Di luar sana hujan. Langitnya mulai gelap bercampur dengan awan yang mendung. Rintik hujan dan suara kodok terdengar seperti bersahutan di telinga.  Aku sedang duduk di lobypenginapan sambil membaca berita di koran lokal. Sudah sepuluh menit lamanya aku menunggu Mas Rama, suamiku, yang masih menunaikan sholat maghrib. Oh iya, aku Asmarani. Tetapi singkatnya Mas Rama memanggilku Rani saja. Dan kini, kami berada di kota dengan berjuta kenangan, Jogja.
Bukan tujuan berlibur kami kemari. Kami sedang diberi tugas oleh kantor kami masing-masing, yang kebetulan memang mengharuskan kami berada di tempat yang sama. Aku adalah pegawai bank di salah satu bank swasta ibu kota dan Mas Rama adalah seorang jurnalis di salah satu stasiun televisi nasional. Malam ini adalah malam terakhir kami berada di kota yang selalu bisa membuat siapa saja rindu dengannya. Tidak terasa sudah tiga hari lamanya kami berada di sini. Tetapi, karena kami sibuk dengan tugas masing-masing, tidak ada waktu bagi kami hanya untuk keluar melepas penat saja. Baru malam ini kami terbebas dari jeratan tugas dan amanah dari kantor. Dan malam ini, akan kami gunakan untuk bernostalgia. Mengingat kembali memori yang lalu, saat aku dan Mas Rama dipertemukan delapan tahun yang lalu di kota istimewa ini.
Langkah kami beriringan. Tangan kami bergandengan. Wajah kami menunjukkan rona kebahagian. Kami menyanyikan lagu Yogyakarta milik Kla Project yang sangat legendaris itu. “Masih seperti dulu. Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna. Terhanyut aku akan nostalgi. Saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama, suasana Jogja....” Suaraku pada hakikatnya tidak begitu bagus. Tapi suara Mas Rama tidak diragukan lagi. Terima kasih ya Allah, berkat-Mu suara falsku ini menjadi tersamarkan dengan suara merdu lelaki yang sedang berjalan di sampingku.
Sudah hampir sepuluh menit kami berjalan, akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami. Tempat bersejarah bagi kami. Tempat pertama kali kami bertemu, sebagai orang asing yang sama sekali tidak tahu-menahu lalu saling berkenalan. Wajah kami kini berhadapan. Mata kami saling menatap. Bibir kami pun seraya bergerak dan teriak dengan lantang, “Malioboro...” Tidak peduli orang sekitar melihat kami. Mungkin kami dianggap sebagai pasangan yang aneh. Biarlah, yang penting malam ini kami berdua sangat senang.
Siklus perekonomian di tempat ini sangat berjalan baik tiap harinya. Para pedagang menjual segala macam bentuk produk. Mulai dari cenderamata, kaos, batik, aksesoris, dan masih banyak lagi. Angkringan, warung lesehan, rumah makan yang berjajar. Menyuguhkan sajian kuliner yang beragam. Beragam menu, cita rasa, maupun harga. Puluhan delman berjejer di pinggir jalan. Tukang becak mengayuh becaknya yang sedang ada penumpang. Mereka semua mencari rezeki untuk keluarganya di tempat ini. Aku juga melihat banyak orang, wisatawan lokal maupun luar sedang berlalu lalang. “Disini kita menemukan banyak orang yang mempunyai tujuan yang sama. Mereka kesini untuk menikmati indahnya malam disini, di Malioboro.”, kata Mas Rama.
“Mas, tapi Malioboro ini sudah tampak berbeda ya.”, kataku pada Mas Rama sambil berjalan. “Wujud fisik bolehlah berubah. Tapi cobalah kamu menutup mata. Hirup dan rasakan udara disini.”, pinta Mas Rama yang kemudian aku lakukan. “Masihkah kamu merasa Malioboro ini berbeda? Tidak kan? Suara-suara dan udara yang kamu rasakan, aku yakin masih sama seperti dulu. Malioboro tidak pernah berubah.”, ucap Mas Rama. Benar saja, aku dapat merasakannya. Suara musisi jalanan itu, aroma sate, logat khas dari para penjual oleh-oleh. Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Aku setuju dengan perkataan Mas Rama.
Sekitar 100 meter dari tempat kami berdiri, aku melihat ada kerumunan massa. Aku juga mendengar suara alat musik angklung dan entah alat musik apa lagi. Yang jelas sangat merdu untuk didengar. “Mas, ayo kita kesana. Kita lihat ada apa itu? Seperti pertunjukan.”, ajakku kepada Mas Rama yang masih sibuk dengan telepon selulernya. Semakin dekat dengan asal suara, aku semakin tidak asing dengan nada yang dimelodikan. “Wes nasibe kudu koyo ngene. Nduwe bojo kok ra tau ngepenakne. Seneng muring omongane sengak. Kudu takterimo bojoku pancen galak.(artinya: Sudah nasibnya memang seperti ini. Punya suami yang kurang mengenakkan. Hobinya marah bicaranya ketus. Harus diterima suamiku memang galak/pemarah.”, spontan saja aku menyanyikan lagu itu karena memang mengikuti alunan nada musisi jalanan itu. Bagiku, tidak asing mendengar lagu jawa seperti ini. Tetapi, bagi orang sunda seperti Mas Rama, mungkin bahasanya kurang dimengerti. Tapi Mas Rama masih bisa menikmati kok. Dan kurasa, siapapun tak memandang dari suku apa dia, tetap bisa menikmati sajian musik mereka yang sangat indah ini. Karena ini seni yang bersifat universal. Mereka pun memainkannya dari hati.
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sangat tidak terasa sudah hampir satu jam setengah lamanya kami berada di tempat ini. Tadi mulutku yang menyanyi, kini giliran perutku yang menyanyi. “Mas Rama apa tidak lapar?”, kodeku padanya. “Iya ayo deh kita cari warung lesehan ya.”, kata Mas Rama. Memang dia yang paling tahu, hehe. Semua warung lesehan masih ramai oleh orang-orang yang ingin kenyang. Kami akhirnya memutuskan untuk makan di warung lesehan yang berjarak sepuluh meter dari kami berdiri tadi. “Pak, nasi gudeg kalih, teh anget setunggal, kaliyan kopi setunggal. (artinya: Pak, nasi gudeg dua, teh hangat satu, sama kopi satu)”, kataku pada bapak pemilik warung lesehan itu. Tak lama, pesanan kami pun datang. Sudah menjadi kebiasaan netizen di Indonesia, bahwa sebelum makan dan berdoa, ada baiknya kita memfoto makanan yang akan disantap, lalu dibagikan melalui media sosial yang kita punya. Aku begitu, tapi Mas Rama tidak, hehe. Kami tidak banyak bicara saat makan. Mulut kami menikmati kelezatan nasi gudeg yang hangat ini, sedang mata kami memandangi orang yang berlalu lalang. Sampai pada akhirnya aku melihat ada segerombolan anak SD yang sedang rekreasi. Aku jadi teringat Arin, anakku dengan Mas Rama. “Mas, Arin sekarang lagi apa ya sama Ibuk? Kalo kita telepon, pasti dia nangis minta kita pulang. Aku tidak tega. Tapi aku kangen Arin.”, kataku. “Mungkin Arin sekarang udah tidur. Sudah jangan sedih gitu dong. Besok kan kita pulang. Ketemu sama Arin kan.”, ujar Mas Rama yang cukup menenangkanku.
Usai aku membayar di warung lesehan itu, Mas Rama mengajakku ke sebuah angkringan. Dulu di angkringan itu, Mas Rama pertama kalinya menraktirku dan menyatakan perasaannya padaku, hehe. Mungkin ini cara Mas Rama menghiburku agar aku tidak sedih karena rindu yang teramat pada Arin. “Yuk ke angkringannya Lik Man aja ya. Nostalgia tipis-tipis, hahaha.”, hibur Mas Rama padaku, dan aku mengiyakan ajakannya. Akhirnya kami sampai di angkringan Lik Man. Hanya tiga orang pelanggan yang terlihat. Kami duduk di sebelah mereka. Mas Rama ini sangat kenal dengan Lik Man. Semasa kuliah di UGM dulu, Mas Rama dan teman-temannya sering sekali kemari. “Lik Man, isih iling karo aku? (artinya: Lik Man, masih ingat denganku?”, sapa Mas Rama pada Lik Man. “Walaah, iki Rama kan? Cah Sundo. Isih kaku wae basa jawamu, Le. (artinya: Astaga, ini Rama kan? Anak Sunda. Masih tetap kaku saja bahasa jawamu, Nak ”, jawab Lik Man sambil tertawa. Perbincangan mereka pun dilanjutkan dengan asyiknya. Membahas masa-masa saat Mas Rama masih kuliah dulu, membahas teman-teman Mas Rama juga. Aku cuma bisa menyimak, tapi mendengar cerita mereka pun aku tetap senang.
Kini jam tanganku sudah menunjukkan pukul dua malam. Aku seperti dibawa oleh ombak ketenangan saat meminum secangkir wedang jahe yang sekarang sedang kupegang ini, tentram rasanya. Dari angkringan Lik Man ini, kita masih bisa melihat Tugu Jogja yang berdiri gagah di tengah persimpangan jalan itu. Sangat menawan sekali untuk dipandang. Mas Rama tiba-tiba berbisik padaku, “Jogja ini terlalu indah untuk kamu nikmati sendiri, kamu tidak akan kuat. Sini biar sama aku saja.” Bisiknya itu membuat aku senyum dan tertawa, hahahaha.
Terima kasih ya Allah, Engkau pertemukan aku dengan Mas Rama di tempat seromantis ini. Malioboro adalah Jogja. Jogja adalah bagian dari Indonesia. Tempat ini hanyalah salah satu kepingan surga dunia yang Engkau ciptakan. Banyak kepingan lain yang tersebar di seluruh nusantara ini. Indonesia, semoga rakyatmu tetap bisa menjaga kepingan-kepingan surganya yang tersebar. Mengaja budaya, kultur, dan budi pekerti yang terkandung di dalamnya. Aku cinta Mas Rama. Aku cinta Malioboro dan seisinya. Aku cinta Indonesia.

Dalam hadist dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Awal bulan Ramadhan adalah Rahmah, pertengahannya Maghfirah (pengampunan) dan akhirnya Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka)”

Tidak terasa hari berganti hari, kini kita telah memasuki fase 10 hari kedua di bulan suci Ramadhan😏 10 hari pertama sudah kita lewati pada minggu sebelumnya. 10 hari pertama merupakan rahmat. Pada awal Ramadhan kita semua berada di fase masih beradaptasi dan menyesuaikan dengan harus bangun jam 3 pagi untuk sahur, tidak tidur lagi selepas sholat shubuh takut kesiangan berangkat kuliah, menahan haus dan lapar dengan kesibukan yang begitu padat, menahan amarah sepanjang hari, ngabuburit menjelang berbuka, sholat tarawih berjamaah di masjid komplek, dan kegiatan-kegiatan lain yang hanya ada di bulan Ramadhan.

Saya yakin terasa sangat berat dilaksanakan bagi kita yang tidak terbiasa melakukannya. Maka dari itu, 10 hari pertama bulan Ramadhan ialah rahmat bagi hamba-Nya yang bisa menjalankan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Teman-temanku yang berbahagia, 10 hari kedua di bulan Ramadhan ini merupakan fase pengampunan. Allah akan menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadahnya, insyaAllah. Di fase ini teman-teman mungkin sudah mulai terbiasa ya menyesuaikan dengan rutinitas baru. Yang sebelumnya di 10 hari pertama sering telat sahurnya atau bahkan tidak bangun sahur, pada fase kedua ini sudah mulai terbiasa reflek gitu bangun waktu denger alarm HP atau denger alarm alami dari bunda, sudah mulai terbiasa ketika kesal kita mengucapkan kalimat thoyibah bukan lagi meso-meso ndak jelas, udah nggak sering lemes dan males-malesan terus di kasur, dan masih banyak lagii..

Di fase ini, kita dapat memanfaatkannya dengan selalu dan setiap saat memohon ampun pada Allah atas dosa-dosa yang kita perbuat. Kita tidak tau seberapa banyak dosa kita, tentunya banyak. Jangan sia-siakan kesempatan ini untuk meminta ampun dan memohon agar Allah menghapuskan dosa-dosa kita. Lebih baik lagi kita tidak lupa memohonkan ampun atas dosa orang tua kita, keluarga, saudara dan teman-teman kita. Tidak ada ruginya kita memohonkan ampun atas dosa orang lain. Ingat janji Allah, kebaikan kita akan digantikan pula dengan kebaikan. Apalagi sekarang bulan Ramadhan. InsyaAllah kebaikan sekecil apa pun akan tetap diganti bahkan dilipatgandakan, aamiiin..

Yang terakhir, 10 hari ketiga di bulan Ramadhan merupakan fase pembebasan dari siksa neraka. Masjid mulai sepi, shaf sholat berjamaah semakin maju, tempat perbelanjaan semakin ramai, tadarus mulai longgar. Ya, itu fenomenanya. Di tiap tahunnya bisa kita lihat sendiri bahkan kita sekalipun turut berperan, astaghfirullah. Padahal seharusnya, kita lebih giat lagi untuk beribadah karena bulan Ramadhan hampir meninggalkan kita. Di samping itu, Allah juga telah menjanjikan akan memberi malam yang istimewa yakni lailatul qodar (malam yang mulianya lebih dari mulianya seribu bulan). Bagi hamba-Nya yang istiqomah ibadahnya, mengencangkan sabuk keimanan dan ketaqwaan, insyaAllah akan dihindarkan dari siksa neraka dan mendapatkan keberkahan lailatul qodar. Semoga kita termasuk bagian dari golongan tersebut, aamiiin...


Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ” (artinya: Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan). Dari bulan Rajab hingga Sya’ban, sering nggak sih kita denger doa ini dari langgar, mushola, atau masjid? Bisa tidak teman-teman memaknai dan meresapi isi doa tersebut? Sangat dalam😢 “... pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan”. Setelah kita disampaikan pada bulan Ramadhan, lalu apa? Doa minta dipertemukan lagi sama bulan Ramadhan jauh-jauh hari. Saat bulan Ramadhan: Ibadah kita tidak meningkat, sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Padahal kita sendiri sudah tau fadhilah bulan Ramadhan. Begitukah? Jangan...

Kita tidak akan pernah tau sampai kapan kita berada di dunia yang fana dan sementara ini. Mungkin Ramadhan tahun ini kita masih bisa berpuasa, buka bersama dengan keluarga dan teman-teman, sholat tarawih berjamaah, tadarus di masjid, dan lain sebagainya. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa kegiatan tersebut dapat kita ulangi lagi tahun depan?  Diantara kita tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Jangankan Ramadhan tahun depan, satu menit yang akan datang pun kita masih tidak bisa meraba apa yang akan terjadi sesuai kehendak Allah.

Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati esok hari

Mengapa muncul ungkapan demikian? Semangat bekerja akan tumbuh bila kita merasa punya umur yang panjang. Waktu yang akan dihabiskan banyak dan kita masih bisa mau melakukan apa saja sesuai kemauan kita. Sedangkan jika kita merasa bahwa besok ajal telah menjemput, maka dapat dipastikan kita memanfaatkan sisa waktu yang ada sebaik mungkin.

Sekarang pertanyaannya, masihkan teman-teman bermalas-malasan beribadah di bulan yang penuh berkah ini? Yuk beribadah dengan khidmat seolah-olah ini menjadi Ramadhan terakhir kita. Sholat kita, puasa kita, ngaji kita, sedekah kita, dan ibadah yang lain adalah untuk diri kita sendiri. Allah tidak perlu itu, kita yang perlu. Masih ada kiranya tiga minggu waktu kita berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini.

Jangan ragu, yuk sama-sama isi ulang iman dan taqwa kita. Tulisan kali ini bukan untuk menggurui, tetapi untuk bahan renungan saya dan teman-teman yang mau-maunya membaca yaa. Kita disini saling mengingatkan saja, bila saya ada kesalahan mohon dikoreksi. Teman-teman boleh kok tulis di kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetap semangat teman-teman. Semoga Allah meridhoi seluruh ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini!!  😉


Esoknya di kampus, aku berjalan dan berpapasan dengan teman UKM ku. “Alya, nanti ada kajian kan di Al Hikmah? Kamu dateng kan? Aku ingin datang tapi nggak ada temen nih.” Aku berbohong pada temanku jika nanti malam aku tidak bisa ikut kajian karena ada kegiatan lain. Padahal, aku masih butuh waktu untuk memperbaiki hatiku yang rapuh. Kegiatan di Al Hikmah hanya akan mengingatkanku pada Radhi yang nyatanya dekat dengan perempuan lain. Aku ingat betul Radhi pernah bilang padaku, “Buat apa pacaran? Dekat dengan kemaksiatan saja agama kita sudah melarangnya. Sekarang itu waktunya kita banggain orang tua dengan prestasi. Orang tua kita kan sudah susah payah besarin kita. Apa balas budi kita? Aku sih mikirnya gitu. Baru nanti kalo sudah wisuda gitu gapapa mikirin ke hal yang lebih serius, hehehe.” Perkataan itu membuatku semakin termotivasi, kata-kata itu pun mendorongku untuk lebih giat belajar untuk membanggakan kedua orang tuaku yang sudah susah payah mencari rezeki demi kelancaran masa kuliahku.
Semula aku menganggap dia bagaikan cahaya di Al Hikmah. Dia yang mengenalkanku dengan kegiatan-kegiatan di Al Hikmah yang luar biasa manfaatnya. Aku pun mendapat banyak teman disana. Kini, cahanya itu mulai redup akibat kabar dari Riri semalam. “Binarku tak lagi bercahaya”, gumamku. Semula kubangun ekspektasi baik tentangnya, kini runtuh begitu saja. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan menganggap ini semua. Kesedihan ini pun aku yang buat. “Orang lain tidak merasakan itu, Li”, kata lubuk hatiku yang paling dalam. Ah, sudah lah. Mengingat tentang dia hanya akan membuatku lebih sakit hati. Astaghfirullahaladzim, alladzii laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum wa atuubuh ilaik..
Kabar dari Riri beberapa hari yang lalu tetap saja terngiang-ngiang di kepalaku. Tapi semenjak kejadian itu, aku lebih bisa menginteropeksi diri daripada sebelumnya. Aku bertanya pada diriku sendiri, “Apa yang kulakukan dengan kegiatan di Masjid Al Hikmah itu untuk siapa sebenarnya? Demi Radhi atau ingin menggapai Ridho-Nya? Berubah untuk manusia tidak akan kekal. Manusia pun bisa mati. Tapi ridho Allah? Saat kita mencapainya, apa yang kita lakukan pasti mendapatkan pahala dan pasti baik untuk kita.” Kamis ini aku mencoba mengikuti kegiatan kajian di Masjid Al Hikmah kembali. Memperbaiki niat, bukan lagi karena ajakan dari Radhi. Wahai hati, jangan lemah harus kuat.
Kian hari, kawan-kawan kuliahku sering membicarakan mereka. Tentang kedekatan mereka. “Alya sini ikutan nimbrung. Tau nggak si Ani sering banget loh jalan bareng Radhi? Kalo menurutmu mereka gimana?” Obrolan kawan-kawan kuliahku tidak kudengar. Buat apa mendengarkan jika hanya akan memberikan goresan luka di hati? Tanggapanku pada mereka hanyalah tersenyum dan menggelengkan kepala seperti berisyarat ”no comment”. Allah memang Maha Baik. Di satu sisi aku mendengar banyak kabar tentang mereka, namun di satu sisi aku pun tidak pernah melihat mereka berdua dengan mata kepalaku sendiri. Mungkin ini cara Allah untuk mengobati luka di hati, dengan cara tidak memperlihatkan kedekatan mereka di hadapanku dan aku bisa fokus memperbaiki diri.
Setelah mendengar kabar itu, saat jam kuliah pagi aku berangkat lebih awal dari biasanya. Tidak seperti dulu saat jam 06.30 aku selalu bertemu Radhi di mushola. Pernah suatu ketika di mushola saat aku melaksanakan sholat dhuha, aku mendapati Radhi disana. Aku menarik nafas dalam-dalam, kukeluarkan pelan-pelan sembari beristighfar. Aku berdoa pada Allah memohon yang terbaik. “Jangan biarkan hamba sakit hati ya Allah dengan keadaan seperti ini. Bantulah hamba untuk kuat dan berani mengikhlaskan, aamiiin..” Ternyata aku keluar mushola bersamaan dengan dia, dia menyapaku “Hei Alya, ada kuliah pagi?”. “Iya ini ada kuliah pagi, duluan ya, Radhi”, balasku sambil tersenyum padanya. Nampak sedikit susah buatku memberikan senyum padanya. Egoku berkata, “Buat apa kau masih baik dengannya..” namun hati kecilku berkata, “Tetaplah berbuat baik padanya. Ini bukan salahnya. Kamu sendiri yang membuat rasa sakit.”
2 TAHUN KEMUDIAN...
Kawan-kawanku satu persatu mulai pergi meninggalkan bangku kuliah. Iya, sudah banyak yang wisuda. Ada yang memilih kembali ke kampung halaman atau pergi lebih jauh untuk mengadu nasib. Semua itu pilihan masing-masing. Turut senang dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka. Aku sendiri masih menyusun revisi skripsiku. Bukan perkara yang mudah apabila kita mendapatkan dosen pembimbing yang susah sekali untuk ditemui. Oh iya, Riri sahabatku sekarang sedang mengurusi wisudanya yang akan dilaksanakan pada periode selanjutnya. Katanya, keluarga dia yang dari Bojonegoro akan datang.  Jika kau menanyakan kabar Ani dan Radhi, baik aku akan menjawabnya. Ani periode kemarin sudah wisuda. Dia sudah pulang ke kampung halamannya di Pati. Sedangkan Radhi, dia akan wisuda bersamaan dengan Riri. Saat itu sukup lama agar aku tidak merasakan sakit hati melihat kedekatan antara Radhi dan Ani. Mungkin kurang lebih enam bulanan, lama bukan? Setelah itu, kembali seperti biasa. Aku menilai keduanya adalah orang yang sangat baik. Cukup itu. Radhi dan Ani menyapaku, kubalas dengan senyuman. Tidak ada lagi rasa sakit hati. Aku sudah mengikhlaskannya.
Siang ini panasnya sangat terik. Bahkan terasa hingga kamar kosku yang sudah kuhidupkan kipas anginnya. Kondisi seperti ini membuatku tidak fokus menggarap revisi. Akhirnya aku lebih memilih untuk berbaring di kasur dan memejamkan mata. Mungkin saat sore nanti sudah tidak sepanas ini. “Aku bisa bangun, mandi, lalu melanjutkan revisian.”, pikirku. Baru sedetik kumemejamkan mata, telepon genggamku bergetar. Tandanya ada pesan masuk dari seseorang. Awalnya kubiarkan, namun bergetar lagi dan berulang-ulang. Aku khawatir ada kabar penting, jadi kuraih telepon genggamku yang berada di meja sebelah kasurku. MasyaAllah, kaget bukan main ternyata itu pesan dari Radhi. Dan isinya begitu panjang sepertinya. Apa ini poster mengajak kajian lagi di Al Hikmah? Memang beberapa minggu belakangan ini Radhi kembali mengirimkan jadwal kajian di Al Hikmah padaku, yang sebenarnya aku sudah mengetahuinya dari kawan-kawanku. Tapi untuk niat baik dia, aku selalu mengucapkan terimakasih padanya karena sudah memberiku informasi dan mengajakku. Tidak menunggu lama langsung kubuka pesan itu..
“Assalamualaikum Alya”
“Alya Sabtu depan ada acara?”
“Begini Alya, Radhi kan Sabtu ini insyaAllah akan diwisuda, orang tuaku dari Cimahi akan berkunjung kesini. Kalo berkenan, Alya dateng ya. Aku berniat mau ngenalin Alya ke orang tuaku.”
Belum selesai pesan darinya kubaca, jantungku berdetak begitu cepat saat membaca pesan yang satu ini. Sekujur tubuhku tiba-tiba dingin. Kedua tanganku gemetar. Dalam rangka apa dia mau mengenalkanku pada orang tuanya? Hanya itu pertanyaanku. Namun pesan dia belum selesai kubaca, jadi kulanjutkan kembali.
“Kamu masih ingat jika aku pernah bilang ke kamu kalo aku ngagak mau pacaran dulu? Dan aku juga bilang ke kamu kalo seriusnya itu ntar waktu wisuda. Masih inget nggak, Al? Kalo kamu bertanya-tanya kenapa aku mengenalkan kamu ke orang tuaku, sudah jelas jawabannya. Karena aku ingin lebih serius denganmu, Alya Zahira.”
“Oh iya, Riri sepertinya jadwal wisudanya sama denganku. Kamu pasti ada niatan dateng kan ke wisudanya dia? Sekaliah kuh datengin Radhi juga, hehe”
Hahh? Apa ini? Apakah aku bermimpi? Atau Radhi salah kirim? Mungkin ada kawan Radhi yang lain yang bernama Alya Zahira. Apa ini benar pesan untukku? Badanku mulai lemas, yang semula dingin tiba-tiba mengucurkan keringat yang begitu deras. Ya Allah, apa maksud dari semua ini? Aku menenangkan diri sejenak. Segera aku menuju kamar Riri dan menceritakan pesan Radhi padanya.
Kuketuk dengan kencang pintu kamar Riri agar segera dibuka olehnya. “Iya Li, sebentar. Ada apa sih nggak sabaran banget.”, sahut Riri dari dalam. Setelah aku masuk, aku masih mengatur nafasku. “Begini, kamu orang pertama yang akan tau ceritaku ini. Aku baru saja dapat pesan dari Radhi. Sangat mengagetkanku. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba dia bilang akan serius denganku. Menurutmu bagaimana? Nih coba kamu lihat sendiri Ri pesan dari dia.”, ucapku terbata-bata karena nafasku masih tersengal-sengal. “Waduhh, beneran ini si Radhi mau serius sama kamu, Li? Seneng banget aku yang baca!! Aku ada cerita juga sebenernya. Waktu itu aku lupa bilang ke kamu. Mungkin karena aku juga anggap kabar ini kurang penting lagi buat kamu. Jadi, mungkin sebulan yang lalu waktu aku sibuk-sibuknya ngurusin wisuda nih, aku juga sering ketemu sama si Radhi. Tiap kali ketemu nanyain kamu dia nya. ‘Kok nggak sama Alya, Ri?’ ‘Alya kemarin ikut kajian di Al Hikmah nggak?’ dan lain sebagainya aku lupa. Dan terus, aku juga pernah tanya ke dia gimana sebenarnya hubungan dia dengan Ani. Dia menjawab, ‘Aku dan Ani sebetulnya hanya berteman biasa. Namun memang intensitas pertemuan kami begitu sering. Ya sebatas kepentingan kami juga. Mungkin kami ini lebih baik dianggap bersahabat. Dan kami juga tidak pernah saling ada rasa. Temen-temennya tuh kadang bercandanya berlebihan, hehe. Lagian si Ani ini juga sudah ada calon di kampung halamannya’ dan aku juga nanggepin penjelasan dia biasa aja gitu. Nggak nanya-nanya lebih lanjut lagi. Ya mungkin dia emang serius ke kamu, Li. Toh dia juga sudah bilang nggak ada rasa sebenernya sama si Ani. Coba tanyain aja ke dia alasan apa yang membuat dia serius sama kamu. Dan kenapa gitu dia kok tiba-tiba banget? Tanyain gih.” 
Tak terasa jam menunjukkan pukul 15.00. Aku masih berada di kamar Riri dan menunggu jawaban dari Radhi atas pesanku. Sudah dua jam lamanya dia tidak membalas pesanku. Saat aku asyik bercerita dengan Riri, telepon genggamku tiba-tiba berbunyi. Bukan pesan, tapi nada panggil. Dari Radhi!! MasyaAllah, segera kuangkat telpon itu. 
“Assalamualaikum, Alya? Ini Radhi.”
“Waalaikumsalam. Iya ada apa?”
“Aku tidak mengganggu kan jika sekarang menelponmu?”                                           
“Iya nggak kok”
“Jadi, aku mau memberi penjelasan kepadamu terkait pertanyaanmu itu. Maaf aku agak lama meresponnya karena aku masih harus menata kata-kataku. Jadi begini, untuk pertanyaanmu yang pertama, alasan apa yang membuatku serius denganmu? Aku melihat kamu berbeda dari wanita-wanita lain. Sejujurnya aku sudah pernah melihatmu sebelum kita berkenalan dulu, tepatnya di Masjid Al Hikmah. Saat itu hujan begitu deras, tidak kunjung pergi hujannya. Aku sempat melihatmu membaca al-quran begitu lama. Saat yang lain sudah meninggalkan sajadahnya, namun kamu tetap disana. Aku bertanya-tanya pada diriku. ‘Siapakah dia ya Allah? Sepertinya dia baik. Tolong jika berkenan, kenalkanlah aku padanya.’ Lalu aku melanjutkan bacaan qur’anku. Entah kau mendengarnya atau tidak, hehe. Saat aku diajak berkumpul dengan Riri dan disebelah Riri ada kamu, sejujurnya aku kaget banget. Secepat itu Allah mengabulkan doaku? Sangat senang bisa kenal kamu, jadi lebih tau karaktermu. Kamu baik, penyabar, padai, nggak neko-neko. Aku makin tertarik denganmu. Sudah mungkin itu alasanku dan kesan pertamaku mengenal dirimu.”
Suara dari Radhi tidak kudengarkan sendiri, Riri pun mendengarkannya. Dan penjelasan Radhi ini berhasil membuat air mataku jatuh. Tidak kusangka ternyata dia melihatku lebih dulu. Ya Allah, Engkau yang Maha membolak-balikkan hati..
“Halo? Alya? Kamu masih dengar suaraku kan?”
“Iya iya masih dengar. Lalu jawaban untuk pertanyaanku yang kedua?”
“Oh oke. Akan kulanjutkan. Jawaban untuk pertanyaanmu yang kedua. Mengapa aku tiba-tiba banget memberitahukan ini padamu? Sebenarnya tidak tiba-tiba banget. Aku akhir-akhir ini juga bertanya-tanya tentangmu pada kawan-kawanmu, bukan pada Riri saja. Perihal aku tidak menghubungimu lagi? Ya itu karena aku mau menjaga jarak dulu. Aku pernah bilang juga ke kamu kalo ingin fokus banggain orang tua dulu? Bener nggak? Masih ingat perkataanku? Aku tidak mau kedekatan kita malah akan menjadi ladang dosa untukku dan untukmu, karena aku ada rasa denganmu. Aku ingin fokus memperbaiki diri dan banggain orang tua dulu, dan memang berniat sudah mantap akan serius denganmu. Oh iya, alhamdulillah sebelum wisuda pun aku sudah mendapatkan pekerjaan, Al. Aku diterima menjadi legal officer di salah satu perusahaan di Jogja. Cukup sekian penjelasan dariku. Jadi gimana jawabanmu, Al? Mau tidak bertemu dengan orang tuaku Sabtu depan?”
            Aku terdiam memahami kalimat perkalimat yang dilontarkan Radhi. Seperti itukah kenyataan yang sesungguhnya? Aku masih tidak percaya. Allah mengujiku dengan perasaan sakit yang sebenarnya kubuat sendiri, tetapi pada akhirnya apa? Allah ternyata ingin melihatku menjadi seorang yang mau memperbaiki diri dulu, pun dengan Radhi.
“Terimakasih sebelumnya atas kesan baikmu terhadapku. Terimakasih juga atas niat baikmu yang ingin serius denganku. Jika aku boleh jujur, dulu saat di Masjid Al Hikmah pun aku sudah mendengar lantunan bacaan al qur’anmu. Tapi aku hanya melihat punggungmu. Lalu suatu ketika saat aku sholat di mushola, aku mendengarkan suara itu lagi. Dan benar saja saat dikenalkan oleh Riri, suara itu adalah suaramu. Aku juga suka dengan kepribadianmu. Tapi saat mengetahui kamu dekat dengan Ani, aku berusaha untuk mengikhlaskan itu. Dan aku baru saja mendengar cerita dari Riri terkait hubunganmu dengan Ani. Untuk Sabtu depan menemui kedua orang tuamu, aku butuh waktu lagi untuk berpikir, Radhi. Beri aku waktu. Tiga hari lagi silakan kau tanyakan lagi padaku. Terimakasih yaa..”
“Baiklah jika permintaanmu demikian, Al. Kuharap tiga hari lagi aku mendapatkan jawaban terbaik darimu. Udah dulu ya. Oh iya, tolong bilangin ke Riri karena sudah menceritakan hal itu padamu, hehe. Wassalamualaikum”
“Iya kusampaikan, hahaha. Waalaikumsalam”
Setelah bercerita melalui telepon dengan Radhi, aku segera menelpon orang tuaku bercerita terkait keseriusan Radhi padaku. Jawaban orang tuaku adalah menyerahkan sepenuhnya padaku. Segera aku mengambil air wudhu, lekas mendirikan sholat istikharoh agar menemukan titik terang. Aku pernah sakit hati, lalu mengikhlaskannya. Tapi ternyata dia kembali lagi dan bahkan ingin serius denganku. Apakah ini yang disebut dengan jodoh nggak akan lari kemana? Di penghujung sholatku aku memohon pada-Nya, “Ya Allah, jika ini memang yang terbaik, berikanlah hamba kekuatan untuk meyakininya. Jika dia memang baik untuk hamba, terangkanlah jalannya, aamiiin”. Aku masih kalut, rasa yang dulu ada sebenarnya sedikit demi sedikit sudah mulai pudar. Apakah ini pertanda bahwa binarku kembali bercahaya kembali?
Tiga hari berselang, aku belum menerima pesan dari Radhi. “Li, udah ada pesan dari Radhi?”, tanya Riri sembari kita duduk berdua di kantin fakultas. “Iya belum. Doain aku mantap ya dengan jawabanku”, jawabku. “Iya bismillah dulu, semoga keputusan ini baik untukmu dan untuk Radhi”. Telepon genggamku tiba-tiba bergetar. Ada pesan dari Radhi.
“Assalamulaikum Alya. Sudah tiga hari, semoga jawabanmu sesuai dengan harapanku ya”
“Waalaikumsalam. Bismillahirrohmanirrohim. Setelah Alya menimbang segala macamnya, bertanya pada orang tua Alya juga, Alya insyaAllah mau dikenalkan dengan orang tua Radhi Sabtu depan. Bismillah Alya sudah siap.”
“Alhamdulillah ya Allah. Turut senang aku yang baca. Akan kukabarkan berita ini pada orang tuaku. Pasti dia senang, Al”
Berbalas pesanpun dilanjutkan. Dari awal, aku memang benar menilai bahwa Radhi ini orang yang menyenangkan. Dia baik ke semua orang. Di sisi lain dia juga bisa serius dan tegas terhadap pilihan yang dia ambil. Terimakasih ya Allah Engkau telah mengembalikan binarku yang semula kuanggap redup. Binarku kini lebh bercahaya, semoga aku bisa menjadi energi positif dari binar yang akan kumiliki. Radhi, kamu adalah binarku di Masjid Al Hikmah..

-TAMAT-


Jam tanganku menunjukkan pukul 14.45 tanda berakhirnya mata kuliah hari ini. Langkahku menuju parkiran sedikit cepat dikarenakan langit mulai gelap, suara petir menggelegar, dan awannya menggumpal seperti bulu domba. Tanda akan turun hujan. Benar saja, baru keluar dari area fakultas hujan turun begitu derasnya. Karena aku lupa membawa jas hujan, akhirnya aku memilih untuk menepi di masjid universitas, sekitar 200 meter dari fakultasku. “Masjid Al-Hikmah”, tulisan neon box berwarna merah menyala menyambut siapa saja yang akan memasuki kawasan masjid tersebut. Setelah memarkir sepeda, aku berlari menuju masjid dan segera melepaskan sepatuku. Lisanku bedoa “Allahummaftahlii abwaaba rahmatik”. Aku duduk bersila di kanopi masjid lalu melepaskan jaketku yang basah kuyup. 
Adzan ashar telah berkumandang dibarengi suara rintik hujan yang belum berhenti sedari tadi. Bergegas aku mengambil wudhu agar dapat mengikuti sholat ashar berjamaah. Para jamaah kebanyakan adalah mahasiswa yang senasib denganku. Terjebak hujan dan tak bisa pulang, akhirnya hanya bisa menunggu hujan yang deras ini tak turun kembali. Usai sholat, aku melepas mukenahku dan mengambil al-qur’an kecil yang ada di tasku. Makmumnya tidak begitu banyak dan sepi, tidak bising. Menurutku ini adalah waktu yang khidmat untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta dengan cara membaca kalam-Nya di salah satu rumah-Nya. Tidak terasa sudah 20 menit aku menyelami samudera ayat-ayat al-qur’an. Aku memilih untuk membaca surah Ar-Rahman. Tak tau bagaimana, tiap kali aku membacanya, yang aku rasakan hanyalah nikmat yang telah Allah berikan padaku sungguh sangat banyak, melebihi cukup. Fabiayyialaa irobbikuma tukadziban. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan? Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Hujan yang semula deras dibarengi dengan suara petir yang menggelegar berkali-kali kini berganti hujan gerimis saja. Suara rintik hujan terdengar berirama. Di sela-sela aku mendengar rintik hujan, aku mendengar pula suara lantunan ayat suci al-quran. Suaranya sangat merdu, terdengar sangat bersahaja. “Shodaqallahul adziim..”, ucapku sambil mengusapkan al-quran pada wajahku lalu kututup. Kembali aku menundukkan kepala dan memejamkan mata. Menyimak bacaan al-quran seorang lelaki yang entah dari mana asal suaranya. Buat tenang hati, tentram rasanya. Astaghfirullah, karena terlalu fokus mendengarkan lantunan ayat demi ayat yang dibaca oleh lelaki asing itu, aku jadi tidak sadar jika hujan telah berhenti. Segera aku keluar masjid dan pulang.
Pagi ini sangat cerah, hawanya sejuk. Burung-burung bernyanyi seolah bernada namun mereka saja yang tahu ritmenya. Aku berjalan di koridor fakultas, menuju mushola. Jam tanganku menunjukkan pukul 06.30. Masih ada waktu 30 menit untukku bercerita dengan Allah, berharap setiap langkahku hari ini diridhoi oleh Allah. “Assalamualaikum warahmatullah..”, suaraku lirih ketika salam di akhir sholat dhuha. Suasananya hening. Maklum, biasanya para mahasiswa datangnya mepet dengan jam masuk, dan terlebih jarang sekali ada yang masuk mushola, mungkin hanya lewat saja. Tiba-tiba ada yang memecah keheningan, suara lantunan ayat suci al-quran. Sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Ah iya!! Ini seperti suara lelaki asing yang pernah kudengar di masjid Al-Hikmah. Persis sekali suaranya, aku tidak salah mendengar.  Tidak terasa jam menunjukkan pukul 06.50, itu berarti kurang 10 menit lagi kelasku akan dimulai. Bersamaan dengan aku memakai sepatu, sosok lelaki itu pun keluar. Aku sempat melihat wajahnya sebelum dia bergegas menuju kelas. Wajahnya asing, aku belum pernah bertemu sebelumnya. 
Bagiku, semester tiga adalah masa dimana para mahasiswa mulai menggali potensi dan mencari pengalaman seluas-luasnya setelah dua semester ia menyandang gelar mahasiswa baru. Aku dan kawanku Riri pun begitu. Kami mencari pengalaman-pengalaman baru dengan mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM). Tapi pilihan kami berbeda, aku mengikuti unit kegiatan mahasiswa kerohanian (islam) dan dia mengikuti unit kegiatan mahasiswa kajian dan penelitian. Oh iya, sedikit gambaran tentang Riri. Dia yang berasal dari Bojonegoro ini adalah kawan sekelompokku kala ospek dulu. Dan kini kami juga satu kost an. Berangkat dan pulang kuliah kami sering bersama. Terkadang aku yang nebeng dengannya atau sebaliknya. Suatu saat, ketika kami akan pulang kuliah, dia mengajakku ke taman tengah di fakultas kami. Dia bilang padaku jika masih akan berkumpul dengan teman seUKMnya. Dan itu berarti membuatku harus menunggu hingga urusannya Riri selesai. “Tunggu sebentar ya, sini aja. Jangan jauh-jauh. Nggak akan diusir juga sama teman-temanku. Sebentar lagi mereka kesini, habis selesai kelas mereka.”, ucapnya. “Emang kamu mau ada acara apa sih kok kumpul?”, tanyaku. “Ini mau ada kegiatan penyuluhan gitu. Cuma tiga orang sih perwakilan angkatanku yang ditunjuk. Aku, si Bila temen kostnya Putri, sama si Radhi.”, jawab Riri. Dari kejauhan Riri melambaikan tangan kepada dua teman UKMnya itu. Aku turut melihat ke arah dua temannya itu. Aku kenal dengan si Bila. Namun lelaki yang di sebelahnya itu dilihat dari posturnya seperti lelaki yang kapan hari bertemu di mushola dan masjid Al-Hikmah. Mereka mulai mendekat ke arahku dan Riri. Benar saja! Itu lelaki yang pernah kudengar lantunan suaranya yang merdu. “Ayo sini duduk. Radhi belum kenal sama Lia ya? Kenalan dulu gih”, perkataan Riri yang sontak buatku kaget dan mengernyitkan dahi. Tidak lama lelaki itu mengajakku bersalaman. “Kenalin Radhi Gemilang, biasanya sama anak-anak dipanggil Radhi aja sih”, kata lelaki itu sangat hangat. “Iya Radhi, kenalin aku Alya Zahira. Alya aja manggilnya. Lia itu cuma panggilannya Riri ke aku, hehe”, balasku. “Oh iya, si Radhi ini anak LDK univ li, jadi kalo UKM mu mau ngundang anak LDK, bilang aja ke Radhi hahaha.”, canda Riri padaku yang membuat Radhi sedikit tertawa. Setelah satu jam berlalu, akhirnya selesai juga urusan Riri dan kami pun pulang.
Usai berkenalan dengan Radhi kala itu, aku makin sering melihatnya di kampus. Tak jarang pula kami bertegur sapa saat berpapasan. Suatu ketika aku meminta nomor telpon Radhi pada Rara karena kepentingan UKM. Mulai saat itu, kami juga sering berbalas pesan. Ya memang hanya sebatas keperluan kami saja, tidak lebih. “Ting ting”, telepon genggamku berbunyi menandakan ada suatu pesan masuk. Ternyata dari Radhi. Ia mengirim gambar berupa poster yang judulnya “Majelis Sholawat Al Hikmah”. Lalu ada pesan pesan lagi darinya, “Ayo Alya ikutan, ajak juga temen-temennya ya besok Kamis ba’da sholat isya’ di Maasjid Al Hikmah”. Saat melihat pesan itu, bibirku refleks tersenyum riang. Segera kubalas pesan dia, “Iya insyaAllah ya, terimakasih informasinya Radhii. Akan kuajak teman-teman”. Sejauh aku mengenalnya, bagiku Radhi berbeda dengan lekaki-lekaki pada umumnya. Dia sangat baik dan hangat kepada siapapun. Tutur katanya yang selalu sopan dan halus, pandai,  pembawaannya selalu bijaksana, dan wajahnya selalu teduh, tidak pernah aku melihat dia bermuka masam. Dan aku memandang dia sangat menghargai perempuan.Di samping suaranya yang merdu saat melantunkan ayat suci al-qur’an, mungkin beberapa hal yang kusebutkan tadi adalah poin plus dari Radhi yang membuatku kagum dengan dia. Iya benar, ada perasaan lain saat aku menerima pesan darinya. Hatiku seakan-akan bergetar, tapi segera kuberucap, “Astaghfirullah..”
Keesokan harinya, tibalah malam berlangsungnya kegiatan majelis sholawat di Al Hikmah. Akhirnya aku mengajak Riri untuk pergi kesana karena kawan-kawan UKM ku ada jadwal kuliah di waktu yang sama. Masjid Al Hikmah mulai dipenuhi jamaah baik laki maupun perempuan. Usai sholat isya’ berjamaah, dimulailah kegiatan sholawatan bersama. Shaf lelaki dan perempuan tetap ada sekatnya. Jadi, aku tidak tahu apakah Radhi datang atau tidak. Tidak masalah pun bagiku apabila Radhi tak datang. Sholawatan pun dimulai. Ada suara lelaki yang memimpin. Suara rebana, bass, ketipung, dan tumbuk mulai terdengar dibunyikan bersamaan. Alunannya terdengar sangat bersemangat dan membentuk suatu harmoni. Iringan yang membuat hati kami bersemangat, membuat rindu kami kian membuncah pada Baginda Nabi Rasulullah. “Assalamualaika yaa yaa Rasulallah, assalamualaika ya habiibi, ya nabi Allah..” Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan suara lelaki yang sedang memimpin kami membaca sholawat. Iya, ini suara Radhi. “Li, ini suara Radhi nih”, bisik Riri padaku. Lantunan sholawat yang dilafadzkan terdengar sangat lantang. Wajah kami sangat bahagia menyuarakan bait per bait sholawat. Hati rasanya menjadi tenang dan tentram. Malam itu, aku merasakan seakan-akan ada ribuan malaikat yang menghadiri majelis sholawat itu. Hingga tiba pada penutup, kami semua saling berjabat tangan dan saling melemparkan senyuman. Apa yang barusan kami lakukan nyatanya cukup dapat membayar rasa kerinduan kami pada Rasulullah, masyaAllah.
Sepulang dari Masjid Al Hikmah saat sampai depan kamar kosku, aku mendapat pesan dari Radhi, “Tadi Alya dateng?”. “Iya dateng. Tadi yang mimpin sholawatannya kamu kan?”, jawabku sembari mengetik dan tersenyum. “Hayo pesan dari Radhi yaa. Senyum-senyum bae”, kata Riri yang tiba-tiba berada di sampingku. Telepon genggamku berbunyi kembali, ”Iya itu aku hehe.”
”Pantesan nggak asing sama suaranya.”
”Eh iya gitu? Hehe”
”Iya bagus suara Radhi. Request nih LDK jangan ngadain sekali aja. Kalo bisa rutin.
Bagus kegiatannya sangat bermanfaat.”
”Iya insyaAllah mau diistiqomahkan. Kamis depan ada kajian dari ustad ibu kota Al.
Boleh dateng, gratis”
”Wiih, matap. insyaAllah deh dateng kalo nggak ada kegiatan lain. Makasih Radhi
informasinya yaa..”
Bermula dari kegiatan majelis itu, Radhi sering mengirimkan kegiatan-kegiatan di Masjid Al Hikmah padaku dan meminta tolong padaku supaya menyebarkan kegiatan itu pada teman-teman yang lain. Pertemanan kami hanya sebatas itu, tidak lebih. Dan mungkin malah akuyang sebetulnya berlebihan dalam menanggapinya. Tidak bisa berbohong, memang pada saat menerima pesan dari Radhi jantungku berdegup kencang, tanganku keringat dingin, dan membalas pesannya pun butuh waktu bermenit-menit supaya pesan yang dikirim itu nggak sembarangan. Penilaianku terhadap Radhi saat awal berkenalan hingga akrab sampai saat ini masih sama. Sosoknya ini memang sangat idaman menurutku. Bahkan mungkin ibuku bila kuceritakan tentang Radhi pun akan mau punya mantu sepertinya, hehe. Hush, apa-apa an ini pikiranku, astaghfirullah.
Sudah tiga minggu lamanya aku dan Radhi tidak pernah saling bertukar pesan. Dari awal aku memang berusaha agar tidak memulai duluan jika memang itu bukan suatu kepentingan yang akan dibahas. Saat aku membuat status pun dia tak pernah berkomentar lagi, hanya dilihat saja. Tiga minggu terakhir ini pun Radhi sama sekali tidak pernah membagikan jadwal kegiatan di Al Hikmah. Padahal, aku sendiri tahu bahwa kegiatan rutin di Al Hikmah itu tetap berjalan. Dan aku tetap datang walau tanpa pemberi tahuan darinya. Lamunanku saat berbaring di atas kasur pun terpecah gara-gara ada yang mengetuk pintu kamar kostku. “Lia!! Aku ada berita nih buat kamu. Aku mau cerita.”, suara Riri mengagetkanku dan membuatku penasaran. Saat kubuka pintu kamarku, wajah Riri seperti mengisyaratkan akan ada kabar yang kurang baik untukku. Aku mempersilahkan dia bercerita. “Jadi gini, Li. Nggak tahu sih ini kabar penting atau nggak buat kamu. Aku tahu kamu suka sama di Radhi. Kamu kenal sama Ariani Safitri nggak? Panggilannya Ani.”, tanya Riri. Aku kenal Ariani Safitri alias Ani ini. Aku pernah sekelompok dengannya entah saat mata kuliah apa. Kenal namun tidak akrab. Orangnya sangat baik dan penuh pengertian. “Nah, dia seUKM sama aku. Waktu aku ke sekret tadi, aku melihat ada dia dan Radhi disana. Dan obrolan mereka pun sangat intens menurutku. Tapi, awalnya aku juga menganggap itu hal biasa, Li. Mereka Cuma bicara-bicara gitu walau aku juga nggak dikasih celah untuk nimbrung sama mereka. Sampai pada akhirnya si Bila dateng. Dan kata-katanya dia ini membuat aku kaget beneran deh.”, jelas Riri panjang lebar. “Bila bilang apa emangnya, Ri?”, tanyaku. “Kamu tarik nafas dulu ya. Siapkan hati dan pikiran yang dingin saat kamu menerima penjelasanku ini.”, kata Riri yang sejujurnya makin buatku tak tenang. “Si Bila masuk nih kan ke sekret. Kan ngelihat ada si Radhi sama si Ani. Dia terus bilang gini, ‘Sudahlah pacaran saja kalian ini. Sudah deket pula dari dulu. Gimana Radhi nih nggak ada action sama sekalipun padahal Ani kulihat selalu beri kode ke kamu’ aku beneran kaget Li waktu Bila bilang gitu. Dekat? Sejak kapan coba? Terus tanggapan mereka berdua cuma tersenyum dan tertawa gitu. Geli aku yang lihat.” Aku tarik nafas sedalam-dalamnya, sesak dadaku mendengar pernyataan itu. Wajahku merautkan muka ‘sok’ tegar menerima penjelasan itu. Apakah ini alasan Radhi tidak pernah menghubungiku lagi? Tenyata ada Ani bersamanya sekarang. Mungkin dia tidak bertukar pesan denganku karena ingin menjaga hatinya Ani. Semua asumsi buruk keluar begitu saja dari pikiranku. “Sudah jangan sedih dulu. Kita perlu tahu lebih lanjut, jangan suudzon yang nggak baik dulu ke Radhi, Li. Kita perlu bukti lagi buat lebih yakin.”, kata Riri menenangkanku dengan menyeka air mataku. Ternyata aku menangis. Selemah itu diriku saat tahu kabar itu. (berlanjut...)

Powered by Blogger.