Semenjak film Ngeri-Ngeri Sedap mendapatkan atensi penuh dari publik baik setelah penayangannya di layar lebar atau di platform Netflix, saya mulai follow akun sosial media sutradara sekaligus penulis skenario dari filmnya, Bang Bene Dion. Entah kenapa, saya cukup terobsesi agaknya dengan pemikirannya (soal dunia perfilman) usai menonton film bikinan beliau. Semua aktivitas yang dibagikan di media sosial Bang Bene hampir semuanya saya tahu dan tidak pernah terlewat.

Pertengahan bulan Januari, Bang Bene menonton film terbaru Arswendy Bening Swara yang berjudul Autobiography. Ajakannya yang cukup persuasif membuat saya penasaran dengan film tersebut. Walhasil, beberapa hari setelah penayangan serentak (tanggal 19 Januari 2023) di layar lebar, saya memutuskan untuk nonton film ini di bioskop.

Singkatnya, usai menonton filmnya, hasrat untuk menulis ulasannya itu sangat ada. Bagi saya, ini film pertama yang saya tonton di tahun 2023 yang daging bangett! Tentu tidak mungkin jika saya melewatkan untuk menuliskan ulasan film ini dari perspektif saya. Namun, karena suatu dan lain hal pada akhirnya ulasannya tidak bisa langsung saya tuangkan.

Dan pada kesempatan kali ini, saya berkesempatan menulis ulasan setelah terpaut seminggu lebih dari hari dimana saya menonton film ini. Sehingga, untuk me-recall kembali ingatan saya akan filmnya, saya harus melihat beberapa cuplikan trailer dan behind the scene yang ada di kanal youtube Kawan-Kawan Media. Dan, sungguh sangat kebetulan beberapa hari yang lalu Mbak Kalis Mardiasih mengadakan space di twitter bersama beberapa orang yang terlibat langsung dengan produksi film Autobiography. Jadi, ingatan saya akan film ini makin tercerahkan.

**Perhatian, ini akan sangat SPOILER. Jadi, bagi yang belum nonton dan tetap ingin merasakan kejutan saat menikmati filmnya, jangan nerusin baca ulasannya ya!

Sinoposis

Berkisah tentang seorang mantan jenderal bernama Purnawinata (Arswendy Bening Swara) yang kembali menempati rumahnya di kota Bojonegoro yang selama ini hanya dijaga oleh seorang pemuda bernama Rakib (Kevin Ardilova). Kepulangannya bukan hanya sekadar pulang kampung semata, tetapi Pak Purna berniat mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Dalam masa kampanye, Rakib secara tidak langsung menjadi tangan kanan Pak Purna. Ia, di usianya yang masih muda melihat langsung bagaimana relasi kuasa berjalan di negeri ini melalui kendali majikannya, Pak Purna. Selain itu, Rakib sudah dianggap sebagai anak Pak Purna sendiri yang membuat ia juga tidak dapat lepas dari jangkauan Pak Purna, strict parent kali ya bahasa kekiniannya. Banyak hal baru yang Rakib alami yang kemudian juga memunculkan gejolak batin dalam dirinya. Menurut atau melawan?

Tagar #seramtanpasetan

Makbul Mubarak selaku sutradara sempat nge-mention bahwa film ini tidak punya pesan moral secara tersurat. Kalau pun ada, berarti asalnya dari perspektif penonton masing-masing. Tagar #seramtanpasetan yang melekat pada film ini memang sungguh terasa. Kalau di pencarian google, film ini bergenre drama-thriller. Atau bahkan warga Twitter ada yang menggolongkan film ini menjadi genre horor. Tidak ada yang salah karena sepanjang menonton film ini yang akan penonton dapatkan adalah rasa khawatir, resah, cemas, deg-degan, menegangkan, dan pengen nabok orang, dah semua itu sensasi yang akan dirasakan saat nonton film Autobiography. Selama 115 menit penonton akan dimanjakan oleh alur yang mencekam haha. Bawa temen ya guys kalo nonton, lebih seru!

Relasi Kuasa Itu Nyata

Film ini berlatar di tahun 2017, menurut saya tidak terlalu jauh perbedaannya dengan kondisi di tahun 2023 ini. Pak Purna, layaknya pensiunan jenderal pada umumnya, ia tetap menjadi orang terhormat yang disegani oleh siapapun. Misalnya saja saat Rakib yang mengemudikan mobil Pak Purna lalu menabrak dinding masjid. Saat warga ingin menghadang mobil dan menghakiminya, Pak Purna turun dari mobil mengisyaratkan bahwa dia punya kuasa untuk menghentikan tindakan tersebut. Pak Purna menyuruh Rakib untuk tidak panik dan meminta maaf pada warga. Warga yang semula naik pitam akhirnya hanya bisa menundukkan kepala seraya mempersilakan mobil Pak Purna jalan kembali.

Saat Pak Purna kampanye di depan warga, ada salah satu anak bernama Agus (Yusuf Mahardika) memberanikan diri untuk bertanya pertanyaan yang dititipkan oleh ibunya kepada Pak Purna selaku calon kepala daerah. Kalau tidak salah ingat, ia menanyakan haknya atas lahan miliknya yang akan dibebaskan untuk kepentingan elit penguasa. Saat merespon pertanyaan tersebut, Pak Purna tidak sedang serius menjawabnya. Terkesan formalitas belaka. Bukankah ini yang sering kita lihat di sekitar kita pemirsah?

Mau sungkem juga kepada seluruh elemen yang membentuk karakter Pak Purna sedemikian rupa hingga bener-bener seram dan menakutkan. Pak Purna diem aja sudah mengerikan! Dari pakaian yang dia kenakan, mobil yang dia kemudikan, senapan yang beliau pegang, interaksi beliau dengan orang lain, sungguh terlihat meyakinkan bahwa beliau dahulunya memang prajurit yang gagah dan disegani.

Entah kebetulan atau tidak, menurut saya penayangan film ini sangat pas momentumnya untuk menyambut Pemilu di tahun depan, haha. Film yang sarat akan kritik sosial ini seharusnya bisa menjadi bahan renungan bagi para stakeholder di negara kita. “Yang berkuasa bertindak semena-mena”, wajah ini yang dipertontonkan di film ini dan seyogyanya relasi ini tidak boleh dilanggengkan.

Privilege atau hak istimewa yang didapatkan dari pensiunan jenderal atau bahkan orang di sekitarnya juga sangat kental diperlihatkan. Di film ini, kita akan melihat banyak contoh privilege yang disuguhkan saat kita dekat dengan orang yang punya kuasa. Relasi kuasa yang menjadi warisan dari era orde baru masih nyata senyata-nyatanya terasa. Merasa paling benar, harus dihormati dan disegani karena punya jabatan tinggi dan kuasa yang tak dapat dijamah oleh orang lain. Ini adalah separo kebusukan dari wajah negara kita. Film ini menjadi peringatan bagi kita bahwa kejahatan tidak sepatutnya dilestarikan!

Jangan Lupakan Karakter Pendukung

Amir (Rukman Rosadi), bapak Rakib adalah pembantu terdahulu di keluarga Pak Purna. Ia dipenjara karena melawan kebijakan korporasi yang berusaha untuk merebut lahannya. Hubungannya dengan Rakib tidak begitu akrab layaknya ayah dan anak. Sepertinya ada background di masa lalu yang membuat hubungan mereka renggang namun tidak diceritakan dalam film ini. Saat Rakib berkunjung ke Lapas, Amir berpesan pada Rakib untuk tidak mudah percaya pada siapapun. Konteks “siapapun” disini juga dimaksudkan untuk majikannya, Pak Purna. Meski dengan raut enggan, Rakib tetap menuruti apa yang dinasehatkan oleh bapaknya.

Agus (Yusuf Mahardika), anak SMA yang hanya bermodalkan tekad dan keberanian untuk melawan penguasa. Ibunya yang sedang mengandung ingin memperjuangkan tanahnya supaya tidak direbut oleh elit penguasa. Namun naas, bermaksud ingin mempertahankan haknya malah nasibnya berujung malang. Kisah Agus ini memang fiktif, tapi... coba kita lihat berita-berita yang terliput di media. Berapa banyak orang yang nasibnya sama dengan Agus? Memperjuangkan haknya, melawan penguasa, namun berujung dengan kemalangan. 

Suwito (Lukman Sardi) adalah Kapolsek di daerah tersebut. Mempunyai hubungan baik dengan Pak Purna karena di masa lalu ia sempat dibantu untuk dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi oleh Pak Purna. Permainan seperti ini masih berlanjut kan sampai sekarang? Dia juga mengetahui dalang di balik kematian Pak Purna, namun dia memilih untuk diam karena mencari “aman” saja. Tipikal aparat penegak di negara Konoha ya.

Baik pemeran utama atau pendukung sebenarnya memiliki karakter yang kuat untuk menyampaikan kritik yang sejatinya menjadi tujuan dari film ini. Bagi saya, ini sangat berhasil! Karakter para pemeran yang kuat disertai dengan eksekusi yang ciamik ini lah yang membuat film ini pantas memenangkan beragam nominasi berbagai festival di kancah internasional.

Kesengajaan yang Menjadi Simbol

Dialog saat Pak Purna meminjam charger tipe C pada Rakib ini sangat ikonik menurut saya. Kalau tidak salah, sebanyak dua kali. Awalnya saya bertanya-tanya, ada apa dengan adegan ini? Namun, Mas Makbul sudah menjawab pertanyaan ini di space nya Mbak Kalis. Bahwa semasa Pak Purna masih menjabat, beliau selalu dilayani dengan baik bahkan dari hal kecil seperti nge-charge HP. Ajudannya selalu sigap dan tanggap. Namun, saat beliau sudah pensiun, hal itu hilang dari kesehariannya. Tidak ada lagi ajudan yang tanggap dengan hal-hal kecil dan beliau harus membiasakan diri dengan hal itu. Rakib bukan ajudan yang selalu sigap dan tanggap. Sudah terjawab ya saudara-saudara?

Ada lagi scene yang membuat saya merinding adalah saat Pak Purna turut memandikan Rakib di kamar mandi yang tidak begitu luas. Apa ini maksudnya? Dari perspektif Pak Purna, ini adalah bentuk kasih sayang antara anak dengan ayah. Namun dari perspektif Rakib, ini adalah tindakan yang sudah menembus benteng diri terakhir. Maksudnya, sudah tidak ada sekat yang membentengi antara Pak Purna dengan dirinya.

Momen saat Pak Purna dan Rakib bermain catur juga tidak kalah menarik. Pak Purna selayaknya orang yang lebih berpengalaman mengajarkan pada Rakib bagaimana menyusun taktik dalam bermain catur. “Tetap tenang dan tidak boleh terlihat panik”, ini salah satu pesannya. Catur merupakan permainan yang sering dikaitkan dengan politik. Pemenangnya adalah yang pandai menyusun strategi, begitu pula dengan pusaran politik. Siapa yang ingin berkuasa maka ia harus mempunyai 1001 cara untuk mendapatkannya.

Ada Teka-Teki yang Belum Terpecahkan

Mengapa Pak Purna lebih memilih teh dari pada kopi? Ini tentu ada kaitannya dengan Rakib yang meminta kepada Suwito untuk dibuatkan kopi di penghujung film. Ada yang sudah bisa menebak? Mengapa harus kopi dan teh? Apa ini ada kaitannya dengan konflik pembebasan lahan perkebunan kopi itu? We never know....

Lagu lawas “Kaulah Segalanya” jadi terkesan magis usai menonton film ini. mengapa lagu itu yang diputar saat Pak Purna dan Rakib berada di tempat karaoke? Oh iya, perihal pemilihan lagu, “NyanyianPendaki” cover dari Fajar Merah di penghujung film juga cukup cerdas. Semula saya tidak tahu dan bahkan asing dengar lagunya. Namun, setelah dengar dari film ini, lagu itu punya ruang memori tersendiri di kepala saya, masuk di playlist lagu mencekam dan menegangkan haha.

Lagu yang tidak kalah magis adalah original soundtrack nya yang dinyanyikan oleh Sal Priadi dengan judul Ambilkan Bintang. Kalo dari sisi musiknya sih nggak mencekam, tapi kalo udah baca dan memahami lirik perbaitnya, auto keinget adegan-adegan Pak Purna dan Rakib hahaha.

Terakhir, rasanya udah cukup ya alasan-alasan dari saya yang bikin temen-temen bergegas ke bioskop untuk nonton film ini sebelum turun layar. Film ini sangat teramat pantas menjadi suguhan tontonan di layar lebarr. Bagi saya pribadi, selain alur cerita dan visualnya yang oke, sound effect-nya juga sangat disayangkan untuk dilewatkan jika tidak mendengarkannya secara langsung di dalam studio bioskop. Tunggu apalagi guys, cepattt!


 


Dua ribu dua puluh dua...

Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hidup nyatanya tentang perjuangan dan survive untuk tetap waras dan hidup. Bagaimana kita mengupayakan itu semua lah yang jadi tolok ukur perbedaan dari tahun ke tahun. Tahun lalu apa yang jadi prioritas, tahun ini bisa saja berubah. Tahun lalu mengejar ingin masuk universitas terbaik, tahun ini orientasinya “bagaimana mendapatkan IPK tinggi?”. Jangankan 365 hari, bergantinya detik pun bisa saja mengubah prioritas yang ada dalam kehidupan. Tahun lalu mengejar ingin cepat lulus dan wisuda, tahun ini sedang ikhtiar menjalani amanah dari atasan.

Tahun ini, bagi saya pribadi banyak sekali hal yang sudah mengubah cara pandang serta membuat diri ini semakin bijak dalam memandang suatu hal. Lingkungan positif, kawan-kawan yang menyenangkan, keluarga yang hangat... Alhamdulillah tahun ini saya masih merasakan itu semua.

Soal Lintasan dan Garis Finish

Lintasan kehidupan tentu masih panjang. Sampai di titik ini, sangat wajar jika masih terus-menerus merasa belum mencapai garis finish. Lintasan ini tidak ditakdirkan untuk itu kok. Kembali diingatkan lagi dengan pepatah “Kita bukan sebagai pelari yang harus cepat-cepat mencapai garis finish di dalam kehidupan kita.” Tiap insan punya lintasannya masing-masing, dan bukan garis finish yang menjadi titik akhirnya. Tidak ada ujungnya, kita hanya diamanahkan untuk menapaki serta memaknai satu persatu langkah kita di jalur lintasan ini.

Perihal Usia

Makin kesini, makin paham kalau usia memang bukan takaran seorang untuk menjadi dewasa dan bijaksana. Ada satu hal yang selalu dan nampaknya masih mutlak jadi takaran tingkat kedewasaan seseorang, yakni status menikah. Semakin bertambahnya usia harusnya semakin dewasa dan semakin mantap untuk berkomitmen dengan seseorang. Usia 20 tahun menikah, usia 22 sudah punya anak 1, usia 28 masih melajang, usia 35 sudah menduda. Beda usia, beda pencapaian, beda persprektif, pun beda ghibahan dari tetangga. Perihal status itu, sampai sekarang pun saya masih mengimani usia bukanlah menjadi takarannya, tapi lingkungan tidak berpihak nampaknya. Hal yang selalu memekakkan telinga bagi rerata usia 23 ke atas, huft. Tapi mau bagaimana lagi? Dengarkan saja. Saya bahas ini karena hal ini begitu santer di telinga, hampir setiap hari sepertinya?!

Soal Resolusi

Akhir tahun, tepatnya di hari ulang tahun saya, selalu saya sempatkan untuk merenung resolusi apa saja di awal tahun yang sudah tercapai dan belum tercapai. Akankah menjadi resolusi untuk tahun depan atau terhenti saja karena memang sudah tidak ada upaya untuk mewujudkannya? Resolusi juga bukan hal yang fardhu ‘ain, tapi bagi saya resolusi ini perlu. Oleh karenanya, tiap tahun saya berusaha untuk mengarsipkan apa yang saya rasakan dengan menulis disini, saya jadikan sebagai bahan renengunan hihi. Bertahan dengan dunia yang makin jenaka ini memang nggak mudah guys, yokk bisa semangatt (toxic positivity mode: on).

Oh iya, ini ada lagu terbaik buat kamu yang sedang berada di dalam fase mengevaluasi dan merancang resolusi, Kunto Aji ft. Nadin Amizah-Selaras! Dengerin kalo mau tidur deh. Kalo nangis, saya nggak tanggung jawab sih tapi haha.

Terakhir, di malam ini.. di penghujung tahun ini, rasa-rasanya sangat relate mendengarkan lagu Juicy Luicy-Tak Terbaca wabil khusus bagi kaum-kaum NT. Terima kasih sudah berjuang. Kamu sudah tau dia bahagia dengan pilihannya, jangan memaksa untuk berjuang lagi ya. Kamu berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dan pantas yang nggak bikin kamu NT lagii!

Mendengar cerita, kau kini bahagia

Ku hanya bisa tersenyum mendengarnya

Di dalam terluka, di luar tak terbaca

Memendam kecewa, kau senang disana


 


Kupetik bunga, mawar warna jingga

Hanya semata, senyum kau dibuatnya

Tak sadarkan durinya, terluka di akhirnya

Mencinta tanpa tau akibatnya

Baris di atas adalah penggalan lirik lagu Mawar Jingga yang saya dengar pertama kali sekitar bulan Juli 2019 dan hingga sekarang lagu ini tetap menjadi lagu favorit saya. Awalnya, iseng aja muter lagu di youtube yang nggak tahu kenapa serandom itu loh saya bisa sampai mendengar lagu ini. Sempat merasa asing awalnya saat mendengarkan lagu ini pertama kali, “Ini siapa yang nyanyi ya? Noah bukan, Sheila on 7 juga bukan, Yovie and Nuno bukan juga ah.” Ini siapa? Saya mulai bertanyea-tanyea tuh.  Mulai melihat lagu-lagu lain yang dinyanyikan karena udah ketagihan betul sama lagu Mawar Jingga. Dan dari situlah saya mengenal grup band asal Bandung yang bernama Juicy Luicy.

Tiga tahun berselang setelah lagu-lagu Juicy Luicy yang selalu dan hanya saya dengarkan dari platform youtube dan spotify, akhirnya 26 November 2022 lalu saya berkesempatan untuk dengerin langsung dan turut merayakan kesedihan bersama dengan lagu-lagu Juicy Luicy dalam event Glowfest 2022 yang diselenggarakan oleh BEM FH UB di UMM Dome, Malang. Mau sungkem dulu ke panitianya, terima kasih sudah memberikan kesempatan ke teman-teman yang dilanda galau atau yang menggalaukan diri untuk mendengarkan langsung A’ Uan nyanyi di Malang. Apresiasi sebesar-besarnya, acaranya luarr biasa!

Sebelumnya, mau ngasih selamat juga ke A’ Uan dan tim yang per tanggal 2 Desember 2022, album Sentimental sudah diputar sebanyak 300,427,099 kali! Angka yang spektakuler dan saya turut bangga karena menjadi salah satu dari 300juta+ yang mendengarkan huaaa. Angka ini juga sepertinya bisa merepresentasikan bahwa muda-mudi Indonesia ini hatinya banyak yang nggak baik-baik saja. Atau, memang lagi musim ya muda-mudi yang posisinya sedang tidak diuntungkan dalam sebuah hubungan? Aduh maap, keceplosan guys.

Album Sentimental merupakan album pertama dari Juicy Luicy. Terdiri dari 11 single yang dirilis dalam waktu yang berbeda-beda dan rentang waktunya juga gak berdekatan, bisa dibilang seperti itu. FYI, susunan lagu-lagunya sejatinya tidak punya makna fiolosofis dan cuma sengaja diurutkan secara alphabetis aja, haha

1.     Di Balik Layar

2.     H-5

3.     Jemari

4.     Kembali Kesepian

5.     Lagu Terakhir

6.     Lantas

7.     Mawar Jingga

8.     Siapa Tahu

9.     Tak Terbaca

10.  Tanpa Tergesa

11.  Terlalu Tinggi  

Dari 11 lagu di atas, Lantas dan Tanpa Tergesa sudah meraih rekor 100.000.000+ kali diputar. Ini juga menjadi salah satu prestasi bagi Juicy Luicy yang notabene grup band pendatang baru (walaupun sebenarnya tidak baru-baru amat karena terhitung dari didirikannya sejak 2013) yang sudah mencapai rekor sefantastis itu! Di samping 2 lagu tadi, mungkin akhir-akhir ini lagu Tampar juga pernah lewat di FYP kalian. Musim hujan dan gundah gulana yang dirasakan relate sekali kalo dengerin lirik lagu Tampar, “Hujan samarkan derasnya, tutup air mata, temani kecewa....” Dan lagu ini juga udah masuk 50 Top Songs Indonesia di platform Spotify, gokill!  

Kalau boleh menilai, sebenarnya dari sekian banyak lagu Juicy Luicy, di luar album Sentimental pun, nuansanya adalah lagu kesedihan. Rata-rata sedih, iya. Tapi nggak tahu kenapa, lagu-lagunya pun tetep enjoy aja di telinga meskipun yang dengerin nggak lagi galau. Saya rasa, Juicy Luicy ini punya formula rahasia yang bikin lagu-lagunya relate buat banyak orang, tapi juga tetep bisa enjoy menikmati lagunya dimanapun, kapanpun, dan dalam kondisi apapun. Meskipun, iya sih banyak juga sebenernya penyanyi yang punya lagu galau dan bisa didengarkan meskipun pendengarnya nggak lagi galau. Cuma, tetep aja bagi saya Juicy Luicy punya caranya sendiri untuk membedakan karyanya dengan penyanyi lain!

Dan satu lagi, ketika mendengarkan lagu mereka, pasti di lubuk hati yang terdalam tuh bilang, “Suatu saat, aku harus nonton konser mereka”, ini preferensi saya ya. Karena emang seasyik itu lagu-lagu mereka masuk di telinga dan dirasakan, enakeeunn. Pokoknya wajib nonton konsernyaaa!

Buat muda-mudi, coba deh mumpung lagi musim hujan nih, dengerin lagu-lagu Juicy Luicy di sore hari atau malam hari pas lagi hujan. Entah kalian lagi terjebak kemacetan di jalan, nugas di kost, lembur di kantor. Percayalah, niscaya apa pun yang sedang kalian lakukan, tiba-tiba aja gitu selesai Selesai maksudnya bukan ada keajaiban simsalabim selesai ya, tapi saking enaknya lagu-lagu mereka, kalian nggak sadar kalo sudah menghabiskan waktu bergulat dengan aktivitas dan ditemenin sama lagu mereka. Paham kan maksudnya, ya? Ini agak hiperbola sih, tapi coba aja dulu rasain!

Oh ya, ada nih rekomendasi buat muda-mudi yang mau nikah dan masih bingung milih playlist di hari H wkwk. Ini “Lagu Nikah”nya Juicy Luicy cocok banget sih kalo diputar di hari bahagia sekali seumur hidup kalian. Coba deh baca lirik lagunya aja, itu kek... nyess banget gitu. Apalagi buat ciwi-ciwi nih pasti meresaka diistimewakan banget deh sama lagunya. Lagu Nikah ini oke banget kalo jadi pelengkap dari beberapa lagu yang selalu direkomendasikan buat nikahan seperti Akad, Sempurna, Dia, Adu Rayu, apa lagi ya? Atau lagunya diputer terus sepanjang acara juga gapapa, masih tetep khidmat dan enjoy kok acara pernikahan kalian! Atau, mau undang Juicy Luicynya sekalian? Aahh, masuk wedding dreams deh itu :’) otw cari pasangannya dulu ygy hahaha.

Terakhir, saya ingin membagikan kenangan saya tanggal 26 November 2022 lalu disini. Oh iya, bagi saya nonton konsernya Juicy Luicy sekali aja nggak cukup (dasarnya manusia emang nggak pernah puas ya). Semoga di lain kesempatan masih bisa menjadi bagian orang-orang yang beruntung bisa dengerin mereka secara langsung lagi, aamiin. Buat kalian yang sedang menjadi badut, orang ketiga, orang yang merasa dikhianati, tersakiti, apa lagi deh yang sedih-sedih, coba aja dengerin lagu Juicy Luicy, galaumu akan semakin paripurna! Let’s celebrate the heartbreak!  Terakhir banget, sehat selalu A’ Uan dan tim, tetap semangat menggalaukan muda-mudi di seluruh Indonesia ini, haha!






 


Kamu bukan satu-satunya orang yang tersiksa di rumah ini ya, Ambar!

Hampir seminggu setelah nonton film ini, kalimat diatas adalah dialog dan scene yang paling saya ingat. Entah kenapa, ngefeel bangett sih pokoknya! Yang udah nonton pun sepertinya ketika baca kalimat di atas udah pasti inget scene yang mana, ya khaaan #yangtautauaja

Yap, kali ini kita akan review film Noktah Merah Perkawinan. Film yang rilis tanggal 15 September 2022 ini disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie dan diproduksi oleh Rapi Film. Sampai artikel ini diunggah, filmnya masih tayang di bioskop ya! Yang masih setengah hati mau tonton, coba baca reviewnya dulu deh. Oh iya, sebelum itu boleh cek trailernya dulu di sini.

Film ini merupakan sebuah adaptasi dengan judul yang sama dari sinetron yang sangat booming pada tahun1996-1998. Siapa yang baru lahiir di tahun itu? Haha. Dialog yang paling ikonik dari sinetronnya “Aku tampar kamu!”, ucap si suami kepada istrinya.

Sekilas bercerita, jika biasanya saya banyak pertimbangan sebelum nonton, untuk film ini tidak. Karena orientasi saya kali ini adalah mau liat Bli Oka Antara haha, setelah di film Gara-gara Warisan gasempet nonton :( tau tanggal rilis film ini, udah tanpa pikir panjang sih langsung ke bioskop!

Para pemeran versi film berbeda dengan sinetron ya. Jika di versi film, para pemeran utamanya Oka Antara (Gilang), Marsha Timothy (Ambar), Sheila Dara Aisha (Yuli).  Namanya juga adaptasi, tentu ada penyesuaian ya entah dari sisi mana. Tapi, kalo dari film ini penyesuaian selain nama pemeran utama laki-laki yang sebelumnya Priambodo menjadi Gilang, vibes atau rutinitasnya juga sesuai banget sama keadaan di era sekarang. Bukan yang memperlihatkan vibes tahun 90an lagi.

Oke, sekarang ke sinopsisnya. Ambar dan Gilang telah menikah 10 tahun dan dikaruniai 2 buah hati yakni Bagas (Jaden Ocean) dan Ayu (Alleyra Fakhira). Tampak dari luar, mereka adalah keluarga yang harmonis dan bahagia. Namun, belakangan kondisi rumah tangga mereka tidak baik-baik saja. Ambar merasa Gilang selalu lari dari masalah saat Ambar membutuhkan solusi dari Gilang. Ambar merasa berjuang sendiri bagi keutuhan rumah tangganya. Sedangkan Gilang sudah merasa melindungi penuh keluarganya. Ditambah lagi ada campur tangan dari ibu Ambar dan Gilang.

Hingga pada akhirnya Yuli datang di kehidupan Gilang. Yuli adalah murid dari kelas keramik Ambar. Karena suatu kepentingan, Yuli dan Gilang punya komunikasi yang begitu intens dan membuat Ambar curiga kepada mereka. Yuli tampak menyimpan rasa pada Gilang yang mulai merasa nyaman ada wanita baru di hidupnya. Sesumbar kabar akan kedekatan Yuli dan Gilang semakin nyata terdengar di telinga Ambar, hingga pada akhirnya ia melihat kenyataan itu dan ingin meminta cerai pada suaminya. Bagaimanya pertentangan dan gejolak batin yang dirasakan oleh Ambar, Gilang, dan Yuli?

Itu tadi sinopsisnya. Masih belum terlalu spoiler ya. Sekarang lanjut kita akan bahas apa saja yang bisa dikulik dari filmnya, Lesgo! (*semoga nggak terlalu spoiler ya wkwkwk)

1.  Pemilihan para castnya sangat tepat

Dimulai dari pemeran utamanya. Oka Antara sebagai Gilang. Nggak tahu kenapa ini udah paling cocok emang berperan sebagai suami yang looknya cool, mengayomi keluarganya, sayang anak-istri, tapi sebenernya dia bermain sama pikirannya sendiri, dipendam, dan boom! Marsha Timothy sebagai Ambar. Beliau sudah tidak diragukan lagi dong di ranah sineas Indonesia. Mau main dan berperan sebagai apapun selalu totalitas. Di saat ia harus menunjukkan kekesalannya kepada Gilang, saya rasa dia berhasil membawa emosi penonton mencapai titik itu. beneran bisa marah, bisa kecewa, memuncak jadi satu.

(Youtube Rapi Films Official Trailer Noktah Merah Perkawinan)

Sheila Dara sebagai Yuli. Aura baik hatinya Sheila Dara nggak bisa lepas dari pikiran. Mau jadi pelakor sekalipun, vibesnya dia nggak bisa jahat :( Dan di film ini, ditampakkan betul bahwa orang ketiganya nggak jahat kok. Stereotip tentang pelakor seketika lenyap, tidak sama sekali tampak di perawakan Yuli:’) Seolah bidadari tapi antagonis, itu Yuli namanya.

Selain tiga pemeran utamanya, para pemeran lainnya juga nggak kalah jago aktingnya. Misalnya saja Bagas, anak pertama Ambar dan Gilang ini sebenarnya masih usia sekolah (10 tahun mungkin?), tetapi dia peka dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Dia berusaha untuk memahami keadaan tersebut dan memperlihatkan kepada Ayu, adiknya, bahwa keluarga mereka yaa harmonis seperti biasanya. Kemudian Ayu, anak kedua dari Ambar Gilang ini mungkin usianya 6-7 tahun, masih sangat bocah dan lagi polos-polosnya ya. Ayu memanggil Yuli dengan panggilan Tante Yuli (karena usia Yuli lebih muda dari ibunya). Ayu ini tipikal yang gampang dekat sama orang baru gaksiie? Sepertinya memang dididik seperti itu ya sama Ambar. Yuli pun terbuka juga dengan kepolosan dan ketulusan Ayu yang menganggap ia sebagai tante barunya. Keakraban keduanya ini juga membuat Ambar kurang berkenan pada akhirnya.

2.  Pesan moralnya nyampe banget

Setelah nonton filmnya, selang beberapa waktu ada space di twitter yang lagi ngebahas film ini. Dari banyak penilaian yang ada, saya setuju semua. Apalagi bagian moral value yang benar-benar banyak dan baru untuk saya. Di film ini juga ada Kartika, seorang penasehat pernikahan (Ayu Azhari) yang menurut saya berhasil menjadi pendengar yang baik untuk para kliennya, meskipun dalam ceritanya dia gagal mempertahankan rumah tangganya :( banyak pesan yang dapat diambil dari anjuran atau validasi Kartika yang bisa bikin saya jadi... “oh iya juga ya, bener juga ya...”

(Youtube Rapi Films Official Trailer Noktah Merah Perkawinan)

Di film ini, kalian bisa ambil pesan moral dari semua peran. Dari Mas Gilang bisa, dari Ambar bisa, dari Yuli bisa, bahkan dari perspektif Ayu dan Bagas juga bisa. Tinggal kalian saja mau ambil dari sudut pandang mana. Satu hal yang noteable buat saya, Yuli menyiratkan bahwa jatuh cinta pada orang yang salah akan sama halnya dengan menyakiti diri sendiri. Valid banget kan? Buat yang sedang merasa salah menaruh hati pasti lagi tertuding banget nih.

3.  Ada adegan yang klise

Harus diakui bahwa film ini sudah mematahkan stigma bahwa orang ketiga itu nggak semuanya mau menang, dia masih punya hati, namun di satu kondisi perasaan terlarang itu ya jadi nggak terbendung, akhirnya kebablas juga. Disini saya tidak membenarkan posisi sebagai orang ketiga ya. Perusak rumah tangga orang lain mutlak salah. Tapi, coba deh tonton film ini. Pengen tahu kalian ada di tim Ambar atau tim Yuli haha.

Adegan klise disini masih ditemukan. Klise dalam artian adegan ini masih sangat sering banget saya temui di film-film dengan genre drama-pasutri. Adegan yang saya maksud adalah saat Ambar tahu ada Yuli di kantor Gilang, kemudian Ambar tidak jadi turun dari mobilnya dan langsung putar balik tancap gas. Gilang yang tak sempat menjelaskan apa yang terjadi langsung mengejar mobil Ambar. Di beberapa film dengan genre yang sama, ada nih adegan ini. Misal saat Mas Pras yang lagi mengejar mobil Arini di film Surga yang Tak Dirindukan, atau Mas Bian yang lagi mengejar mobil Tari di film Wedding Agreement. Saya langsung teringat dengan 2 film itu. Adegan ini sebenarnya tidak ada masalah, cuma pikiran saya saja yang mudah ketrigger membandingkan dengan film lain hihi.

(Youtube Rapi Films Official Trailer Noktah Merah Perkawinan)

4.  Buat yang mau nangis, nonton aja!

Rekomendasi ke sekian kali buat temen-temen yang mau nonton, beneran tonton aja. Nggak akan kecewa sih, keluar dari studio kalian akan mendapatkan nasihat secara tersirat yang luar biasa. Di samping itu, paling mata juga kek berkaca-kaca atau mata agak sembab hihi. Film ini bener-bener mengajak perasaan kita untuk terombang-ambing. Dah buktikan sendiri aja ya.

Terlepas dari banyaknya film bagus yang tayang di bulan ini, film Noktah Merah Perkawinan adalah salah satu film yang layak dan worth it untuk ditonton. Dari alur cerita, para pemain, sinematografinya, semuanya tersaji dengan baik.

Oh iya, film ini bisa ditonton dari usia 13 tahun ya. Bukan film dewasa yang beraaat. Yang jomblo, yang ada pacar, yang mau nikah, yang baru nikah, atau yang udah nikah bertahun-tahun pun bisa nonton ini. Ceritanya banyak ditemukan disekitar kita, dan di film ini kita akan tahu dari satu perspektif baru bagaimana pasangan suami-istri struggle mempertahankan rumah tangganya. Terakhir, terima kasih kepada Kak Sabrina dan kru yang sudah membuat film se-emosional ini. tentu banyak pelajaran yang bisa diambil setelah nonton film ini.


Powered by Blogger.