Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Sumber: unsplash.com

“Mal, aku pengen donor darah tapi takut lihat darahku diambil”

“Aku pengen banget donor, tapi tensiku selalu rendah. Jadi gabisa deh”

“Berat badanku masih di bawah 45kg, belum bisa kan ya donor darah?”

Sering sekali saya mendengar kalimat itu dari kawan-kawan setelah mendengar cerita saya habis donor darah. Banyak yang ingin, namun masih terhalang dengan kekhawatiran yang ada di pikiran mereka. Pun sama dengan saya dulu, sebelum pada akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba saat  merasa siap.

Saat SMP, saya mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR). Kami diajarkan bagaimana memberikan pertolongan pertama pada berbagai macam korban, bagaimana merawat kesehatan dan lingkungan dalam keluarga, mitigasi bencana alam, dan masih banyak lagi. Satu materi yang saya ingat dan saya senang adalah materi DORAS (donor darah sukarela).

Kami pernah diajak ke kantor PMI (Palang Merah Indonesia) di kota kami untuk melihat bagaimana melakukan donor darah. Senang rasanya melihat ada orang yang mau dengan senang hati menolong orang lain yang mungkin juga bahkan tidak ia kenal. Saat itu, usia kami belum diperbolehkan untuk donor darah. Kami hanya diperbolehkan untuk cek golongan darah kami. Saat kecil, saya termasuk anak yang rentan sakit dan beberapa kali hingga rawat inap. Cek lab untuk diambil darahnya bukan jadi hal yang menakutkan lagi buat saya. Infus dan suntik seakan-akan sudah menjadi kawan baik, bukan lagi monster jahat, haha. Akhirnya, saya pun kebagian juga diambil darahnya saat itu. Saya jadi tahu bagaimana petugas mengambil darah kemudian mencampur entah itu larutan apa, kemudian dimasukkan ke pipet lalu diteteskan ke kertas dan menghasilkan warna yang berbeda, tak seperti darah segar.

Sejak saat itu, saya berikrar kepada diri saya bahwa kelak jika sudah mencapai seluruh persyaratannya, saya pasti akan mencoba untuk donor darah. Dan ternyata, hal itu terwujud setelah 10 tahun ikrar itu terpatri di hati saya. Di usia saya yang menginjak 24 tahun, akhirnya saya bisa melakukan donor darah pertama untuk pertama kalinya. Bukan tanpa alasan saya memberanikan diri. Ini juga karena dorongan dari seseorang yang telah menginspirasi saya. Perannya sangat besar hingga pada akhirnya karenanya saya berani melangkahkan kaki sendiri ke Unit Donor Darah (UDD) di Kota Malang.

Sebelumnya, saya juga mendapatkan sebuah kutipan dari seseorang lainnya yang intinya bahwa, “Jika kamu merasa hidupmu tidak berguna, coba lah untuk melakukan donor darah”. Saat itu, kondisi saya nampaknya seperti itu. Merasa krisis identitas, dan bingung menentukan arah langkah tujuan hidup di dunia. Itulah yang mendorong saya untuk membulatkan tekad, “Oh, ini saatnya aku mencoba untuk donor darah”.

Berbagai upaya saya lakukan supaya saat akan mendonorkan darah kondisi fisik saya tetap sehat dan prima. Jam tidur saya ubah lebih awal, beberapa kali saya konsumsi sate kambing (iya, tensi saya seringnya rendah), dan minum air putih lebih banyak dari biasanya. Habbit ini saya bangun dari tujuh hari sebelum saya memutuskan untuk ke UDD. Percobaan pertama, tensi saya ternyata masih rendah dan petugas menyarankan saya balik 3 hari lagi. Selama 3 hari ini, saya disarankan untuk mengkonsumsi tablet penambah darah dan jus yang dapat meningkatkan tensi saya yang rendah ini. Percobaan kedua akhirnya saya dinyatakan bisa melakukan donor darah. Ini kali pertama, rasanya senang dan ada deg-degannya juga, sih hehe.

Saya ditanya mau tangan lengan kanan atau kiri. Memutuskan itu saja bingung, haha. Akhirnya saya memutuskan tangan kiri, dengan pertimbangan tangan kanan saya masih bisa saya pakai untuk scroll sosial media saat lengan tangan kiri saya diambil darahnya. Tapi ternyata, tangan kiri saya tidak pasif begitu saja. Jari-jemari saya disuruh meremas bola supaya darahnya terus mengalir katanya. Proses pengambilan darah kiranya 12-15 menit saja. Saya kira akan lama.

Per tulisan ini dibuat, saya sudah melakukan donor darah sebanyak 3 kali. Kebaikan ini mungkin akan kuteruskan sampai kapanpun, sepanjang badan saya masih bisa memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Ada rasa senang dan lega tersendiri bagi saya setelah saya melihat sekantong darah yang berasal dari tubuhnya. Entah, senangnya bukan main. Seperti merasa, “Oh, sebagian tubuhku masih bisa berguna ya. Aku tetap mau hidup dan bermanfaat untuk orang lain”.

Bagi saya, donor darah bukan hanya sekadar menghibahkan darah kita untuk orang lain. Namun, ada secercah pesan yang Allah titipkan kepada para pendonor darah bahwasannya kita adalah perpanjangan tangan dari Allah untuk kehidupan orang lain yang sedang membutuhkan darah, seorang yang masih ingin hidup dan memberikan manfaat kepada orang lainnya. Donor darah itu panggilan jiwa. Jika memang merasa belum siap, jangan dipaksakan. Tapi, saat dirimu sudah siap, kamu akan menemukan ketentraman yang belum tentu pernah kamu rasakan seumur hidup.

Terakhir, saya pernah membaca kutipan dari seseorang, yang mungkin akan saya pegang seumur hidup saya, “berikanlah hidup yang menghidupi hidup”

 

**sepertinya akan menambahkan list kriteria pasangan: yang bisa dan bersedia untuk diajak rutin donor darah bersama haha

 


Tahun 2023 telah terlewati, namun ada satu tradisi pribadi saya yang masih luput dilakukan. Ya, menuliskan bahan perenungan dan mulai merencanakan resolusi di tahun mendatang. Bagi saya pribadi, tradisi yang sudah ada memang perlu dirawat. Dan dari tulisan ini, di kesempatan kali ini, saya sedang berupaya untuk melunasi tanggungan itu.

Tanggal 16 Desember 2023 melegitimasi usia yang seperempat abad ini. di tanggal tersebut, tidak ada perayaan spesial macam tahun-tahun sebelumnya, pun perayaan kecil-kecilan. Di hari itu bahkan saya sedang mengurus kegiatan organisasi hingga tak tau waktu. Rasanya, sama seperti hari-hari biasa. Ini juga mungkin pada hari itu saya tidak sempat melakukan “tradisi” yang saya maksud.

Banyak sekali pengalaman dan pembelajaran baru yang saya dapatkan di tahun 2023. Sebagai seorang yang sebenarnya tidak begitu punya banyak ruang bebas (menurut saya), bagi saya, dua-tiga pengalaman baru yang memberikan kesan berbeda akan saya anggap itu momentum yang tidak akan saya lupakan. Beberapa momentum itu akan saya uraikan di tulisan ini.

Pertama wabil khusus adalah momentum saat saya menjadi peserta terpilih dari kegitana Critical Agrarian Studies of Indonesia (CASI) ke-IX yang diselenggarakan oleh Agrarian Resource Center (ARC) bulan Juli lalu. Pengalaman selama 7 hari berkegiatan di Sekretariat ARC di Bandung sudah saya tuliskan disini.  Mengapa kegiatan ini berkesan bagi saya, karena ini perjalanan pertama saya melampaui 3 provinsi sendirian di tahun 2023. Selama perjalanan, saya seakan merasa menjadi perempuan yang bebas dan dapat melakukan apa saja sendirian kala itu. Bertemu dan berbincang dengan orang baru tanpa ragu dan malu. Merasakan lingkungan baru dan mendapat teman baru mutlak menjadi hal klise yang akan didapatkan saat kita menggoreskan peristiwa baru di kehidupan. Sekali lagi, bagi manusia yang merasa ruang geraknya terbatas, pengalaman ini tentu akan sangat berharga dan tidak akan dilewatkan oleh dirinya.

Kedua, bergabung dalam organisasi himpunan Forum Komunikasi Magister Ilmu Hukum FH UB. Mengapa berkesan, karena kegiatan-kegiatan di dalamnya yang membuat ruang kuliah dan diskusi saya di masa studi ini jadi lebih berwarna. Saya merasakan kembali atmosfer organisasi kemahasiswaan semasa strata satu dulu. Ya, memang tentu ada yang berubah. Tapi, sifat organik dari organisasi kemahasiswaan beserta problematika di dalamnya tidak jauh berbeda. Perihal sense of belonging dari setiap anggota pengurus menjadi topik pembahasan yang sangat menarik untuk dibahas saat bertemu. Saya dan beberapa teman sering dan intens bertemu dan bahkan kami memiliki satu tempat pilihan yang tidak dapat dibantah, Kopi Jokotole.

Ketiga, perihal satu orang yang menghiasi dari awal tahun hingga akhir tahun 2023. Seorang yang mungkin akan saya simpan sendiri deskripsi personanya. Tapi, yang saya yakini betul bahwa dia adalah orang baik, jika memang dia tidak mau dikata sebagai orang baik, setidaknya di mata saya dia selalu punya keinginan untuk menjadi orang baik. Yang jelas, saya ingin berterima kasih padanya, atas persona dan citra yang dia bagikan melalui media sosialnya, hidup saya di tahun 2023 punya hidup yang menyala. Terima kasih mas. Semoga takdir Allah membawamu untuk bisa lebih tegar, kuat, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat untuk sekitar.

Banyak hal yang wajib untuk disyukuri tahun ini. Nikmat sehat dan nikmat ketersediaan apapun yang dibutuhkan, kehangatan dan keharmonisan keluarga, solidaritas kawan-kawan, hajat baik yang senantiasa Allah kabulkan, segala permasalahan yang menemukan solusinya, tetap konsisten menjadi orang baik di tengah godaan mampu melakukan hal yang tidak Allah senangi.. semua itu karunia Allah yang wajib untuk disyukuri dan dirayakan.

Tahun 2024 sudah berjalan, kita tunggu ya kejutan apa yang akan terjadi di tahun ini. Jangan lupa juga tingkatkan intensitas kita untuk mendekatkan diri pada Allah ya. Bismillah, mari kita sambut tahun 2024, semoga menjadi tahun baik untuk kita semua!

 


Banyak momen yang terlewat di tahun ini. Mungkin ini bukan aku saja yang merasa. Banyak dukanya, keluhnya, letihnya. Ya, kita merasakan hal yang sama. Ada pula yang berjuang mati-matian untuk menggapai inginnya, kemudian bahagia mendapat kesenangannya. Ini yang indah, yang tentunya dinanti oleh semua orang, “Harap yang menjadi nyata, kebahagiaan”. 

Januari, aktivitas masih berjalan seperti biasa. Sudah ada berita virus baru sedang tersebar di Wuhan-China. Asumsi tanpa berdasar, “Ah, gamungkin nyampe Indonesia. Palingan juga sebulan kelar disana.” Jujur sempat berpikir seperti itu. Masih jalan-jalan keluar kota, ketemu sama temen-temen, magang, nyusun kegiatan organisasi untuk satu tahun ke depan, dan masih banyak lagi hal menyenangkan yang dilakukan.

Di penghujung tahun ini, aku sempatkan bercerita tentang kisahku di tahun angka cantik ini (angka kembar=angka cantik). Oke, mari kita mulai dari cerita masa studi. Bagi mahasiswa angkatan 2017, tahun ini udah pasti dilabel sebagai mahasiswa tingkat akhir, dimana sudah punya 3 adek tingkat dan sedang maraknya muncul pertanyaan dari orang lain, “Kapan lulus?”. Pertanyaan yang tentu akan kita jawab dengan jawaban klasik versi kita masing-masing. Saat masih semester muda dulu (hiliih), yang ada di bayanganku saat menjadi mahasiswa tingkat akhir, kita akan menghadapi KKN dan skripsi. Seperti yang kita ketahui bersama, dari bulan Maret sampe sekarang pandemi Covid-19 belum berakhir. New normal membuat beberapa aktivitas kita butuh penyesuaian dengan kondisi. Wajib pakai masker, rajin mencuci tangan, jaga jarak, tidak berkumpul di keramaian, dan masih banyak anjuran lainnya.

Kegiatan di kampus juga dirubah sistemnya menjadi daring. Seminar berganti webinar. Zoom dan google meet menjadi sahabat mahasiswa tiap harinya. Pun ini juga berdampak pada sistem KKN dan skripsi bagi mahasiswa tingkat akhir. Daring semoaaa. Semula ekspektasi KKN akan hidup bersama teman-teman baru dari berbagai fakultas, di tempat terpencil, saling sambat dan bekerjasama menyusun program kerja buat desa. Ehh taunya berubah menjadi KKN mandiri di desa sendiri secara daring. Di rumah, depan laptop, dan pertanggungjawaban secara individu. Ini terjadi di bulan Juli-Agustus. Bener-bener pengalaman hectic. Yang harusnya program kerja digarap 10 orang, KKN kemarin hanya dikerjakan sendirian. Yaa walaupun konsepnya memang sudah berubah. Konsep yang dirancang pusat adalah konsep yang terbaik, yakini itu :D Dari KKN daring aku belajar, edit video itu susah wkwk. Jadi kalo jasa dari videographer dipatok harga cukup tinggi, wajar.. emang susah bund.

Satu hal yang terlewat, semester enam harusnya ada tiga mata kuliah praktik persidangan yang konon katanya, dapat membuat mahasiswa hukum sibuk, bingung membagi waktu, makan tak tentu, tidur tak teratur, memecahkan kasus posisi, nyusun berkas hingga larut malam, gladi untuk sidang semunya, pusing bukan main. Tapi karena pandemi, semua hal itu tidak terjadi. Sungguh malang nasib saya dan teman-teman karena tidak mendapat semua pengalaman berharga itu. Kami diharuskan untuk belajar sendiri untuk ilmu tersebut. Namun, syukurnya berujung pada penghargaan semester dengan indeks prestasi terbaik jatuh kepada “semester enam”, yeay. Presensi rajin, depan laptop tiap hari, ujian tulis, gadapet ilmu, itulah gambaran mahasiswa di saat pandemi Covid-19.

Memasuki semester tujuh, makin kentara lagi bahwa aku ini mahasiswa tingkat akhir. Sudah tidak ambil mata kuliah, yang ada hanya mempersiapkan tugas akhir yang bernama skripsweet. Makin mudah overthinking saat ditanya “Kapan sempro?” “Kapan sidang?” “Kapan lulus?”. Balas dengan senyuman aja. Temen-temen pasti udah berjuang yang terbaik, yakin banget. Memang perlu proses panjang dan sabar yang ekstra. Buat pejuang skripsweet, semangat. Semoga selalu dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya! Problema skripsweet skip dulu ahh.

Oke selanjutnya ini cerita tentang kekhawatiranku terhadap virus jahat yang lagi viral sepanjang tahun ini. Sejujurnya, aku termasuk orang yang khawatir sangat sama virus ini. Bener-bener berkurang drastis intensitas ketemu banyak orang di tahun ini. Apalagi setelah lingkaran terdekat yang tertimpa musibah. Pengalaman ini juga yang bikin aku bener-bener mengurangi intensitas keluar.

Seluruh kegiatan memang tidak bisa dilakukan sepenuhnya di rumah. Mangkanya ada gagasan new normal, kegiatan seperti biasanya namun yang membedakan adalah kita harus bisa menyesuaikan dengan kondisi sekarang. Nggak keluar sama sekali dari rumah bukan hal yang baik sepenuhnya. Kita pasti perlu keluar rumah. Ada hal “penting” versi kita masing-masing untuk memutuskan pergi keluar rumah. Ada yang menganggap bertemu dengan teman atau keluarga besar itu hal penting, ke pasar ke mall itu penting, hadir kajian itu penting, nongki di luar itu penting, liburan melepas penat itu penting, dan masih banyak lagi. Ini tergantung keputusan dari diri kita masing-masing yang memandang suatu hal adalah hal “penting”. Nggak ada yang salah, standar kepentingan tiap orang memang berbeda, dan kita perlu saling memahami dan menghagai akan keputusan itu.

Ada satu hal lagi yang bikin aku pribadi memilih buat “Kalo gak penting-penting amat –versiku-, di rumah aja” adalah cerita dari Kak Ayu Kartika Dewi yang dinyatakan positif Covid-19. Padahal sejauh aku ngikutin instagramnya, Kak Ayu adalah orang yang patuh banget berdiam diri di rumah. Sampai pada akhirnya di penghujung tahun ini beliau ada kepentingan untuk keluar kota, dan entah bagaimana virus itu ada pada badannya. Cerita, tips, dan trick menarik selebihnya dapat teman-teman lihat di feed instagramnya @ayukartikadewi

Oke cerita virus jahatnya dicukupkan. Setiap manusia berkurang usianya tiap tahun. Rezeki, maut, dan jodoh sudah Allah tetapkan jauh hari sebelum kita dilahirkan. Tahun ini, ada beberapa teman yang sudah menggenapkan separuh agamanya. Turut senang, semoga teman-teman bisa membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah, aamiin. Bertemu jodoh dan maut bisa saja sangat dekat dengan kita bahkan bisa terjadi secara berdekatan, Namun, ada sedikit cerita pilu juga berkaitan dengan jodoh dan maut. Dari sosok yang membuat diri ini takzim karena perangainya. Tanggal 19 September ia menggenapkan separuh agamanya dengan menikahi perempuan yang disayanginya. Kemudian tanggal 7 November tiada yang menduga, Allah sangat sayang padanya dan ingin lebih dekat dengannya. Ialah Mas Rustam, alumni pengajar muda yang kukenal baru beberapa bulan. Kabar ketiadaannya membuat hati sangat berduka dan merasa kehilangan. Mas Rustam adalah sosok gambaran lelaki yang bijak, sholeh, dan inspiratif. Feed media sosialnya sangat bermanfaat untuk pengikut yang membacanya. Mungkin bukan aku saja yang menilai demikian. Bahkan keluarga, istri, dan teman-teman dekatnya pasti menilai lebih dari sekadar itu. Sedikit cerita awal mula saya kenal dengan Mas Rustam dapat dilihat di sini. Mohon doanya dari teman-teman yang membaca, semoga beliau tenang di sisi-Nya dan ditempatkan di derajat yang mulia, aamiin.

Tahun ini di tanggal 16 Desember, tidak terasa usia sudah mencapai 22 tahun. Nggak kerasa, kerasanya masih kek 18 tahun :’) Memasuki masa quarter life crisis kata orang-orang. 22 tahun, masih banyak hal yang belum dicoba. Masih sedikit pengalaman yang dilalui. Jadi bahan muhasabah diri untuk tahun-tahun berikutnya.

Oh iya, satu hal yang ingin kujadikan pengingat untuk diriku (dan mungkin dirimu juga) di 2021 bahkan untuk tahun-tahun selanjutnya juga, “Garis start dan finish tiap orang beda-beda ya. Jangan sering bandingin pencapaianmu dengan orang lain. Yuk fokus sama proses diri sendiri. Kasian jika dirimu ini dipaksa buat mencapai garis finish orang lain, garis startnya aja berbeda. Yuk semangat! Kurangin overthinking jugaa”

Inilah ceritaku di tahun 2020, hanya merasa ada bulan Januari, Agustus, dan Desember. Terima kasih tahun 2020, banyak pengalaman yang bisa diambil. Mari kita jadikan bahan pendewasaan diri. Mari kita persiapkan bekal untuk tahun 2021. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, karena akan sama halnya dengan mengharap bunga layu yang kembali merekah.

Yuk sama-sama berdoa, semoga kita sehat selalu, tetap jaga protokol kesehatan dimana pun kalian berada ya!



Kerasa nggak sih udah di penghujung tahun 2019 aja. Perasaan baru kapan hari deh bulan Januari 2019. Eh kok ternyata sekarang udah Desember wkwkwk

Waktu memang cepat berlalu. Bolehkan aku bertanya, bagaimana kabar target impian yang kalian buat di penghujung tahun 2018 kemarin? Adakah yang sudah tercapai?

Mau cerita sedikit perjalanan 2019 yang kualami. Begitu banyak kejadian di luar dugaan. Berkenalan dengan orang-orang hebat, turut serta dalam kegiatan besar, dan lain sebagainya. Senang? Tentu. Hal-hal yang disebut barusan tidak termasuk dalam target yang kubuat di akhir tahun 2018 lalu. Tapi apa, Allah membukakan jalannya untukku.

Ada pula target yang hingga kini pun belum tercapai. Namun tidak mau kusebutkan, biarkan hal itu menjadi target di tahun 2020. Lain hal lagi soal kegagalan. Tak sedikit kegagalan tahun ini yang kualami, misalnya gagal memperoleh beasiswa, tidak menang dalam perlombaan, dan sebagainya. Sempat hal tersebut mematahkan semangat, tapi bila kita selalu turuti rasa itu, kapan kita akan bangkit? Aku mulai bangkit dan percaya lagi bahwa Allah selalu menyiapkan hal baik untukku ke depannya. Kuncinya hanya satu, “Percaya bahwa Allah selalu baik pada kita dan tidak akan pernah menyesatkan kita”.

Bicara soal target impian, ketika memang kita punya niat yang amat sangat dan ada kesempatan untuk mencapainya, pasti targetnya dapat dicapai. Beda hal ketika target tersebut hanya kita buat di awal tanpa kita pikirkan bagaimana cara mencapainya. Yaudah hanya menjadi angan. Untuk mencapai target diperlukan yang namanya usaha. Ketika kita tenang-tenang dan santai aja, mungkinkah target kita terwujud? Target butuh keseriusan.

Target bukan melulu soal materi. Bisa saja target untuk memperbaiki personality. Menjadi lebih sabar, menjadi pendengar yang lebih baik, menjadi lebih sederhana, menjadi lebih peka terhadap sekitar, dan lain sebagainya. Apalagi bagi teman-teman yang usianya menginjak 20 tahun ke atas, yang katanya mulai memasuki ‘tahap dewasa’ tentunya semakin bisa membedakan kepribadian mana yang baik-menguntungkan ataupun yang buruk-merugikan. Bagaimana kepribadian yang bisa membuat orang lain nyaman, membuat orang lain merasa dihargai, dan lain sebagainya.

Menarik untuk dibahas terkait target memperbaiki personality. Tiap orang punya kepribadian dan karakter yang berbeda-beda. Teruntuk diriku (dan mungkin teman-teman yang merasakan hal yang sama) sebagai pengingat bahwa, ‘Kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab dirimu, Mal’. Jujur, ini adalah salah satu mindset yang ingin kuterapkan di tahun depan hehe. Dari aku sendiri sampai sekarang masih merasa.. jika aku mengecewakan orang lain, aku sendiri kayak merasa bersalah banget. Padahal ya.. belum tentu juga begitu. Ada saat dimana aku bikin kesalahan dan buat orang lain marah atau sedih, ihh bener-bener jadi kepikiran banget di kepala :’) dan hal ini yang mau aku ubah di tahun 2020 nanti. Karena aku merasa sampai sini hal tersebut malah menghambat aku untuk berkembang.

Aku punya jalan pilihan sendiri yang mungkin orang lain tidak sependapat denganku, dan aku memilih jalan itu. Yashh begitu, harus bisa berubah.. Mungkin temen-temen juga punya masalah yang sama sepertiku, yuk kita berubah. Tegaskan bahwa kita punya pilihan yang memang harus kita jalani dan tanpa ada intervensi dari orang lain. Semangat teman!!

Di akhir penghujung 2019 ini, izinkan aku mengucapkan terima kasih kepada semua insan yang telah membersamaiku berjuang dan melakukan hal-hal yang positif dan produktif. Terima kasih kepada teman-teman yang baru kukenali di tahun 2019, kalian semua menyenangkan. Aku banyak mengambil hikmah dan pelajaran dari kalian. Untuk teman-teman yang sebelum 2019 sudah kenal pun dan sekarang masih menyambung silaturrahmi, terima kasih sudah mau-maunya tetap berada di circle pertemananku. Semoga kita semua tetap saling memberikan manfaat satu sama lain.

Terima kasih 2019, banyak nikmat dan rezeki yang didapatkan di tahun ini. Nikmat senang, bahagia, suka cita, sedih, duka. Sempat merasa kehilangan, luka hati yang mendalam, stress berkepanjangan 😂 semoga dari kejadian-kejadian tahun ini kita mendapatkan manfaat, menjadikan semua hal yang terjadi pengalaman untuk ke depannya.

Kini kita menunggu detik-detik pergantian tahun. Mari buat target baru ataupun menata kembali target lama yang belum tercapai. Yuk sama-sama mulai menyiapkan apa yang kita impikan. Jangan lupa berdoa juga semoga langkah-langkah kita selalu diridhoi oleh Allah ya, aamiiin.. Semangat menyambut tahun baru! Kutunggu cerita baik dari teman-teman.

Oh iya satu lagi pesan untuk kalian (dan untuk diriku sendiri), jangan lupa bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah untuk kita ya. Jangan suka membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Allah lebih tahu kebutuhan kita. Belum tentu orang yang hidupnya lebih enak dari kita itu hidupnya memang benar-benar enak. Ada sisi kesedihan yang mungkin tidak dapat kita lihat darinya. Nikmati dan syukuri apa yang ada guyss!

*teruntuk teman yang dari dulu punya target menyempurnakan separuh agamanya di tahun 2020, semoga targetnya tercapai ya, persiapkan mental dan fisikmu. Semoga tahun depan benar-benar menjadi tahun baikmu, aamiiin😉



Aku memandang hidup sebagai sebuah perjalanan. Karena itulah aku seringkali tidak tenang ketika aku mengingat bahwa tujuan akhirku masih belum bisa kutentukan pasti, akhirat itu pasti. Tapi entah kemana aku akan berlabuh. Cahaya mana yang akan membawaku. 

Sayangnya, perjalanan ini terasa sangat terjal dan menipu. Aku sering tersesat dengan kesenangan dan mereka mulai membuatku ingin memuaskan keinginan dan memenuhi hasrat yang mengelabui.

Ketakutan adalah ketika aku tak lagi merasa takut. Kamu tau, setiap saat aku selalu ragu sekalipun raut wajahku berkata selalu ada keyakinan yang membuatku mampu tersenyum lebar. Aku terlalu pandai, untuk menjad baik-baik saja. Aku terlalu lihai, untuk menipu setiap mata yang tertuju. Aku, dan hatiku sering tak lagi selaras. Aku merasa jauh dari sebuah sentuhan kuasa Tuhan. Dari setiap tawa dan bahagia, tangisku semakin kering dan hatiku semakin keras.

Astaghfirullahaladzim. 
Astaghfirullahhaladzim. 

Aku memohon ampun kepada-Mu Ya Allah atas setiap lalai yang mencipta jarak antara aku dengan-Mu. Atas setiap lupa yang mengeraskan hatiku dan menjadikanku tak lagi semerasa dulu. Aku menginginkan sebuah luka yang mendekatkanku pada-Mu ya Allah. Menginginkan tangis yang membuatku tersadar setiap waktu yang telah berlalu, seringkali aku sia-siakan dan aku tak punya kuasa untuk memperbaiki setiap kegelapan yang telah kuciptakan sendiri, menarikku dan menjatuhkanku. Akulah, akulah yang mendorong diriku sendiri dan mengubur diriku dalam kelalaian dan kesenangan fana.

Bagai rembulan yang selalu ada meski terkadang seakan tak ada. Bagai malam yang kerap kali sembunyikan bintang. Ratapan dan pikiran manusia yang semakin menguasai hati, sampai ia tak lagi menyadari bagian mana dari dirinya yang mengikuti kata hati atau akal yang telah tercemari dunia. Menenggelamkan hakekat kuasa Allah dalam landasan hidupnya.

Alam sering kali telah memperingatkan. Manusia tak lagi bisa dapat dipercaya. Berkhianat dan tak lagi mengingat setiap butiran tanah tempatnya berasal. Pati-pati itu yang telah membawanya sampai sekarang adalah bagian yang menyokong hidup matinya namun seakan tak lagi berharga.

Akulah sang penipu. Berlagak mampu tapi lumpuh. Berlagak bisa nyatanya gegabah. Akulah sang penipu, yang tak lagi jujur kepada diri sendiri, yang tak lagi terbuka pada inginnya hati.

Setiap waktu yang terus berlalu. Setidap sudut hiruk pikuk yang aku lalui. Seakan membuatku terpana betapa aku telah mengabaikan banyak hal. Betapa aku telah mengubur banyak kesempatan. Betapa aku telah melewati banyak uluran-uluran tangan sahabatku yang menginginkanku untuk kembali kepada jalan yang seharusnya.

Aku tidak lupa akan fitrahku sebagai manusia. Tapi aku tak bisa berbohong, bahwa aku tak lagi mengenali siapa diriku sekarang. Aku tak lagi memahami bagian diriku yang masih dikendalikan oleh hati nurani dan yang telah ternodai bisikan-bisikan mereka yang ingin aku pergi.

Tidak, aku bukannya tak mengenali diriku sendiri. Aku hanya terlalu lemah dan takut untuk melawan. Dan tahukah kamu, musuh terbesar yang bertanggung jawab atas setiap kesalahan yang kamu lakukan adalah dirimu sendiri. Aku kalah melawan diriku sendiri.

Betapa Tuhan begitu baik, tak ditampakannya kesalahan-kesalahan yang kulakukan kala sendiri. Meski seringkali aku berpura-pura tak mendengar panggilan-Nya.

Betapa Tuhan begitu sayang. Sekalipun tak lagi bisa dihitung banyaknya dosa yang dilakukan olehku, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup dan terus mencari kemana aku seharusnya pulang.

Jadi, sampai kapan mau jadi sang penipu? Coba tanyakan pada dirimu sendiri seberapa kenal dengan diri sendiri. Berasal dari manakah kamu? sudahkah kamu tau maunya Sang Pencipta akan hidupmu itu apa? sudah sesuai kah jalan hidup, visi hidup, dan yang kamu perjuangkan dengan apa yang Sang Pencipta inginkan ?

Jadi, sampai kapan mau jadi sang penipu?


Dalam hadist dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Awal bulan Ramadhan adalah Rahmah, pertengahannya Maghfirah (pengampunan) dan akhirnya Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka)”

Tidak terasa hari berganti hari, kini kita telah memasuki fase 10 hari kedua di bulan suci Ramadhan😏 10 hari pertama sudah kita lewati pada minggu sebelumnya. 10 hari pertama merupakan rahmat. Pada awal Ramadhan kita semua berada di fase masih beradaptasi dan menyesuaikan dengan harus bangun jam 3 pagi untuk sahur, tidak tidur lagi selepas sholat shubuh takut kesiangan berangkat kuliah, menahan haus dan lapar dengan kesibukan yang begitu padat, menahan amarah sepanjang hari, ngabuburit menjelang berbuka, sholat tarawih berjamaah di masjid komplek, dan kegiatan-kegiatan lain yang hanya ada di bulan Ramadhan.

Saya yakin terasa sangat berat dilaksanakan bagi kita yang tidak terbiasa melakukannya. Maka dari itu, 10 hari pertama bulan Ramadhan ialah rahmat bagi hamba-Nya yang bisa menjalankan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Teman-temanku yang berbahagia, 10 hari kedua di bulan Ramadhan ini merupakan fase pengampunan. Allah akan menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadahnya, insyaAllah. Di fase ini teman-teman mungkin sudah mulai terbiasa ya menyesuaikan dengan rutinitas baru. Yang sebelumnya di 10 hari pertama sering telat sahurnya atau bahkan tidak bangun sahur, pada fase kedua ini sudah mulai terbiasa reflek gitu bangun waktu denger alarm HP atau denger alarm alami dari bunda, sudah mulai terbiasa ketika kesal kita mengucapkan kalimat thoyibah bukan lagi meso-meso ndak jelas, udah nggak sering lemes dan males-malesan terus di kasur, dan masih banyak lagii..

Di fase ini, kita dapat memanfaatkannya dengan selalu dan setiap saat memohon ampun pada Allah atas dosa-dosa yang kita perbuat. Kita tidak tau seberapa banyak dosa kita, tentunya banyak. Jangan sia-siakan kesempatan ini untuk meminta ampun dan memohon agar Allah menghapuskan dosa-dosa kita. Lebih baik lagi kita tidak lupa memohonkan ampun atas dosa orang tua kita, keluarga, saudara dan teman-teman kita. Tidak ada ruginya kita memohonkan ampun atas dosa orang lain. Ingat janji Allah, kebaikan kita akan digantikan pula dengan kebaikan. Apalagi sekarang bulan Ramadhan. InsyaAllah kebaikan sekecil apa pun akan tetap diganti bahkan dilipatgandakan, aamiiin..

Yang terakhir, 10 hari ketiga di bulan Ramadhan merupakan fase pembebasan dari siksa neraka. Masjid mulai sepi, shaf sholat berjamaah semakin maju, tempat perbelanjaan semakin ramai, tadarus mulai longgar. Ya, itu fenomenanya. Di tiap tahunnya bisa kita lihat sendiri bahkan kita sekalipun turut berperan, astaghfirullah. Padahal seharusnya, kita lebih giat lagi untuk beribadah karena bulan Ramadhan hampir meninggalkan kita. Di samping itu, Allah juga telah menjanjikan akan memberi malam yang istimewa yakni lailatul qodar (malam yang mulianya lebih dari mulianya seribu bulan). Bagi hamba-Nya yang istiqomah ibadahnya, mengencangkan sabuk keimanan dan ketaqwaan, insyaAllah akan dihindarkan dari siksa neraka dan mendapatkan keberkahan lailatul qodar. Semoga kita termasuk bagian dari golongan tersebut, aamiiin...


“Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ” (artinya: Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan). Dari bulan Rajab hingga Sya’ban, sering nggak sih kita denger doa ini dari langgar, mushola, atau masjid? Bisa tidak teman-teman memaknai dan meresapi isi doa tersebut? Sangat dalam😢 “... pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”. Setelah kita disampaikan pada bulan Ramadhan, lalu apa? Doa minta dipertemukan lagi sama bulan Ramadhan jauh-jauh hari. Saat bulan Ramadhan: Ibadah kita tidak meningkat, sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Padahal kita sendiri sudah tau fadhilah bulan Ramadhan. Begitukah? Jangan...

Kita tidak akan pernah tau sampai kapan kita berada di dunia yang fana dan sementara ini. Mungkin Ramadhan tahun ini kita masih bisa berpuasa, buka bersama dengan keluarga dan teman-teman, sholat tarawih berjamaah, tadarus di masjid, dan lain sebagainya. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa kegiatan tersebut dapat kita ulangi lagi tahun depan?  Diantara kita tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Jangankan Ramadhan tahun depan, satu menit yang akan datang pun kita masih tidak bisa meraba apa yang akan terjadi sesuai kehendak Allah.

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati esok hari”

Mengapa muncul ungkapan demikian? Semangat bekerja akan tumbuh bila kita merasa punya umur yang panjang. Waktu yang akan dihabiskan banyak dan kita masih bisa mau melakukan apa saja sesuai kemauan kita. Sedangkan jika kita merasa bahwa besok ajal telah menjemput, maka dapat dipastikan kita memanfaatkan sisa waktu yang ada sebaik mungkin.

Sekarang pertanyaannya, masihkan teman-teman bermalas-malasan beribadah di bulan yang penuh berkah ini? Yuk beribadah dengan khidmat seolah-olah ini menjadi Ramadhan terakhir kita. Sholat kita, puasa kita, ngaji kita, sedekah kita, dan ibadah yang lain adalah untuk diri kita sendiri. Allah tidak perlu itu, kita yang perlu. Masih ada kiranya tiga minggu waktu kita berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini.

Jangan ragu, yuk sama-sama isi ulang iman dan taqwa kita. Tulisan kali ini bukan untuk menggurui, tetapi untuk bahan renungan saya dan teman-teman yang mau-maunya membaca yaa. Kita disini saling mengingatkan saja, bila saya ada kesalahan mohon dikoreksi. Teman-teman boleh kok tulis di kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetap semangat teman-teman. Semoga Allah meridhoi seluruh ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini!!  😉

Cuma mau bilang kalo baru aja selesai UAS nih. Tahun depan udah masuk semester 4 hmm. Semoga teman-teman bisa mendapatkan hasil yang memuaskan di semester ini ya! :)



(16 Desember 2018)
“Selamat datang masa dewasa. Banyak tanggung jawab datang. Saatnya mulai mengatur prioritas dengan matang. Mulai terlihat tantangan yang sebenarnya antri menanti di depan”- Indra Sugiarto

Alhamdulillah!! Seorang gadis perempuan yang bernama Amalia Zulfa Pritasari tepat di hari ini menggenapkan usianya menjadi 20 tahun. Wah nggak terasa udah kepala dua/? Tapi sejujurnya beneran belum siap menyandang usia 20 tahun wkwkwk. Tarlagi kalo ada yang nanya, “Umur berapa?” udah harus siap mantap, nggak boleh lupa jawabnya, “Umur 20” haduuu.. Siap nggak siap ya harus siap. Jangan sok dimudakan gitu ngejawabnya, bohong dosanya berlipat kan :D pertama dosa karena bohong bilang umurnya lebih muda dari 20, kedua dosa karena gak bersyukur sama Allah karena udah dikasih nikmat umur panjang sampai sekarang ya kaan..

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Semua yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun belakangan ini wajib disyukuri. Banyak sekali hal-hal yang tidak bisa dilupakan yang terjadi selama rentang usia 1-20 tahun saya ini (atau bisa dipersingkat 19-20 aja deh). Kejadian yang menyenangkan, menyakitkan, menyebalkan, menyusahkan, merepotkan (eh kok banyak jeleknya), mengharukan, dan lain sebagainyaaa. Bentar, mau bilang terimakasih nih ke....

1.      Saya mau berterimakasih kepada para sahabat dan teman yang berada di sekitar saya selama ini. Silih berganti selama 20 tahun belakangan ini. Terimakasih atas pengalaman berharga yang kalian berikan! Pengalaman kalian akan saya jadikan motivasi untuk lebih baik ke depannya! Terimakasih juga telah banyak menghibur saya, mengajarkan apa arti hidup yang sesungguhnya.. waduuw beraat. Oh iyaa terimakasih juga buat teman-teman yang sudah mau-maunya memberikan doa baiknya, semoga teman sekalian senantiasa diberi kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat!
2.      Saya juga mau berterimakasih pada suadara dan keluarga. Tanpa ada dukungan dari mereka, apa jadinya saya. Yang suka memberi nasehat, yang suka memberi motivasi, dan kebaikan-kebaikan yang laiin. Terimakasiih saudara dan keluargaku tercintaa..
3.      Saya berterimakasih pada dosen-dosen yang telah mewarnai drama perkuliahan saya baik di semester genap dan ganjil kemarin. Semester genap alhamdulillah mengesankan. Bagi saya, alhamdulillah saya merasa sudah mencapai target yang diinginkan. Kegiatan saya selama perkuliahan juga cukup menyenangkan dan berfaedah. Semester ganjil yang barusan saja berakhir.. hhmm.. terimakasih terkhusus untuk bu dosen yang tidak ingin kusebut namanya. Berkat beliau saya semakin tau di dunia ini tidak hanya dihuni dengan satu persepsi pandangan saja, pasti ada yang tidak sepaham dengan kita dan.. disitulah letak ujiannya. Ada pula tipe orang yang tidak mau mendengar rasionalisasi dari kita, menganggap bahwa dia lah yang paling benar. Satu lagi, manusia kodratnya pernah salah. Bukan sebagai Yang Maha Benar. Terimakasih bu sudah mengajari saya apa arti menerima dengan lapang dada dan menjadikan diri saya bukan manusia lemah.. Tuturmu akan selalu teringat dan akan selalu dikenang. Bahkan akan saya jadikan bahan dongeng kelak huehehe. (Bentar, ini kok jadinya curhat ya)
4.      Saya tak lupa berterimakasih pada sebagian orang yang saya anggap sebagai motivator yang secara tidak langsung prestasi, karakter, dan kepribadian, ataupun latar belakang mereka saya jadikan tolok ukur bagi kehidupan saya. Saya tidak dapat menyebutkan satu persatunya karena banyak wkwkwk :D
5.      Saya sangattt berterimakasih kepada Ayah dan Ibuk saya. Nggak akan berhenti saya cinta dengan mereka!! Semua yang telah mereka berikan sampai saat ini, nggak akan pernah bisa terbalas. Selain berterimakasih, saya juga mau minta maaf kepada mereka... sampai di usia saya yang 20 tahun ini saya belum bisa beri apa-apa kepada mereka, belum sepenuhnya bisa menyenangkan hati orang tua saya. Mereka yang mengajari saya arti kesabaran, ketegaran, mengontrol emosi, dan sikap karakter baik lainnya..

Mungkin waktu kecil dulu, orang tua kita tak lupa merayakan ulang tahun kita. Umur setahun, dua tahun, dan seterusnya. Dan lagi nih biasanya tradisi perayaan ulang tahun di usia remaja “SWEET SEVENTEEN”. Dari sebagian kita pun merayakannya, adapun yang tidak. Tergantung bagaimana kita memaknai bertambahnya umur tersebut. Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat dari Allah. Ada teman kita yang merayakannya dengan mengadakan bakti sosial, ada yang merayakan hari miladnya di sebuah gedung, ada yang merayakannya dengan berdzikir dan bertafakur, dan macam lainnya. Atau bahkan biasa saja di hari kelahirannya seolah-olah tidak menjadi hari yang spesial. Ada yang begitu? Ada. Boleh saja ada sebuah bentuk perayaan, mungkin hanya sebagai simbol selebrasi tidak lebih dari itu. Dan itu tergantung kehendak masing-masing pihak (sekali lagi saya tekankan, kehendak masing-masing pihak).

Kini bagi saya, tidak perlu lagi perayaan yang mewah, makin kesini saya semakin mengerti makna bertambahnya umur. Bertambahnya umur berarti berkurangnya usia di dunia ini. Kita tidak tahu usia kita akan berakhir kapan. Namun yang pasti, kita harus mendapatkan point of viewnya dari bertambahnya umur kita yakni, kita harus lebih menyadari kekurangan diri, bermuhasabah (mengevaluasi) diri, dan selalu bersyukur. Apakah syukur saya masih kurang? Apa yang menjadi target tahun sebelumnya, apakah sudah tercapai dengan baik? Itu yang sebaiknya jadi pertanyaan pada diri kita saat memasuki bertambahnya umur.

Seseorang dapat diibaratkan sebagai sebuah organisasi. Dalam sebuah organisasi, ada yang namanya laporan pertanggungjawaban (LPJ) saat akan menjelang reformasi (pergantian kepengurusan). Seseorang pun ada baiknya demikian, dalam diri kita perlu ada LPJ saat akan menjelang bertambahnya umur :( Mengevaluasi program kerja (memuat resolusi yang kita buat selama satu periodik, yakni satu tahun ke belakang), apakah sudah terlaksana dengan baik ataupun belum terlaksana. Apa yang perlu diperbaiki di dalam LPJ kita setahun yang lalu itu dijadikan pembelajaran untuk program kerja tahun depan. Bahasanya udah kek organisator aja ini, sok aktivis :’)  Qodarullah saya lahirnya di penghujung tahun (gak ujung-ujung banget sih, tapi kan bulan ke 12 gitu), jadi kalo mau bikin proker dan LPJ ya sekalian deh berganti tahunnya huehehe. Proker-proker saya selama berusia 19 tahun mungkin belum seluruhnya tercapai, namun saya tetap bangga dengan diri saya yang selalu mau bersemangat untuk memperbaiki keadaan. Gagal tapi bangkit. Alhamdulillah, saya bangga dengan diri saya yang seperti itu! Semoga ke depannya akan tetap begitu.

Umur 20 tahun tak lagi dianggap sebagai usia remaja. Bagi saya, walau usia 20 tahun belum bisa dianggap dewasa dalam KUHPerdata, tetapi usia 20 tahun sudah masanya kita untuk produktif dan menata diri. Amanah yang kita sanggah mulai berat. Tidak mungkin jika kita bermodal penyangga dengan material yang mudah rusak dan rapuh. Masih banyak bagian dari dunia ini yang perlu kita eksplor bersama-sama. Dunia ini hanya sebentar, kawan. Mari manfaatkan waktu yang terbatas ini. Kesempatan yang diberi oleh Allah ini jangan sampai terbuang sia-sia. Dan jangan pula kita terlena dengan gemerlapnya dunia yang fana ini. Jadikanlah dunia dalam genggaman kita dan akhirat di hati kita. Dengan kata lain, boleh mengejar dunia tetapi sesungguhnya kebutuhan iman dan taqwa kita harus lebih diutamakan.

Di era milenial ini banyak pemuda inspiratif yang berpengaruh, bahkan sebelum mencapai usia 20 tahun dia sudah bisa berkontribusi di kancah dunia. Hai pemuda yang berumur 20 tahun seperti saya dan merasa belum melakukan apa-apa, apa kabar diri kita?:’) mungkin artikel ini akan membantu kita untuk lebih bersemangat dalam berproduktivitas di usia muda guys! Klik disini  Tak perlu minder dengan mereka-mereka yang prestasinya sudah dapat dirasakan. Yang kita butuhkan sekarang yakni menata diri kita, membuat prestasi dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Kita bisa punya prestasi dengan versi masing-masing, bukan? Mulai dari satu tekad dan niat dari dalam diri kita..

Tulisan yang saya buat hari ini bukan bermaksud serta merta untuk “menuturi” teman-teman agar berlaku demikian. Ini juga menjadi self reminder bagi saya. Catatan saya untuk ke depannya. Saya sendiri juga merasa bahwa saya banyak kekurangannya. Tapi, hanya dengan “merasa”, ya ngapain gitu kan kalo nggak ada action perubahan dari kita? Sama aja nol puthul. Omong doang! Yuk temen-temen yang usianya seperti saya, yang merasa belum mencapai apa-apa :’) kita belajar menggali potensi yang ada di diri kita. Buat diri kita produktif, mendalami passion yang kita punya. Dan jangan lupa dengan yang mengatur segala di muka bumi ini, Allah Azza wa Jalla.

Oh iya, temen-temen yang belum buat proker atau resolusi untuk tahun depan, segera bikin ya! Akan ada tantangan yang menarik bagi kita di tahun 2019. Semoga tahun ini dapat dijadikan pembelajaran untuk menata tahun-tahun berikutnya. Semoga pula kita tergolong orang-orang yang bermanfaat untuk orang lain, dapat berkontribusi pada negara dan dunia, dan kebaikan-kebaikan lain yang menyertai, aamiiin.. Mungkin artikel ini menjadi artikel penutup di tahun 2018 ini. Terimakasih bagi teman-teman yang mau-maunya membaca tulisan saya yang masih sangat banyak kekurangannya dan masih perlu belajar lagi buat kedepannya. Semangat teman-teman! ^0^)9



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!! ^-^
Prolog dulu bentar, dikit satu paragraf ajaa...
Tiga bulan lamanya sudah tidak produktif akibat kemalasan diri saya sendiri wkwkwk. Nggak males-malesan sih sebenernya. Cuma, youtube merupakan sumber godaan yang utama yang membuat saya tidak produktif (tidak belajar juga huhuu). Untuk liburan UAS ini saya mau sok sibuk, tiap hari mau ngadep laptop, berusaha mencari informasi yang insyaAllah bermanfaat yang sekiranya bisa saya tulis disini (padahal sih seringnya dengerin lagu Mbak Nella). Mari teman-temanku sekalian, kita berusaha untuk produktif dengan selalu mengembangkan basic yang kita punyaiii.. :)

Dalam kehidupan sehari-hari, bisa kita dapati orang yang melakukan kesalahan. Atau mungkin bahkan kita yang berbuat salah. MISAL NIH: (story 1) Ada temen yang ngajakin ketemuan jam 8 pagi. Eh taunya dia baru sampe jam 10. Kitanya sudah on time, lah dia malah baru bangun jam 9. (story 2) Temen yang omongannya nyakitin hati. Padahal dianya niat bercanda, eh taunya kelewatan nyakitin hati kita. (story 3) Kita ngechat temen kita (penting dan butuh untuk dibales) dan lama banget nggak dibales. Tetiba dia bikin story tanpa buka chat kita. Waduhh pasti pada sering nih gregeten sama temen yang kayak begini wkwkwk. (story 4) Waktu kelompokan, temen kita diamanahi buat bawa sesuatu yang penting di kelompok. Pada saat hari H, dianya malah nggak masuk dan tanpa ada kabar apapun sebelumnya. (story 5) Ada temen yang minjem barangnya kita. Eh taunya pas dibalikin barangnya rusak dan gak bisa dibenerin. NAH!! Dari beberapa contoh cerita di atas, pasti kalian pernah ngalamin kan? Gimana rasanya kalo jadi korbannya (pihak yang terciderai/?)? Sakit hati? Gemess? Habis kesabaran? Ah pasti beragam ya rasanya, tergantung kita bagaimana menyikapinya. Boleh tulis pengalaman kalian di kolom komentar kalo ada yang lebih ngeselin yaa wkwkwk..
Sering kali kita mendengar kalimat, “Manusia tidak pernah luput dari salah dan dosa”, “Manusia bukanlah makhluk yang sempurna”. Seriiing banget denger kalimat itu kalo ada temen atau seseorang lah yang melakukan suatu kesalahan ataupun kekhilafan. Seakan-akan kalimat diatas menjadi tameng bagi si pembuat kesalahan itu. Menjadi alasan utama agar perbuatannya itu menjadi termaklumi dan termaafkan. Tapi setelah dipikir-pikir, ya emang bener juga. Manusia adalah makhluk biasa, bukan nabi, bukan rasul, bukan malaikat. Pasti pernah berbuat salah dan dosa.
Si korbannya ini pasti punya beragam respon kalo udah merasa terciderai hatinya #alaydah. Jangan korban deh nyebutnya, sebut saja si yang terdzolimi. (Pertama) Ada yang saat dia sakit hati, dia malah ingin balas dendam ke temennya yang berbuat salah (yang mendzolimi). Balas dendam punya dua cara. Balas dendam secara langsung alias sesuai atau setimpal dengan kesalahan yang dilakukan dan balas dendam melalui doa. Balas dendam yang dibalas dengan perbuatan yang setimpal ini yang nggak baik. Muncul kalimat, “Coba dia ngerasain apa yang aku rasain, tunggu saja balasan dariku..”, “Kamu bisa berbuat gitu ke aku, masak aku nggak bisa gituin kamu?” sebenarnya sangat wajar seperti itu, namanya juga orang sakit hati kan. Sini juga dongkol gitu, kitanya nggak salah udah bener, eh dianya malah nyakitin. Hal yang seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah (yang ada malah berlaurt-larut), juga akan membuat penyakit hati. Capek sendiri jadi kitanya. Jangan begitu ya teman-teman.. semoga kita selalu senantiasa dilindungi dari segala penyakit hati, aamiiin.. Nah lanjut bahas yang melalui doa. Yang melalui doa ini memang merupakan hak prerogatif untuk dia yang terdzolimi. Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]. Dari dalil itu pun kita dapat menarik kesimpulan, doa orang yang terdzolimi ini sungguh mustajab. Misal ada yang berbuat salah sama kita, terus kita berdoa, “Ya Allah balaslah perbuatan yang sudah dia lakukan padaku, balaslah ya Allah”. Itu sangat tidak apa-apa wahai temanku, karena memang itu adalah hak yang diberikan Allah kepada kita. Kita boleh ambil kesempatan itu untuk berdoa.
(Kedua) Dia tidak mau balas dendam tetapi dia ingin bisa menuntut di akhirat. “Aku tidak akan balas dendam pada dia, biar lah kelak di akhirat aku akan menuntutnya.” Ada dua cara penuntutan di akhirat. Yang pertama, catatan amal baik orang yang mendzolimi diberikan kepada yang terdzlomi. Yang kedua, jika ternyata amalan baik yang dia punyai telah habis, maka amal buruk punya yang si terdzolimi akan ditimpakan padanya. Dalam bentuk sebuah cerita misalnya begini nih. Si A semasa hidupnya punya banyak amalan baik yang dapat dipastikan dia bisa masuk surga. Tetapi, saat persidangan di akhirat, tiba-tiba muncul si B, “Ya Allah, dulu si A pernah mendzolimi saya. Dia pernah menyakiti saya dengan memfitnah dan mengolok-ngolok saya. Saya mohon dia bisa mengganti rugi atas perbuatannya itu ya Allah.” Akhirnya sebagian amalan si A diberikan kepada si B. Lunas sudah ganti rugi kepada si B. Saat akan melangkah lagi menuju surga, tetiba muncul si C, si D, si E, si F yang juga menuntut hal yang sama kepada si A. Alasannya pun sama, karena si A pernah mendzolimi mereka. Tanpa disadari, amalan baik si A udah habis untuk menebus kesalahannya sendiri. Dan ternyata masih ada si G dan H yang menuntut pula. “Ya Allah, bagaimana saya bisa menebus kesalahan saya jika amalan baik saya telah habis?” langkah yang kedua, yakni amalan buruk di G dan H ditimpakan kepada di A. “Ya Allah, saya tidak pernah mencuri, saya tidak pernah berzina, saya tidak pernah meninggalkan sholat. Mengapa ini menjadi amalan buruk saya?” ternyata, amalan-amalan itu pernah dilakukan oleh si G dan si H. Yang sebenarnya tidak pernah kita lakukan, tetapi akibat kedzoliman kita terhadap orang lain, maka dosa-dosa tersebut diberikan pada kita, naudzubillah. Semoga hal yang dicontohkan barusan tidak terjadi pada kita..
Melihat poin pertama dan kedua, ternyata ngeri sekali loh jika kita pernah bebuat dzolim pada orang lain, menyakiti hati mereka. Kita tidak tahu apa yang menjadi pilihan keputusan orang yang pernah didzolimi oleh kita. Bisa saja dia balas dendam atau bisa saja dia akan menuntut kita di akhirat kelak. Melihat kengerian tersebut, sebaiknya kita menghindari hal-hal yang dapat menyakiti ataupun mengecewakan seseorang. Sebisa mungkin kita menjaga lisan ataupun perbuatan kita kepada orang lain. Urusan hati, perasaan siapa yang tau kan...
(Ketiga) Dia memaafkan, tidak mau balas dendam juga tidak mau menuntut, dan bahkan mendoakan orang yang mendzoliminya. Ini sungguh perilaku yang paling mulia diantara ketiganya. “Maaf” memang menjadi kata paling sering diucapkan oleh orang yang mendzolimi kepada yang terdzolimi. Itu ya kalo yang mendzolimi sadar akan kesalahannya ya. Kalo yang nggak sadar itu loh, lebih ngeselin dan menyakitkan hati :’) Kembali lagi pada kalimat di paragraf awal, “Manusia adalah makhluk biasa yang tak luput dari kesalahan”. Yang terdzolimi sadar akan hal tersebut, manusia di mata Allah kedudukannya sama. Sebenarnya jika akan membalas maupun menuntut dia sangat punya kuasa, tapi dia ingat “Allah yang menciptakan aku dan dia saja Maha Pemaaf. Pantaskah aku sebagai hamba-Nya yang lemah ini tidak memaafkan perbuatan saudaraku itu?” memaafkan juga mempunyai beberapa manfaat, antaranya: masalah antara kita dan dia selesai, ukhuwah/ persaudaraan kita tetap terjaga, dan menghindari diri kita dari penyakit hati. Seseorang yang menjadi pemaaf mempunyai kedudukan yang mulia, bahkan derajatnya sama seperti nabi, rasul, dan para syuhada. Saking mulianya akhlak para pemaaf loh, masyaAllah :)
Seorang yang pemaaf juga diberi surga yang spesial oleh Allah. “…dan bergegaslah kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di saat lapang dan susah (sempit) dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan yang berbuat kesalahan kepadanya dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali Imran 133 dan 134). Sungguh besar nikmat yang Allah berikan pada orang mukmin yang pemaaf. Tidak ada sedikitpun kerugian bagi orang yang pemaaf walau dalam wujud konkretnya dia terlihat lemah dan mengalah. Tapi disitulah titik kemenangan/ keuntungan dari orang yang memaafkan.
Ada suatu kisah saat Rasulullah hendak hijrah ke Thaif. Awalnya, beliau disambut baik oleh warga disana. Tetapi, saat warga disana mengetahui bahwa kedatangan Rasulullah kesana adalah untuk menyebarkan ajaran islam, mereka mulai benci dengan Rasulullah. Mereka mencela, mencaci, bahkan melempar batu pada Rasulullah. Karena hal tersebut, Rasulullah akhirnya meninggalkan Thaif. Saat di perjalanan, Jibril datang pada Rasul dan menawarkan agar warga Thaif diberi pelajaran dengan ditimpakan gunung yang sangat besar ke desanya. Tapi, Rasul lebih memilih untuk memaafkan warga Thaif dan menyuruh Jibril tidak melakukan hal itu. Dengan kelapangan hatinya, Rasulullah hanya mengakatakan bahwa warga Thaif masih tergolong sebagai orang jahiliyah, beliau memaafkan dan beliau mendoakan agar mereka segera diberi hidayah oleh Allah. Sungguh mulianya akhlak Rasulullah, masyaAllah :)
Rasulullah menganjurkan ada 2 perkara yang harus dilakukan saat kita akan memaafkan seseorang, yakni: MENGINGAT kebaikan orang lain kepada kita dan keburukan kita kepada orang lain dan; MELUPAKAN kebaikan kita kepada orang lain dan keburukan orang lain kepada kita. Mari kita resapi dan pelan-pelan memahami anjuran tersebut. Agar hati bisa menjadi tentram, ada baiknya saat seorang berbuat salah, ingat-ingatlah perbuatan baik dia yang pernah dilakukan untuk kita, dan kita sendiri harus selalu intropeksi apa saja yang menjadi keburukan kita. Misal, si I hari ini membentak kamu, padahal kamu tidak salah apa-apa. Membentaknya hingga mengolok-ngolok dan menyakitkan hati. Ingin banget kamu marah balik ke dia. Tapi sebelumnya yang harus kamu ingat adalah si I ini pernah baik ke kamu, dia pernah nolong kamu waktu kamu kesusahan. Kamu bukan manusia yang suci, punya juga keburukan. Daripada marah, lebih baik kamu bermuhasabah (intropeksi dan evaluasi) diri. Dengan langkah yang pertama ini, insyaAllah kita akan lebih mudah memaafkan orang lain. Berikutnya, berusaha melupakan kebaikan kita pada orang lain dan melupakan pula keburukan orang lain. Bagi saya, orang yang selalu mengingat-ngingat kebaikan yang dilakukannya terhadap orang lain adalah orang yang sombong. Bagaimana tidak, seakan-akan dia selalu bangga dengan kebaikan yang dia lakukan. Padahal, jika dibandingkan dengan orang lain kebaikan dia belum tentu ada apa-apanya. Poin yang paling penting dan susah nih, melupakan keburukan orang lain. Kalo sudah sakit hati, apa lagi buat orang yang baperan nih, susah banget ngelupain kesalahan orang lain. Selalu ingat dan suka ngungkit-ngungkit gitu. Ada cara yang mungkin insyaAllah ampuh nih biar kita jadi orang yang amnesia terhadap keburukan orang lain. Caranya yaitu banyakin berdoa. “Robbighfirli : Warkhamni Wajburni Warfa'ni Warzukni Wahdini Wa'afini Wa'fuanni” yang artinya: “Ampuni aku ya Allah; dan kasihanilah aku; dan tutupi kekuranganku; dan tinggikan derajatku; dan berilah aku petunjuk; dan berilah aku kesehatan; dan maafkan aku.”
Memaafkan adalah perbuatan yang tidak mudah. Apalagi kesalahan yang dilakukan oleh seseorang itu sangat menyakitkan hati kita. Butuh pembiasaan agar hati ini mudah dan lapang memaafkan orang lain. Dengan kita melakukan 2 perkara yang dianjurkan oleh Rasulullah, insyaAllah hati kita akan lebih mudah memaafkan orang lain. Ayo teman-teman, mari sama-sama mulai detik ini kita membiasakan diri untuk lebih mudah memaafkan orang lain, mudah lupa dengan kesalahan orang lain. Hidup ini terlalu singkat jika kerjaan kita hanya terus-terusan nginget kesalahan orang lain. Jadilah pemaaf yang amnesia wkwkwk :D

Cukup sekian yang bisa saya bagikan ke temen-temen pada kesempatan kali ini, semoga kita bisa selalu semangat dalam memperbaiki diri yaa, aamiiin.. oh iya, sebenernya tulisan saya ini sebagian juga meresume dari kajiannya ustadzah Haneen Akira. Nih monggo yang ada waktu luang bisa langsung dibuka disini.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ^-^
Powered by Blogger.