini lagi. Pulang dulu ya Mbak Fi..” itu kalimat terakhirku yang mungkin kamu dengar. Empat puluh lima menit saja. Dan malam itu juga aku sudah merencanakan minggu depan akan mengunjungimu lagi. Tetapi Allah berkehendak lain, ternyata rencanaku hanya sebatas rencana, tak bisa terlaksana. Ini penyesalan terbesarku sampai sekarang. Begitu sebentar pertemuan terakhir kita 😢

18 Maret 2019 Pukul 09.00
Hapeku tak biasanya berdering terus-menerus menandakan banyaknya pesan masuk. Tiga menit masih kubiarkan karena aku masih bersiap-siap ke kampus. Sebelum berangkat, aku sempatkan melihat notification whatssapp. Semua chat isinya “Innalillahi wa inna ilaihirojiun”. SIAPA? Ada juga beberapa panggilan tak terjawab dari teman-teman. APA MAKSUDNYA INI?

Sekujur tubuhku mendadak lemas. Aku memilih duduk sebentar di tempat tidurku. Menghadap ke kaca dan bertanya, “Benarkah? Ini mimpi kan?” tak terasa air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja. Sepanjang jalan menuju kampus pun air mata ku masih tak berhenti mengalir. Allah, aku tidak siap dan tidak kuat membuka pesan dari teman-teman. Kabar ini tidak ingin kuterima rasanya. Aku belum bisa percaya.

Mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Mbak Fi, aku belum bisa terima. Kamu pergi terlalu cepat. Tapi di satu sisi aku sedikit lega, kamu tidak merasa kesakitan lagi. Pernah saat aku mengunjungimu bersama Umik, Reshi, Mumun kamu bilang “Pegel..” Terus minta dipijetin sama ayah ya? Sekarang udah nggak pegel lagi kan Mbak Fi?

Hari Ini
Aku sudah mulai bisa ikhlas dan menerima. Walau mungkin jika tiba-tiba inget ya masih suka nangis 😢Mbak Fii, aku pengen bilang minta maaf kalo selama ini Amal masih belum bisa sepenuhnya jadi sahabat yang baik. Maaf Amal banyak salah dan kurangnya selama ini sebagai sahabatmu..

Mbak Fi terlalu baik buat Amal. Tiga tahun duduk bareng terus dan selalu di depan. Mbak Fi yang tau betul kalo Amal suka ngantuk pas pelajaran, terus dijiwit biar nggak ngantuk lagi 😣Siapa yang selalu bantu Amal kalo ulangan bahasa Inggris? Siapa yang mesti nemenin Amal ke kantin, ke Mbak Gin, ke kamar mandi? 😢Siapa yang sering takpamiti ke Babussalam tiba-tiba pas jam pelajaran?

Dari tanggal 18 Maret kemarin hingga kini, aku lebih sering memutar memori-memori lampau. Jadi, Ramadhan kemarin adalah Ramadhan terakhir kita bareng-bareng ya? Maaf Mbak Fi sempat kutinggal 😢Terus, kamu masih inget ndak liburan semester 2 kemarin kita ke Taman Safari? Aku inget itu kita kesananya bulan Juli, karena kamu ulang tahun akhirnya dapet potongan tiket masuknya. Sekarang aku semakin tersadarkan, bahwa pertemuan kita dengan orang yang kita sayangi sebentar ataukah lama pasti punya makna.

Semua hal baikmu masih terekam di memoriku. Padahal Mbak Fi tau sendiri kan kalo Amal ini pelupa. Tapi semua hal baik darimu nggak pernah taklupain, Mbak Fi. Yang ngasih tau Amal caranya ngedirijen, nyanyi-nyanyi walau kamu tau sebenere suaraku kalo dibanding suaramu ya bagai langit dan bumi 😢Tapi Mbak Fi mesti ngasih tau yang bener tu nadanya gimana. Ya meski Amal tetap saja fals suaranya. Kamu wes paham 😢

Maaf Mbak Fi kalo selama kuliah Amal nggak pernah bilang rindu ke kamu. Padahal ya rindu, pengen ketemu 😢 Cuma aku ndak pengen ganggu kegiatanmu 😢Mesti kamu dulu yang chat terus bilang rindu. Maaf Amal emang kurang ekspresif. Tapi makasih Mbak Fi kamu sudah paham dari dulu. Mesti Mbak Fi dulu yang peka huu 😣

Sudah Mbak Fi. Aku terlampau sedih mau ngelanjutin nulis ini😢Yang jelas Amal hanya ingin bilang makasih Mbak Fi sudah mau-maunya berkenalan sama Amal dulu pas awal masuk SMA. Makasih sudah ngajarin Amal berbagai macam hal yang sampe sekarang juga masih takinget. Beribu-ribu maaf dari Amal karena kekurangan yang kumiliki. Doa-doaku selalu yang terbaik untuk Mbak Fia, dari dulu dan akan sampai kapanpun. Semoga kita dipertemukan di surga-Nya kelak, aamiiin..

Dari Amal yang masih merasa kamu ada...  


Assalamualaikum teman-teman! Sesuai janji saya di artikel sebelumnya, sekarang saya mau ngelanjutin nih cerita keseruan mengikuti blogging class bersama Blogger Jember Sueger. Silakan disimak..

9 Februari 2019 at NOG
Kelas baru saja dimulai sekitar pukul 12 siang dikarenakan kami harus menunggu teman-teman yang datang terlambat karena ada kepentingan yang lebih diutamakan. Sembari menunggu, kami dipersilakan untuk memesan makanan atau minuman dulu. Mungkin tujuannya agar nanti waktu materi kami sudah dalam kondisi tidak lapar dan haus sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik ya 😏

Materi pertama diisi oleh Agus Setiawan a.k.a Mas Suga. Materinya tentang Menulis Konten Kreatif. Kreatif sendiri berarti “beda dari yang lain” dan dapat dijadikan sebagai personal branding kita. Konten yang kreatif sendiri diantaranya memuat beberapa hal, yakni: informatif; keren; menghibur, dan unik.

Selama materi berlangsung, kami diberikan sedikit tips bagaimana menulis konten yang kreatif itu. Saya banyak menganggukkan kepala aja sih. Pelan-pelan memahami dan menyadari bahwa sejauh ini sepertinya tulisan saya masih jauh dari kata kreatif. Ya ya ya ke depannya semoga bisa diperbaiki..

Satu kutipan yang sangat berkesan pada saya di materi ini adalah, “Pengalaman adalah tulisan yang paling baik”. Kalo dirasa-rasa emang bener ya. Pengalaman ini kan sesuai dengan apa yang kita alami. Tulisannya pasti orisinil tanpa bumbu-bumbu fiksi, ya kan? 

Sejauh ini alhamdulillah postingan-postingan saya mayoritas adalah berdasarkan yang saya alami sendiri tanpa bumbu fiksi, yeay! Tapi, tidak menutup kemungkinan tulisan yang bukan berdasarkan pengalaman hasilnya juga akan bagus dan menarik untuk dibaca. Semua tergantung pada kondisi dan sudut pandang kita masing-masing.

(Saat materi berlangsung)

Materi berikutnya nih tentang Menulis SEO dan pematerinya adalah Mas Vadil. Di tengah hari yang cukup terik, materi ini lumayan bikin saya makin gerah wkwkwk. Pasalnya saya menemui cukup banyak kata-kata baru pada materi ini, misalnya: SEO internal; SEO eksternal, webmaster, search engine, dsb. Mana baru saya dengar, butuh waktu lama juga untuk saya memahaminya, beginilah wujud nyata dari kinerja otak saya. Benar-benar dari nol sih untuk belajar materi ini 😅

Usai materi Menulis SEO, kita dipaparkan dengan materi Merawat Blog. Kali ini pematerinya Mbak Prita HW! Pada materi ini, Mbak Prita memberikan 10 tips cara agar blog kita tetap eksis, salah satu diantaranya adalah ubah domain menjadi TLD (top level domain). Iya, sampai saat ini domain saya belum TLD.

Saran Mbak Prita kepada kami waktu itu adalah, “Segera ganti domain kalian”. Sampai saat ini masih saya pikirkan untuk impact ke depannya bagaimana. Apakah saya bisa komitmen? Nah itu yang masih saya pertimbangkan. Mungkin ya seiring berjalannya waktu, targetnya tahun ini, hehe. Bismillah, mohon doanya teman-teman. 

Oh iya, tambahan nasihat dari Mbak Prita yakni untuk rutin melakukan Blog Walking (BW). Di samping untuk menambah koneksi dan relasi, BW ini juga berguna untuk naikin DAPA. gitu kalo nggak salah sih. Semakin tinggi DAPAnya, berarti semakin bagus, iya gitu ._. Sampai sekarang saya belum pernah BW sih. Tapi ke depannya, kalo ada waktu senggang insyaAllah akan saya sempatkan 😁

Berikutnya, dan materi yang terakhir adalah tentang Monetize Blog. Materi pamungkas ini dipaparkan oleh Mas Ilham Sadli dan Faisol Abrori. Materi terakhir dan materi yang terbilang cukup memeras otak saya setelah materi menulis SEO tadi. Materinya menarik sebenarnya. Karena memang ini adalah salah satu komponen yang penting dalam dunia blog.

Saya juga mendengar kata-kata yang mulanya cukup asing bagi saya tetapi ternyata kata-kata tersebut erat kaitannya dengan dunia blog, misalnya nih: DA, PA, SMSC, dan apalagi ya, lupaa.. Tetapi saya yakin, jika sudah tahu dan memahami, pasti akan bisa senang dengan materi ini. Berhubung saya ini sangat newbie sekali ya, jadi harus mempelajari lebih giat lagi nih.


Thank you and let’s do it!

(Pertemuan pertama dan kedua)

Alhamdulillah rangkaian pelatihan blogging classnya udah selesaii. Tapi sedih juga, bagi saya tiga kali pertemuan masih sangat kurang huhuu. Di samping itu, saya sangat bersyukur sih bisa diberi kesempatan mengikuti pelatihan ini. 

Saya merasa banyak nambah ilmu baru, wawasan baru tentang aktivitas blogging, punya teman-teman baru dengan passion yang sama. Terima kasih komunitas Blogger Jember Sueger yang telah menyelenggarakan kegiatan ini..

Sepertinya mulai detik ini saya merasa punya tanggung jawab moril /eh apa sih untuk merawat blog saya. Blog ini sudah saya besarkan sejak lama, tapi sejak lama juga saya tidak berusaha untuk mengembangkannya. Mungkin setelah ini saya akan berusaha untuk rajin posting. Kata Mbak Prita, setidaknya sebulan sekali dulu, lalu dinaikin dua minggu sekali, seminggu sekali, sehari sekali WAWW! 

Semoga dari sini perjalanan panjang saya bisa dimulai. Kemana destinasinya? Belum tau, mau jalanin aja dulu. Yang jelas, blog ini akan menjadi wadah dari karya dan ide-ide saya ke depannya /beraatt #amalmulaiproduktif

Untuk komunitas Blogger Jember Sueger, semoga ke depannya komunitas ini makin sukses, makin dikenal, dan makin meluas, aamiiin. Terima kasih Mbak Prita dkk sudah membuat komunitas bloger di Jember! Semoga ke depannya terus dapat menjalin silaturrahmi, yeayy! 😉

"Berakhir untuk memulai? Mengakhiri blogging class dengan membawa bekal ilmu baru. Perjalanan panjang baru akan dimulai!"

Assalamualaikum teman-teman! Di kesempatan kali ini saya mau berbagi cerita sedikit nih ke kalian. Di akhir bulan Januari lalu alhamdulilah saya diberi kesempatan untuk mengikuti “Pelatihan Blogging” yang diadakan oleh komunitas Blogger Jember Sueger. Awalnya saya iseng nih buka time line di facebook saya. Tetiba ada postingan gitu dari Blogger Jember Sueger. Isinya tuh mau diadakan pelatihan blogging. GRATIS!! Saya yang liburannya hanya di rumah saja, tanpa berpikir panjang segera mendaftarkan diri. “Eh tapi kursinya terbatas.” Awalnya agak pesimis. Tapi nggak papa nyoba daftar dulu siapa tau kepilih. Semoga saja kepilih ya Allah. Udah itu aja doa saya :’)


20 Januari 2019
Tidak berkegiatan di kampus membuat saya lebih sering berselancar di dunia maya. Pada malam itu saya buka timeline instagram nih. Ada postingan terbaru dari @bloggerjember. Waktu saya lihat ternyata pengumuman siapa saja yang lolos untuk mengikuti Blogging Class. Alhamdulillah ada nama saya “Amalia Zulfa” yang berarti saya diberi kesempatan oleh Allah untuk menambah ilmu di dunia blogging eaa. 


22 Januari 2019
Selang dua hari, saya mendapatkan notif gmail. Saat saya buka, wah ternyata dari Blogger Jember Sueger dengan subjek “Selamat! Kamu terpilih untuk mengikuti Blogging Class dari BJS”. Jujur saja ini pengalaman pertama saya untuk mengikuti Pelatihan Blogging. Udah pertama kali, GRATIS pula. Kan mantap betul dan paten kali tuh. Dalam pesan tersebut juga diberi tau jadwal pelatihannya. Dibagi menjadi 3 pertemuan, yakni pada: 26 Januari 2019; 2 Februari 2019; 9 Februari 2019. Di samping itu, kami yang menerima pesan tersebut dianjurkan untuk membalas sebagai bentuk komitmen para peserta yang terpilih untuk dapat mengikuti pelatihan selama tiga pertemuan.

26 Januari 2019 at Famato
Pertemuan pertama kami, para peserta dan kakak-kakak narasumber yang kece dari Blogger Jember Sueger (BJS) kiranya pukul setengah sebelas siang. Kelas diawali dengan perkenalan yang dipandu oleh Mbak Prita HW. Satu persatu dari kami mengenalkan diri dan bercerita bagaimana awal kami punya blog dan mengapa kami mengikuti pelatihan blogging ini. Singkat cerita, langsung masuk pada materi pertama nih tentang Mengenal Dunia Blogging dan Manfaatnya yang dibawakan oleh Mbak Prita sendiri. Pada materi ini dijelaskan apa perbedaan portal, website, blog. Saya menyimpulkan secara garis besar, diantara ketiganya portal ini yang paling gede cakupannya karena isinya paling beragam. Portal ini ibarat wadah teman-teman untuk menulis /apasih. Jadi kalo di portal itu penulisnya pasti lebih dari satu. Gitu. Berikutnya ada website. Website ini biasanya bersifat formal, pemiliknya sih bisa personal ataupun lembaga, instansi, bahkan organisasi. Dan yang ketiga yang paling sederhana yakni blog. Blog ini bersifat informal, pemiliknya kebanyakan sih personal dan kontennya berisi cerita-cerita si pemilik maupun penulisnya. Ya kek blog ini deh. Selanjutnya kami juga dijelaskan apa saja manfaat dan tujuan mempunyai blog. Disela-sela materi, Mbak Prita bercerita tentang pengalamannya dalam dunia blogging. Jujur sih, menurutku keren sekalii.. Mulai dari pengalamannya Mbak Prita bertemu dengan blogger-blogger keren, prestasinya di bidang kepenulisan, dan masih banyak lagii. Bukan kaleng-kaleng deh..

Setelah materi pertama selesai, kini dilanjutkan materi kedua. Materi kedua diisi oleh kakak kece yang lainnya nih yakni Kak Vindy. Kak Vindy ngasih ilmu ke kita bagaimana membuat desain blog yang baik. Kami diberi tips bagaimana memilih template yang bagus, cara menentukan font tulisan yang menarik bagi pembaca. Terus kami juga diberitahu setiap tulisan harus nyaman dibaca, setidaknya ada 300 hingga 1.500 kata. Tidak terlalu pendek pun tidak terlalu panjang. Foto atau cover juga harus menarik dan rapih. Kalo buat sendiri, usahakan tidak asal-asalan. Begitu. Dan saya sekarang sedang belajar akan hal itu, huhuu. Oh iya, dan satu lagi yang saya anggap sangat penting dipunyai oleh blogger tetapi selama saya punya blog saya belum mempunyai bahkan menentukan hal itu. Apa hayo? Menentukan niche. Atau bahasa ringannya itu kategori. Iya, sebelum mengikuti kelas blogging ini blog saya tidak berkategori. Campur-campur gitu postingannya saya tidak pernah dikotak-kotakkan.

Dari pertemuan pertama, kami diberi tantangan untuk memperbaiki template, memberi favicon (logo blog), dan menentukan niche. Sebelum mengikuti pelatihan ini, template saya masih memakai bawaan dari blognya sendiri. Dan ya emang betul, kurang menarik, harus diakui wkwkwk. Tapi setelah tau dan punya keinginan besar untuk merubah tampilan, alhasil blog saya tampilannya ya seperti sekarang ini. Lebih menarik dan elegant. Alhamdulillah sesuai dengan yang saya inginkan T.T selain menggunakan template yang lebih bagus (tentunya karena bukan bawaan lagi, hehe), blog saya kini sudah dilengkapi dengan beberapa kategori. Tiap postingan saya sudah saya beri label agar mempermudah saat teman-teman melakukan pencarian tulisan saya. Gitu. Untuk favicon, dari sebelum mengikuti kelas blogging ini blog saya sudah punya favicon. Tapi setelah melihat favicon orang-orang (siapa maksudnya nih) saya jadi berkeinginan untuk mengganti favicon saya. Menurut saya, lebih bagus sih dari sebelumnya. Teman-teman boleh berpendapat berbeda dengan saya, silakan. 


2 Februari 2019 at NOG
Pertemuan kedua di tempat yang berbeda dan waktu yang berbeda. Sekarang lebih sore, antaranya jam setengah lima kelas baru dimulai. Kali ini kami mendapatkan materi tentang Fotografi Blogging dengan pematei Aa’ Nana yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami dari Mbak Prita. Materinya sangat mantap. Kami dikenalkan dengan istilah-istilah dalam dunia fotografi seperti diafragma, shutter speed, dan ISO. Kami juga diberi tahu bagaimana memilih angle yang bagus. Jujur saja, bagi saya fotografi itu cukup sulit, ada seninya sendiri. Tanpa berlatih dan tau ilmunya, ya pasti hasil fotonya akan tidak sebagus yang paham dan mengerti ilmunya. Dalam dunia fotografi, semua hal diatur dengan komplit pokoknya deh. Oh iya, kalo hanya tau teori tetapi nggak pernah praktek ya sama aja sih. Jadi, setelah tau teori garis besarnya, kami semua ditantang untuk mencoba mengambil foto saat kelas berlangsung. Foto terbaik yang saya ambil sepertinya hanya yang ada pada cover blog ini. Sudah diatur gelap-terang, memilih angle yang menurut saya sudah pas, dan saya edit lagi kontrasnya menggunakan aplikasi vscocam. Saya paham betul kalo dalam dunia fotografi saya masih banyak kurangnya. Harus berlatih lebih giat lagi nih!

Usai sholat maghrib, materi pun dilanjutkan dengan materi baru yakni tentang Membangun Personal Branding yang diisi oleh Mbak Prita. Selama dua kali pertemuan dengan empat materi, materi ini sih yang menurut saya paling ngueri. Ada salah satu pernyataan dari Mbak Prita yang sempat saya catat, “Personal Branding itu perlu. Personal Branding menentukan apakah dia sudah beres dengan dirinya sendiri atau belum.” Saya merasa tertampar banget sih dengan kalimat itu. Saya merasa bahwa saya sendiri belum selesai dengan diri saya sendiri. Sedih juga, udah 20 tahun belum bisa bangun personal branding. Selama ini saya ngapain aja ya, miriis wkwkwk. Ada satu lagi quote dari Mbak Prita yang ngena juga ke saya, “Kalo tidak mau dikenal orang ya jangan berkarya”. Membangun kepercayaan diri atas karya yang kita buat kadang juga susah ya. Tapi setelah mendengar quote tersebut, kepercayaan diri saya atas tulisan saya cukup meningkat :D


Setelah saya mendapat tips membangun personal branding dari materi Mbak Prita, saya kini mulai belajar. Melakukan step by step langkah-langkah yang diberikan. Sejauh ini progress saya yakni mengganti nama akun sosial media saya. Saya ratakan semua menjadi “amaliazlfp”, mulai dari twitter dan instagram saya. Bahkan saya bikin akun gmail baru. Membuat portofolio saya dengan narasi saya yang masih butuh banyak pengalaman lagii. Teman-teman bisa lihat di tentang saya. Saya berharap ke depannya saya akan selalu bisa mengupgrade pencapaian-pencapaian saya, aamiiin...




9 Februari 2019 at NOG
Hari ini dimulai dari jam 11 siang adalah kelas terakhir kami, yaaahh :’) akan ada empat materi yang dipaparkan diantaranya: Menulis konten kreatif; Menulis SEO; Monetize Blog; dan Merawat Blog. Saya penasaran banget dengan materi-materinya. Seperti apa garis besar materinya ntar? Bagaimana kesan saya setelah mengikuti blogging class bersama Blogger Jember Sueger? insyaAllah akan saya ulas di part dua setelah artikel ini. Terima kasih teman-teman yang mau-maunya membaca, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Powered by Blogger.