Saya bukanlah orang yang addict dengan film. Mau nonton kalau filmnya: menarik; dirasa ada moral valuenya (setelah melihat trailernya, baca novelnya, lihat web seriesnya, dsb); pemainnya adalah salah satu aktor atau aktris yang saya kagumi. Nah, di awal tahun 2020 ini saya me-maukan diri untuk nonton film yang dirasa ada moral valuenya setelah menonton web seriesnya. Filmnya Berjudul, “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”. Film yang mulanya diadaptasi dari buku dengan judul yang sama (karya Marchella FP) kemudian dijadikan web series (persembahan dari Toyota Indonesia). Sejak dari bukunya saja film ini sudah mendapatkan atensi yang tinggi dari pembaca. Web series yang berjumlah tiga episode pun telah ditonton jutaan kali oleh penonton.

Kali ini saya tidak mau memberikan spoiler isi buku maupun filmnya (kan memang tidak boleh ya), tetapi hanya ingin menilai dan berusaha meracuni teman-teman untuk menonton film yang sangat direkomendasikan ini!! Rating dari saya sendiri 9,8/10. Nyaris sempurna, sempurnya hanya milik Allah, jadi tidak bisa 10/10.

Bagi saya sendiri film ini memuat ragam persoalan baik dari dalam diri sendiri, keluarga, dan sekitar. Saya merasa hampir tiap bagian dari film ini ada hubungannya dengan kehidupan kita. Pun demikian menurut teman-teman yang sudah menonton. Dan dari film ini saya merasa, “Oh ternyata aku tidak sendiri mengalami kejadian yang sama. Bukan hanya Awan saja yang merasa seperti ini. Orang lain juga pernah dan mungkin bahkan lebih dari itu”.

Pemilihan peran, penjiwaan dari tiap pemeran, soundtracknya mendukung dan sesuai, sinematografinya keren bangett, dan masih banyak hal yang memukau dari film ini. Film yang tayang serentak pada tanggal 7 Januari 2020 ini disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko Pada penayangan hari pertama film ini sudah membludak penontonnya. Tak sedikit pula yang memberi rating tinggi dan merekomendasikan film ini untuk ditonton. Memang sebagus itu filmnya.

Dari film ini juga saya mulai sadar jika tiap keluarga pasti punya sisi gelap yang tidak mereka perlihatkan pada khalayak. Saya yakin tiap keluarga selalu punya rahasia yang hanya diketahui oleh mereka saja, bahkan hanya beberapa anggota keluarga saja. Rahasia tersebut mereka simpan rapat-rapat, menampakkan kepada khalayak bahwa mereka sedang baik-baik saja, seperti keluarga lain pada umumnya yang selalu terlihat bahagia. Kita tidak pernah tau rahasia apa yang ditutupi dengan kebahagiaan yang palsu yang biasa kita lihat dari luarnya saja.

“Kamu enak deket banget sama mama papa kamu” “Enak banget ya kamu punya kakak yang baik, perhatian, enak diajakin curhat” “Beruntung sekali kamu apa-apa selalu tersedia, diturutin sama orang tuamu” “Keluargamu selalu harmonis ya. Pengen deh seperti itu” “Kamu rukun banget sih sama adekmu, nggak pernah berantem ya?” dan masih banyak lagi contoh kalimat yang biasa dilontarkan oleh teman-teman kalian. Pernah merasa? Atau malah mungkin kita pelaku yang suka bilang gitu ke teman kita?

Kembali lagi, mungkin kita tidak tahu sisi gelap dari tiap keluarga. Bisa jadi kakaknya sangat perhatian ke adiknya karena di rumah tersebut orang tua mereka selalu bertengkar. Bisa jadi semua yang temanmu inginkan selalu dituruti tapi orang tuanya tidak pernah memberikan kasih sayang secara imateriil (kasih sayang) kepadanya karena orang tuanya sibuk bekerja. Dan masih banyak rahasia keluarga lain yang tidak kalian temukan.

Jadi gini, apa yang kita lihat indah di luarnya, mungkin bisa jadi menyimpan luka yang begitu pahit di dalamnya. Bisa jadi begitu, bisa juga tidak. Setiap orang cenderung menutup sedihnya dengan kebahagiaan yang fana karena tidak ingin orang di sekitarnya turut sedih. Bukankah begitu?

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Memandang sesuatu dengan biasa saja dan jangan mudah membandingkan. Allah selalu memberi porsi senang dan sedih secara adil. Mari perbanyak syukur dengan apa yang ada. Semoga keluarga kita semua selalu dalam lindungan Allah ya😊

Teruntuk teman-teman yang sedang menyembuhkan batinnya, teruntuk teman-teman yang ingin rehat, teruntuk teman-teman yang putus asa, mungkin film ini juga bisa menjadi penawarnya. Musik pendukungnya sangat sesuai. Saat nonton filmnya juga bisa sekaligus menikmati musiknya. Bagi saya, Hindia dan Kunto Aji jadi juaranya. (Maaf Mbak Isyana, mungkin Anda bisa mencoba menang di lain film hehe)

Yang dicari hilang
Yang dikejar lari
Yang ditunggu, yang diharap
Biarkanlah semesta bekerja, untukmu
(Kunto Aji-Rehat)

Begitulah hidup. Tidak ada yang bisa menerka jalannya bagaimana. Ikuti saja alurnya kemana langkah kita akan dibawa. Nikmati jalan yang dapat kita lalui. Orang-orang akan silih berganti datang dan pergi. Ada yang menetap dan bertahan, ada pula yang hanya singgah lalu menghilang. Pernah dekat sedekat nadi, lalu begitu saja berpisah raib entah kemana.

Sebagai insan kita hanya bisa merencanakan dan mengupayakan, keputusannya ada pada Allah. Saat mimpi kita gantungkan dan kita berupaya menggapainya, sampai atau tidak kita meraihnya adalah kuasa dari Allah. Saat lelah silakan beristirahat, menepi sebentar. Jangan berhenti, Allah pasti memberi waktu dan kesempatan kita untuk menggapai mimpi kok.

Kutipan yang paling saya ingat dari film ini adalah ucapan dari Kale untuk Awan “Sabar satu persatu”. Saat diri ini penat, kutipan ini menjadi obat. Yuk teman-teman mari bersama sayangi diri, gapai cita setinggi langit, jangan putus asa, kalau lelah silakan rehat..

Yang belum nonton, silakan sempatkan waktu ke bioskop untuk nonton. Ajak keluarga dan sanak family kali aja mau ngode ke mereka wkwkwk. Masih tayang kok, ayo nonton!

*semua yang saya tulis bersifat subjektif dari sudut pandang pribadi, bila ada yang bersinggungan, monmaap yak. Mari hargai perbedaan😉


Kerasa nggak sih udah di penghujung tahun 2019 aja. Perasaan baru kapan hari deh bulan Januari 2019. Eh kok ternyata sekarang udah Desember wkwkwk

Waktu memang cepat berlalu. Bolehkan aku bertanya, bagaimana kabar target impian yang kalian buat di penghujung tahun 2018 kemarin? Adakah yang sudah tercapai?

Mau cerita sedikit perjalanan 2019 yang kualami. Begitu banyak kejadian di luar dugaan. Berkenalan dengan orang-orang hebat, turut serta dalam kegiatan besar, dan lain sebagainya. Senang? Tentu. Hal-hal yang disebut barusan tidak termasuk dalam target yang kubuat di akhir tahun 2018 lalu. Tapi apa, Allah membukakan jalannya untukku.

Ada pula target yang hingga kini pun belum tercapai. Namun tidak mau kusebutkan, biarkan hal itu menjadi target di tahun 2020. Lain hal lagi soal kegagalan. Tak sedikit kegagalan tahun ini yang kualami, misalnya gagal memperoleh beasiswa, tidak menang dalam perlombaan, dan sebagainya. Sempat hal tersebut mematahkan semangat, tapi bila kita selalu turuti rasa itu, kapan kita akan bangkit? Aku mulai bangkit dan percaya lagi bahwa Allah selalu menyiapkan hal baik untukku ke depannya. Kuncinya hanya satu, “Percaya bahwa Allah selalu baik pada kita dan tidak akan pernah menyesatkan kita”.

Bicara soal target impian, ketika memang kita punya niat yang amat sangat dan ada kesempatan untuk mencapainya, pasti targetnya dapat dicapai. Beda hal ketika target tersebut hanya kita buat di awal tanpa kita pikirkan bagaimana cara mencapainya. Yaudah hanya menjadi angan. Untuk mencapai target diperlukan yang namanya usaha. Ketika kita tenang-tenang dan santai aja, mungkinkah target kita terwujud? Target butuh keseriusan.

Target bukan melulu soal materi. Bisa saja target untuk memperbaiki personality. Menjadi lebih sabar, menjadi pendengar yang lebih baik, menjadi lebih sederhana, menjadi lebih peka terhadap sekitar, dan lain sebagainya. Apalagi bagi teman-teman yang usianya menginjak 20 tahun ke atas, yang katanya mulai memasuki ‘tahap dewasa’ tentunya semakin bisa membedakan kepribadian mana yang baik-menguntungkan ataupun yang buruk-merugikan. Bagaimana kepribadian yang bisa membuat orang lain nyaman, membuat orang lain merasa dihargai, dan lain sebagainya.

Menarik untuk dibahas terkait target memperbaiki personality. Tiap orang punya kepribadian dan karakter yang berbeda-beda. Teruntuk diriku (dan mungkin teman-teman yang merasakan hal yang sama) sebagai pengingat bahwa, ‘Kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab dirimu, Mal’. Jujur, ini adalah salah satu mindset yang ingin kuterapkan di tahun depan hehe. Dari aku sendiri sampai sekarang masih merasa.. jika aku mengecewakan orang lain, aku sendiri kayak merasa bersalah banget. Padahal ya.. belum tentu juga begitu. Ada saat dimana aku bikin kesalahan dan buat orang lain marah atau sedih, ihh bener-bener jadi kepikiran banget di kepala :’) dan hal ini yang mau aku ubah di tahun 2020 nanti. Karena aku merasa sampai sini hal tersebut malah menghambat aku untuk berkembang.

Aku punya jalan pilihan sendiri yang mungkin orang lain tidak sependapat denganku, dan aku memilih jalan itu. Yashh begitu, harus bisa berubah.. Mungkin temen-temen juga punya masalah yang sama sepertiku, yuk kita berubah. Tegaskan bahwa kita punya pilihan yang memang harus kita jalani dan tanpa ada intervensi dari orang lain. Semangat teman!!

Di akhir penghujung 2019 ini, izinkan aku mengucapkan terima kasih kepada semua insan yang telah membersamaiku berjuang dan melakukan hal-hal yang positif dan produktif. Terima kasih kepada teman-teman yang baru kukenali di tahun 2019, kalian semua menyenangkan. Aku banyak mengambil hikmah dan pelajaran dari kalian. Untuk teman-teman yang sebelum 2019 sudah kenal pun dan sekarang masih menyambung silaturrahmi, terima kasih sudah mau-maunya tetap berada di circle pertemananku. Semoga kita semua tetap saling memberikan manfaat satu sama lain.

Terima kasih 2019, banyak nikmat dan rezeki yang didapatkan di tahun ini. Nikmat senang, bahagia, suka cita, sedih, duka. Sempat merasa kehilangan, luka hati yang mendalam, stress berkepanjangan 😂 semoga dari kejadian-kejadian tahun ini kita mendapatkan manfaat, menjadikan semua hal yang terjadi pengalaman untuk ke depannya.

Kini kita menunggu detik-detik pergantian tahun. Mari buat target baru ataupun menata kembali target lama yang belum tercapai. Yuk sama-sama mulai menyiapkan apa yang kita impikan. Jangan lupa berdoa juga semoga langkah-langkah kita selalu diridhoi oleh Allah ya, aamiiin.. Semangat menyambut tahun baru! Kutunggu cerita baik dari teman-teman.

Oh iya satu lagi pesan untuk kalian (dan untuk diriku sendiri), jangan lupa bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah untuk kita ya. Jangan suka membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Allah lebih tahu kebutuhan kita. Belum tentu orang yang hidupnya lebih enak dari kita itu hidupnya memang benar-benar enak. Ada sisi kesedihan yang mungkin tidak dapat kita lihat darinya. Nikmati dan syukuri apa yang ada guyss!

*teruntuk teman yang dari dulu punya target menyempurnakan separuh agamanya di tahun 2020, semoga targetnya tercapai ya, persiapkan mental dan fisikmu. Semoga tahun depan benar-benar menjadi tahun baikmu, aamiiin😉



Aku memandang hidup sebagai sebuah perjalanan. Karena itulah aku seringkali tidak tenang ketika aku mengingat bahwa tujuan akhirku masih belum bisa kutentukan pasti, akhirat itu pasti. Tapi entah kemana aku akan berlabuh. Cahaya mana yang akan membawaku. 

Sayangnya, perjalanan ini terasa sangat terjal dan menipu. Aku sering tersesat dengan kesenangan dan mereka mulai membuatku ingin memuaskan keinginan dan memenuhi hasrat yang mengelabui.

Ketakutan adalah ketika aku tak lagi merasa takut. Kamu tau, setiap saat aku selalu ragu sekalipun raut wajahku berkata selalu ada keyakinan yang membuatku mampu tersenyum lebar. Aku terlalu pandai, untuk menjad baik-baik saja. Aku terlalu lihai, untuk menipu setiap mata yang tertuju. Aku, dan hatiku sering tak lagi selaras. Aku merasa jauh dari sebuah sentuhan kuasa Tuhan. Dari setiap tawa dan bahagia, tangisku semakin kering dan hatiku semakin keras.

Astaghfirullahaladzim. 
Astaghfirullahhaladzim. 

Aku memohon ampun kepada-Mu Ya Allah atas setiap lalai yang mencipta jarak antara aku dengan-Mu. Atas setiap lupa yang mengeraskan hatiku dan menjadikanku tak lagi semerasa dulu. Aku menginginkan sebuah luka yang mendekatkanku pada-Mu ya Allah. Menginginkan tangis yang membuatku tersadar setiap waktu yang telah berlalu, seringkali aku sia-siakan dan aku tak punya kuasa untuk memperbaiki setiap kegelapan yang telah kuciptakan sendiri, menarikku dan menjatuhkanku. Akulah, akulah yang mendorong diriku sendiri dan mengubur diriku dalam kelalaian dan kesenangan fana.

Bagai rembulan yang selalu ada meski terkadang seakan tak ada. Bagai malam yang kerap kali sembunyikan bintang. Ratapan dan pikiran manusia yang semakin menguasai hati, sampai ia tak lagi menyadari bagian mana dari dirinya yang mengikuti kata hati atau akal yang telah tercemari dunia. Menenggelamkan hakekat kuasa Allah dalam landasan hidupnya.

Alam sering kali telah memperingatkan. Manusia tak lagi bisa dapat dipercaya. Berkhianat dan tak lagi mengingat setiap butiran tanah tempatnya berasal. Pati-pati itu yang telah membawanya sampai sekarang adalah bagian yang menyokong hidup matinya namun seakan tak lagi berharga.

Akulah sang penipu. Berlagak mampu tapi lumpuh. Berlagak bisa nyatanya gegabah. Akulah sang penipu, yang tak lagi jujur kepada diri sendiri, yang tak lagi terbuka pada inginnya hati.

Setiap waktu yang terus berlalu. Setidap sudut hiruk pikuk yang aku lalui. Seakan membuatku terpana betapa aku telah mengabaikan banyak hal. Betapa aku telah mengubur banyak kesempatan. Betapa aku telah melewati banyak uluran-uluran tangan sahabatku yang menginginkanku untuk kembali kepada jalan yang seharusnya.

Aku tidak lupa akan fitrahku sebagai manusia. Tapi aku tak bisa berbohong, bahwa aku tak lagi mengenali siapa diriku sekarang. Aku tak lagi memahami bagian diriku yang masih dikendalikan oleh hati nurani dan yang telah ternodai bisikan-bisikan mereka yang ingin aku pergi.

Tidak, aku bukannya tak mengenali diriku sendiri. Aku hanya terlalu lemah dan takut untuk melawan. Dan tahukah kamu, musuh terbesar yang bertanggung jawab atas setiap kesalahan yang kamu lakukan adalah dirimu sendiri. Aku kalah melawan diriku sendiri.

Betapa Tuhan begitu baik, tak ditampakannya kesalahan-kesalahan yang kulakukan kala sendiri. Meski seringkali aku berpura-pura tak mendengar panggilan-Nya.

Betapa Tuhan begitu sayang. Sekalipun tak lagi bisa dihitung banyaknya dosa yang dilakukan olehku, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup dan terus mencari kemana aku seharusnya pulang.

Jadi, sampai kapan mau jadi sang penipu? Coba tanyakan pada dirimu sendiri seberapa kenal dengan diri sendiri. Berasal dari manakah kamu? sudahkah kamu tau maunya Sang Pencipta akan hidupmu itu apa? sudah sesuai kah jalan hidup, visi hidup, dan yang kamu perjuangkan dengan apa yang Sang Pencipta inginkan ?

Jadi, sampai kapan mau jadi sang penipu?


Assalamualaikum temen-temen!! Salam kenal dan salam sejahtera buat kalian yang baru pertama kali singgah di berandaku!

Beberapa hari yang lalu saya abis nonton film Indonesia bergenre drama-romance gitu. Wedding Agreement judulnya. Pada kesempatan kali ini, saya tidak sedang mengulas filmnya. Yang mau saya bahas adalah karakter dari salah satu tokohnya. Tapi, tidak ada salahnya juga jika saya menilai sedikit film ini ya wkwkwk.

Jika saya menilai dari 1-10, saya beri nilai 8,5 untuk film ini. Alur ceritanya runtut. Sutradaranya pandai membuat jalan ceritanya menarik, menguras emosi penontonnya. Film ini diadaptasi dari sebuah novel dimana novel tersebut ternyata diangkat dari cerita di wattpad.

Para pemeran utamanya punya karakter yang kuat. Begitu jelas terlihat bagaimana sifatnya si Bian, Tari, dan Sarah dalam film ini. Mungkin bagi kaum perempuan, pemeran favoritnya adalah Tari. Tapi emang bener sih. Si Tari berhasil banget jadi figur wanita yang penyabar, smart, paham ilmu agama, berjiwa sosial tinggi, menyenangkan, dan memprioritaskan keluarga di atas segala-galanya. Sangat sempurna tak bercela. Intinya, dia berhasil merepresentasikan istri sholehah yang idaman. Kalo karakternya Sarah, ini udah jelas banget sih. Sejak liat trailernya aja pasti temen-temen udah nggak bisa memaafkan perbuatannya. Bian yang diperankan oleh aktor muda Refal Hady pun punya karakter dan kharisma yang cukup menarik. Walau awalnya dia begitu brengsek, tapi endingnya.... silakan tonton sendiri untuk mengetahui karakter si Bian wkwkwk.

Dua hari setelah menonton filmnya, saya baru membaca novelnya wkwkwk. Biasanya kan kalo sudah diangkat menjadi sebuah film, ada bagian yang ditambah atau dikurangi. Rasa kekepoan saya terhadap cerita originalnya pun muncul. Akhirnya setelah menoton filmnya, segera saya membaca novelnya.

Menurut saya, cerita dalam novel lebih complicated. Bahkan, bagian-bagian manisnya lebih banyak hehe. Walaupun demikian, alur cerita dalam novel tetap terangkum sempurna di filmnya. Dalam artian, seluruh bagian yang mendukung agar ceritanya hidup tetap ada dalam filmnya.   

Untuk film ini, saya belum sampai pada tahap nangis sesenggukan saat menontonnya. Mungkin karena saya dari awal berasumsi, “Jelas tidak ada wanita sesabar Tari (tokoh utama perempuan)”. Tidak ada? Benarkah? Sehari setelah menonton film ini pun, masih ada pertanyaan di pikiran saya. Ada nggak sih sebenernya wanita sesabar Tari?

Sehari setelah nonton film Wedding Agreement, saya sempat mendengarkan kajian dari Ustadz Salim A. Fillah (diselenggarakan oleh komunitas Majelis Gaul-Jember). “Perempuan yang dimuliakan oleh Allah dalam Al-Qur’an ada dua. Yang pertama Siti Maryam dengan kesholehannya beliau menjadi wanita paling suci karena dapat mengandung dan melahirkan tanpa ada campur tangan peran laki-laki (Selengkapnya bisa dibaca disini) Kemudian yang kedua adalah Asiyah binti Muzahim, istri dari Raja Fir’aun, raja yang punya akhlak tidak terpuji. Bagaimana jika para akhwat ingin mulia di hadapan Allah? Jadilah seperti salah satu di antara keduanya.” tanya Ustadz Salim A. Fillah di akhir kalimat yang membuat gemuruh tawa dari para jamaah. Sempat terlintas dalam pikiran saya, “Istri dari Raja Fir’aun yaa.. uhhmm...”

Sepertinya ujian Asiyah sebagai istri Raja Fir’aun berat ya. Istri dari seorang raja yang paling bengis pada zamannya. Paras Asiyah yang cantik dan luhur budi pekertinya lah yang membuat Fir’aun ingin mempersuntingnya. Di awal pernikahan, seperti pasangan suami-istri yang baru menikah, Fir’aun begitu memanjakan istrinya. Segala yang diminta pasti dituruti, termasuk untuk memperbolehkan mengasuh anak laki-laki yang ditemukannya di Sungai Nill (Nabi Musa AS)

Lambat laun, Asiyah merasakan ada yang salah dari suaminya. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh suaminya saat itu sudah tidak sesuai koridor aqidah yang ia yakini. Puncaknya ialah saat Fir’aun mewajibkan rakyatnya untuk menyembah dirinya. Jika tidak, maka konsekuensinya adalah orang tersebut akan disiksa bahkan hingga dibunuh. Naudzubillah kejinya..

Diam-diam Asiyah tetap mempertahankan aqidahnya. Ia sangat enggan menyembah suaminya sendiri karena ia yakin jika perbuatan suaminya adalah salah. Tuhan yang patut disembah hanya Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan sabar dan penuh ketaatannya, ia tetap menjadi istri dari Fir’aun.

Bagaimana bisa seorang perempuan tahan dan kuat dengan perlakuan suaminya terhadap orang lain yang begitu kejamnya? Jika bukan karena kesabarannya yang begitu luas dan ketauhidannya yang begitu teguh, mungkin ia sudah turut menyembah suaminya. Disaat perempuan pada umumnya menginginkan pasangan yang mulia akhlaknya, Asiyah sendiri bertahan dengan perilaku keji suaminya.

Ketika Fir’aun mengerti bahwa istrinya tidak menyembah dirinya, ia membawa istrinya untuk disiksa. Diikatnya ia dengan empat besi untuk kedua tangan dan kakinya. Tubuhnya ditelentangkan di atas panas teriknya matahari. Wajahnya pun didongakkan ke atas mengarah pada langit. Saat Asiyah ditinggalkan oleh algojo Fir’aun, pertolongan dari Allah pun datang. Ada awan yang menaunginya hingga ia tidak merasakan panas sama sekali. Asiyah pun berdoa, “Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim”. Doa ini diabadikan dalam Q.S. At-Tahrim ayat 11. Bacalah bagaimana doanya, Asiyah ingin dibagunkan surga di sisi Allah. Begitu dekat dengan Allah. Terlalu cintanya ia pada Rabb-Nya hingga doanya pun seperti itu.

Atas izin kebesaran Allah, saat disiksa pun Asiyah masih bisa tersenyum. Ia memandang ke arah langit terdapat sebuah rumah yang indah yang dibangun untuknya di surga. Inilah janji Allah untuknya atas kesabarannya. Saat Fir’aun mempertanyakan keyakinannya, Asiyah tetap menjawab ia mengimani Allah ‘Azza wa Jalla, bukan suaminya. Siksaan lebih kejam lagi. Namun, dia tidak merasakannya karen ruhnya sudah terangkat ke alam surga sana.

Asiyah dianggap meninggal dalam keadaan syahid. MasyaAllah. Ujian yang Allah beri merupakan bentuk kasih sayang dari Allah untuk hamba-Nya. Ia ingin dekat dengan hamba-Nya. Derita yang dialami, tidak akan terasa bila kita yakin bahwa pertolongan dari Allah begitu dekat pada kita. Pun sama seperti yang dirasakan Asiyah. Ia yakin bahwa Allah akan melindungi hamba-Nya yang mau bersabar dan teguh pada tauhidnya.

Kesimpulannya, ternyata ada sosok wanita berkarakter seperti Tari di dunia nyata. Bahkan sabarnya lebih luas dan ujian yang diberikan untuknya lebih berat. Ialah Asiyah binti Muzahim. Beliau telah ada sejak zaman kenabian Nabi Musa AS. Memang tidak bisa dibandingkan antara tokoh fiksi Btari Hapsari dan Asiyah. Mereka berada di zaman yang berbeda dengan porsi ujian yang berbeda pula. Namun, dari dua tokoh ini kita dapat mengambil pelajaran, sabar dan dapat melawan hawa nafsu (sendiri dan orang lain) merupakan perilaku yang harus dimiliki.

Mari temen-temen kita saling memperbaiki diri. Ilmu sabar itu membutuhkan proses, tidak bisa serta-merta. Jadikan Asiyah teladan bagi kita atas bentuk kesabaran dalam menghadapi segala ujian dan ketaatannya pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Belajar dari sekarang yuk sebelum terlambat. Semoga kita selalu punya kesempatan menjadi hamba Allah yang dicinta dengan perangai baiknya, aamiiin...

Bagi temen-temen yang belum nonton film dan baca novelnya, ayo disegerakan. Banyak sekali moral value yang dapat kita ambil dalam alur ceritanya. Dijamin tidak akan menyesal. Bukan promosi, cuma ingin mengajak kalian untuk senyum-sedih di waktu yang bersamaan, haha

Powered by Blogger.