Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!! ^-^
Prolog dulu bentar, dikit satu paragraf ajaa...
Tiga bulan lamanya sudah tidak produktif akibat kemalasan diri saya sendiri wkwkwk. Nggak males-malesan sih sebenernya. Cuma, youtube merupakan sumber godaan yang utama yang membuat saya tidak produktif (tidak belajar juga huhuu). Untuk liburan UAS ini saya mau sok sibuk, tiap hari mau ngadep laptop, berusaha mencari informasi yang insyaAllah bermanfaat yang sekiranya bisa saya tulis disini (padahal sih seringnya dengerin lagu Mbak Nella). Mari teman-temanku sekalian, kita berusaha untuk produktif dengan selalu mengembangkan basic yang kita punyaiii.. :)

Dalam kehidupan sehari-hari, bisa kita dapati orang yang melakukan kesalahan. Atau mungkin bahkan kita yang berbuat salah. MISAL NIH: (story 1) Ada temen yang ngajakin ketemuan jam 8 pagi. Eh taunya dia baru sampe jam 10. Kitanya sudah on time, lah dia malah baru bangun jam 9. (story 2) Temen yang omongannya nyakitin hati. Padahal dianya niat bercanda, eh taunya kelewatan nyakitin hati kita. (story 3) Kita ngechat temen kita (penting dan butuh untuk dibales) dan lama banget nggak dibales. Tetiba dia bikin story tanpa buka chat kita. Waduhh pasti pada sering nih gregeten sama temen yang kayak begini wkwkwk. (story 4) Waktu kelompokan, temen kita diamanahi buat bawa sesuatu yang penting di kelompok. Pada saat hari H, dianya malah nggak masuk dan tanpa ada kabar apapun sebelumnya. (story 5) Ada temen yang minjem barangnya kita. Eh taunya pas dibalikin barangnya rusak dan gak bisa dibenerin. NAH!! Dari beberapa contoh cerita di atas, pasti kalian pernah ngalamin kan? Gimana rasanya kalo jadi korbannya (pihak yang terciderai/?)? Sakit hati? Gemess? Habis kesabaran? Ah pasti beragam ya rasanya, tergantung kita bagaimana menyikapinya. Boleh tulis pengalaman kalian di kolom komentar kalo ada yang lebih ngeselin yaa wkwkwk..
Sering kali kita mendengar kalimat, “Manusia tidak pernah luput dari salah dan dosa”, “Manusia bukanlah makhluk yang sempurna”. Seriiing banget denger kalimat itu kalo ada temen atau seseorang lah yang melakukan suatu kesalahan ataupun kekhilafan. Seakan-akan kalimat diatas menjadi tameng bagi si pembuat kesalahan itu. Menjadi alasan utama agar perbuatannya itu menjadi termaklumi dan termaafkan. Tapi setelah dipikir-pikir, ya emang bener juga. Manusia adalah makhluk biasa, bukan nabi, bukan rasul, bukan malaikat. Pasti pernah berbuat salah dan dosa.
Si korbannya ini pasti punya beragam respon kalo udah merasa terciderai hatinya #alaydah. Jangan korban deh nyebutnya, sebut saja si yang terdzolimi. (Pertama) Ada yang saat dia sakit hati, dia malah ingin balas dendam ke temennya yang berbuat salah (yang mendzolimi). Balas dendam punya dua cara. Balas dendam secara langsung alias sesuai atau setimpal dengan kesalahan yang dilakukan dan balas dendam melalui doa. Balas dendam yang dibalas dengan perbuatan yang setimpal ini yang nggak baik. Muncul kalimat, “Coba dia ngerasain apa yang aku rasain, tunggu saja balasan dariku..”, “Kamu bisa berbuat gitu ke aku, masak aku nggak bisa gituin kamu?” sebenarnya sangat wajar seperti itu, namanya juga orang sakit hati kan. Sini juga dongkol gitu, kitanya nggak salah udah bener, eh dianya malah nyakitin. Hal yang seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah (yang ada malah berlaurt-larut), juga akan membuat penyakit hati. Capek sendiri jadi kitanya. Jangan begitu ya teman-teman.. semoga kita selalu senantiasa dilindungi dari segala penyakit hati, aamiiin.. Nah lanjut bahas yang melalui doa. Yang melalui doa ini memang merupakan hak prerogatif untuk dia yang terdzolimi. Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]. Dari dalil itu pun kita dapat menarik kesimpulan, doa orang yang terdzolimi ini sungguh mustajab. Misal ada yang berbuat salah sama kita, terus kita berdoa, “Ya Allah balaslah perbuatan yang sudah dia lakukan padaku, balaslah ya Allah”. Itu sangat tidak apa-apa wahai temanku, karena memang itu adalah hak yang diberikan Allah kepada kita. Kita boleh ambil kesempatan itu untuk berdoa.
(Kedua) Dia tidak mau balas dendam tetapi dia ingin bisa menuntut di akhirat. “Aku tidak akan balas dendam pada dia, biar lah kelak di akhirat aku akan menuntutnya.” Ada dua cara penuntutan di akhirat. Yang pertama, catatan amal baik orang yang mendzolimi diberikan kepada yang terdzlomi. Yang kedua, jika ternyata amalan baik yang dia punyai telah habis, maka amal buruk punya yang si terdzolimi akan ditimpakan padanya. Dalam bentuk sebuah cerita misalnya begini nih. Si A semasa hidupnya punya banyak amalan baik yang dapat dipastikan dia bisa masuk surga. Tetapi, saat persidangan di akhirat, tiba-tiba muncul si B, “Ya Allah, dulu si A pernah mendzolimi saya. Dia pernah menyakiti saya dengan memfitnah dan mengolok-ngolok saya. Saya mohon dia bisa mengganti rugi atas perbuatannya itu ya Allah.” Akhirnya sebagian amalan si A diberikan kepada si B. Lunas sudah ganti rugi kepada si B. Saat akan melangkah lagi menuju surga, tetiba muncul si C, si D, si E, si F yang juga menuntut hal yang sama kepada si A. Alasannya pun sama, karena si A pernah mendzolimi mereka. Tanpa disadari, amalan baik si A udah habis untuk menebus kesalahannya sendiri. Dan ternyata masih ada si G dan H yang menuntut pula. “Ya Allah, bagaimana saya bisa menebus kesalahan saya jika amalan baik saya telah habis?” langkah yang kedua, yakni amalan buruk di G dan H ditimpakan kepada di A. “Ya Allah, saya tidak pernah mencuri, saya tidak pernah berzina, saya tidak pernah meninggalkan sholat. Mengapa ini menjadi amalan buruk saya?” ternyata, amalan-amalan itu pernah dilakukan oleh si G dan si H. Yang sebenarnya tidak pernah kita lakukan, tetapi akibat kedzoliman kita terhadap orang lain, maka dosa-dosa tersebut diberikan pada kita, naudzubillah. Semoga hal yang dicontohkan barusan tidak terjadi pada kita..
Melihat poin pertama dan kedua, ternyata ngeri sekali loh jika kita pernah bebuat dzolim pada orang lain, menyakiti hati mereka. Kita tidak tahu apa yang menjadi pilihan keputusan orang yang pernah didzolimi oleh kita. Bisa saja dia balas dendam atau bisa saja dia akan menuntut kita di akhirat kelak. Melihat kengerian tersebut, sebaiknya kita menghindari hal-hal yang dapat menyakiti ataupun mengecewakan seseorang. Sebisa mungkin kita menjaga lisan ataupun perbuatan kita kepada orang lain. Urusan hati, perasaan siapa yang tau kan...
(Ketiga) Dia memaafkan, tidak mau balas dendam juga tidak mau menuntut, dan bahkan mendoakan orang yang mendzoliminya. Ini sungguh perilaku yang paling mulia diantara ketiganya. “Maaf” memang menjadi kata paling sering diucapkan oleh orang yang mendzolimi kepada yang terdzolimi. Itu ya kalo yang mendzolimi sadar akan kesalahannya ya. Kalo yang nggak sadar itu loh, lebih ngeselin dan menyakitkan hati :’) Kembali lagi pada kalimat di paragraf awal, “Manusia adalah makhluk biasa yang tak luput dari kesalahan”. Yang terdzolimi sadar akan hal tersebut, manusia di mata Allah kedudukannya sama. Sebenarnya jika akan membalas maupun menuntut dia sangat punya kuasa, tapi dia ingat “Allah yang menciptakan aku dan dia saja Maha Pemaaf. Pantaskah aku sebagai hamba-Nya yang lemah ini tidak memaafkan perbuatan saudaraku itu?” memaafkan juga mempunyai beberapa manfaat, antaranya: masalah antara kita dan dia selesai, ukhuwah/ persaudaraan kita tetap terjaga, dan menghindari diri kita dari penyakit hati. Seseorang yang menjadi pemaaf mempunyai kedudukan yang mulia, bahkan derajatnya sama seperti nabi, rasul, dan para syuhada. Saking mulianya akhlak para pemaaf loh, masyaAllah :)
Seorang yang pemaaf juga diberi surga yang spesial oleh Allah. “…dan bergegaslah kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di saat lapang dan susah (sempit) dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan yang berbuat kesalahan kepadanya dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali Imran 133 dan 134). Sungguh besar nikmat yang Allah berikan pada orang mukmin yang pemaaf. Tidak ada sedikitpun kerugian bagi orang yang pemaaf walau dalam wujud konkretnya dia terlihat lemah dan mengalah. Tapi disitulah titik kemenangan/ keuntungan dari orang yang memaafkan.
Ada suatu kisah saat Rasulullah hendak hijrah ke Thaif. Awalnya, beliau disambut baik oleh warga disana. Tetapi, saat warga disana mengetahui bahwa kedatangan Rasulullah kesana adalah untuk menyebarkan ajaran islam, mereka mulai benci dengan Rasulullah. Mereka mencela, mencaci, bahkan melempar batu pada Rasulullah. Karena hal tersebut, Rasulullah akhirnya meninggalkan Thaif. Saat di perjalanan, Jibril datang pada Rasul dan menawarkan agar warga Thaif diberi pelajaran dengan ditimpakan gunung yang sangat besar ke desanya. Tapi, Rasul lebih memilih untuk memaafkan warga Thaif dan menyuruh Jibril tidak melakukan hal itu. Dengan kelapangan hatinya, Rasulullah hanya mengakatakan bahwa warga Thaif masih tergolong sebagai orang jahiliyah, beliau memaafkan dan beliau mendoakan agar mereka segera diberi hidayah oleh Allah. Sungguh mulianya akhlak Rasulullah, masyaAllah :)
Rasulullah menganjurkan ada 2 perkara yang harus dilakukan saat kita akan memaafkan seseorang, yakni: MENGINGAT kebaikan orang lain kepada kita dan keburukan kita kepada orang lain dan; MELUPAKAN kebaikan kita kepada orang lain dan keburukan orang lain kepada kita. Mari kita resapi dan pelan-pelan memahami anjuran tersebut. Agar hati bisa menjadi tentram, ada baiknya saat seorang berbuat salah, ingat-ingatlah perbuatan baik dia yang pernah dilakukan untuk kita, dan kita sendiri harus selalu intropeksi apa saja yang menjadi keburukan kita. Misal, si I hari ini membentak kamu, padahal kamu tidak salah apa-apa. Membentaknya hingga mengolok-ngolok dan menyakitkan hati. Ingin banget kamu marah balik ke dia. Tapi sebelumnya yang harus kamu ingat adalah si I ini pernah baik ke kamu, dia pernah nolong kamu waktu kamu kesusahan. Kamu bukan manusia yang suci, punya juga keburukan. Daripada marah, lebih baik kamu bermuhasabah (intropeksi dan evaluasi) diri. Dengan langkah yang pertama ini, insyaAllah kita akan lebih mudah memaafkan orang lain. Berikutnya, berusaha melupakan kebaikan kita pada orang lain dan melupakan pula keburukan orang lain. Bagi saya, orang yang selalu mengingat-ngingat kebaikan yang dilakukannya terhadap orang lain adalah orang yang sombong. Bagaimana tidak, seakan-akan dia selalu bangga dengan kebaikan yang dia lakukan. Padahal, jika dibandingkan dengan orang lain kebaikan dia belum tentu ada apa-apanya. Poin yang paling penting dan susah nih, melupakan keburukan orang lain. Kalo sudah sakit hati, apa lagi buat orang yang baperan nih, susah banget ngelupain kesalahan orang lain. Selalu ingat dan suka ngungkit-ngungkit gitu. Ada cara yang mungkin insyaAllah ampuh nih biar kita jadi orang yang amnesia terhadap keburukan orang lain. Caranya yaitu banyakin berdoa. “Robbighfirli : Warkhamni Wajburni Warfa'ni Warzukni Wahdini Wa'afini Wa'fuanniyang artinya: “Ampuni aku ya Allah; dan kasihanilah aku; dan tutupi kekuranganku; dan tinggikan derajatku; dan berilah aku petunjuk; dan berilah aku kesehatan; dan maafkan aku.”
Memaafkan adalah perbuatan yang tidak mudah. Apalagi kesalahan yang dilakukan oleh seseorang itu sangat menyakitkan hati kita. Butuh pembiasaan agar hati ini mudah dan lapang memaafkan orang lain. Dengan kita melakukan 2 perkara yang dianjurkan oleh Rasulullah, insyaAllah hati kita akan lebih mudah memaafkan orang lain. Ayo teman-teman, mari sama-sama mulai detik ini kita membiasakan diri untuk lebih mudah memaafkan orang lain, mudah lupa dengan kesalahan orang lain. Hidup ini terlalu singkat jika kerjaan kita hanya terus-terusan nginget kesalahan orang lain. Jadilah pemaaf yang amnesia wkwkwk :D

Cukup sekian yang bisa saya bagikan ke temen-temen pada kesempatan kali ini, semoga kita bisa selalu semangat dalam memperbaiki diri yaa, aamiiin.. oh iya, sebenernya tulisan saya ini sebagian juga meresume dari kajiannya ustadzah Haneen Akira. Nih monggo yang ada waktu luang bisa langsung dibuka disini.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ^-^




(Setelah satu bulan lebih tidak berkunjung..)
Sebelumnya, saya mau bilang terimakasih dulu teruntuk 50 teman responden dari snapgram saya yang mungkin bisa saja bagi kalian hanya dilewati saja snapgram itu tanpa perlu ngeklik pollingnya ahahaha. Semoga gerakan tangan kalian itu bisa menjadi pahala karena sudah membuat amal senang :D Jadi, isi polling kemarin malam itu saya tanya begini, “Mana yang lebih baik?” (antara AMBISI dan OBSESI). Dan hasilnya, 84% responden memilih AMBISI yang lebih baik daripada OBSESI (16%). Emang apa sih AMBISI dan OBSESI itu? Coba kita telaah bersama eaaak...
Ambisi dan obsesi selalu dikaitkan dengan upaya, harapan, dan keinginan. Kebanyakan dari kita masih menganggap dua kata tersebut saling bersinonim. Ambisi=Obsesi, Obsesi=Ambisi. Tetapi, harus diketahui bahwa ambisi dan obsesi mempunyai sudut pandang arti yang berbeda. Menurut KBBI, ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu, sedangkan obsesi adalah gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan. Nah, dari dua pengertian tersebut jelas tampak bahwa ambisi dan obsesi berbeda. Ambisi lebih terlihat sebagai perilaku positif, sedangkan obsesi cenderung negatif.
“Setiap yang berlebihan pasti akan menimbulkan keburukan”. Ini pun berlaku bagi orang yang mempunyai ambisi dan obsesi yang berlebihan, yakni akan mengakibatkan keburukan di kemudiannya. Ambisi yang berlebihan dengan diikuti rasa emosional yang tinggi akan bisa pula menjadi obsesi. Orang yang berambisi maupun berobsesi banyak sekali kita temui dalam kehidupan nyata. Dalam dunia akademik, karir, agama, politik, dan masih banyak lagi. Semua itu muaranya hanya satu, yakni pada tujuan tertentu yang ingin dicapai. Saat sangat mengupayakan suatu hal dengan cara yang matang, ini bisa kita sebut berambisi. . Saat sangat mengupayakan suatu hal dengan cara yang tidak diperhitungkan dan dibarengi dengan emosional, ini bisa dikatakan berobsesi. Berambisi lebih bisa mengontrol diri saat usahanya dirasa gagal, namun obsesi tidak demikian. Ketika gagal, seorang yang obsesif kurang bisa mengontrol diri, sampai pada kemungkinan terburuknya yakni depresi, setress, gangguan jiwa. Yang akan repot juga kan orang-orang sekitar kita kalo udah gitu. Sifat yang obsesif itu lebih baik kita hindari.
Kadang juga kalo ada temen yang niat banget, pengen banget tujuannya tercapai, suka mengupayakan segala hal dengan kemampuan dan kesanggupan yang maksimal, kita suka ngatain dia, “Ih kamu ambis banget ya”. Pernah denger kan ada yang bilang gitu? Atau malah kata-kata itu ditujukan ke kamu? :p Bagaimana pandangan kalian tentang orang yang ambis? Ada yang suka berkomentar, “Hidupnya nggak nyantai” “Maksa banget” “Nggak woles” “Egois sekali” dan lain sebagainya. Kalo diliat-liat nih, seorang yang ambis biasanya nggak disukain sama temennya. Dengan berbagai macam alasan yang masuk akal. Kalo saya pribadi, saya kurang suka dengan orang yang ambis karena emang biasanya dalam mencapai suatu yang diinginkannya itu maksain banget. Bagi saya, bolehlah kita itu ambis, ambis yang pada tempatnya. Dan kebanyakan dari teman-teman, belum meletakkan sifat ambisiusnya itu secara tepat. Jatohnya, ya nggak disenengin sama temen-temennya deh. Ini masih ambisi, belum lagi kalo ada niat berobsesi kan, semakin ngeri. Jadi, untuk temen-temen, hindari ya berobsesi atau berambisi yang berlebihan..
Menurut psikolog Tika Bisono, “Ambisi itu sesuatu yang baik, setiap orang harus memilikinya. Karena ambisi merupakan cita-cita atau apa yang ingin dituju atau roh seorang manusia untuk survive dalam hidupnya. Kalau orang tidak memiliki ambisi, berarti dia tidak mengisi kehidupannya”. Saya sangat setuju dengan pernyataan ini. Tiap dari diri kita perlu untuk berambisi. Berambisi dalam kebaikan. Bayangkan saja jika seseorang sama sekali tidak berambisi dalam hidupnya. Sungguh, hidupnya seperti tidak ada upaya dan kerja kerasnya. Nggak pernah greget gitu hidupnya, hambar tiada rasa. Hidup ini bagaikan kompetisi. Layaknya kompetisi pada umumnya, hidup juga ada yang menang dan ada yang kalah. Apa yang mau kita capai, ya harus kita usahakan. Supaya apa? Ya supaya menang :)) “Berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan”, dalil ini secara tersirat juga memerintahkan kita, dalam berkompetisi kita memerlukan adanya ambisi. Ambisi menjadi sarana perwujudan untuk mencapai tujuan yang akan dituju. Dengan adanya ambisi, seseorang akan semakin terpacu, semangat, dan terdorong untuk melakukan hal yang akan dicapai dengan cara-cara yang telah ia pikirkan secara matang. Misal dalam contoh konkretnya begini: Seorang mahasiswa ingin membahagiakan orang tuanya dengan cara dia bercita-cita ingin lulus 3,5 tahun dan mendapatkan predikat cumlaude. Saat yang diniatkan bukan hanya sekedar niat, dalam artian ia melakukan action, “Talk less, do more!” dia pasti sudah pasang strategi bagaimana cara mencapai keinginannya tersebut. Dengan rutin belajar, semua nilai harus dapat minimal AB, tugas selalu dikerjakan dengan maksimal, dan banyak cara lainnya. Di dalam contoh ini, dia sedang bersaing. Bersaing dengan siapa? Dengan sisi lain dari dirinya yang tidak menginginkan keinginannya itu tercapai (maksudnya: sisi saat dia yang malas, dia yang pesimis, dia yang tidak bersemangat).  Kalo dia berhasil mencapai keinginannya, berarti ambisi dia menang dari sisi buruknya dia. Semoga temen-temen paham maksud dari cerita saya ini ahahahaha..
Jadi, sebetulnya mana yang lebih baik antara AMBISI dan OBSESI? Yang lebih baik adalah ambisi (dalam kebaikan). Bagaimana caranya? Bijaklah dalam berambisi.
1.      Pasang target atau tujuan setinggi mungkin
2.      Sesuaikan target dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan terlalu maksain ya
3.      Perbaiki diri dan terus berupaya semaksimal mungkin
4.      Jangan lupa, tetap berdoa semoga apa yang kita targetkan diridhoi oleh Allah sehingga jalan menuju target itu lebih dimudahkan
5.      Kalo targetnya tercapai, banyak-banyak bersyukur. Jangan sombong. Kamu tanpa bantuan Allah nggak ada apa-apanya :)
6.      Kalo targetnya tidak tercapai, tetap bersyukur. Karena Allah sudah menjanjikan suatu hal yang lebih baik. Dan jangan menyesal, bilang sama diri sendiri “Aku sudah melakukan yang terbaik. Inilah batas kemampuanku”
Mungkin hanya itu yang bisa saya tuliskan. Terimakasih yang sudah mau-maunya membaca sampai habiiss. Semoga ada pelajaran yang didapat setelah baca tulisan ini kan, huehehe. Kalo ndak dapet pelajaran, ya setidaknya beberapa menitmu itu cukup bermanfaat, daripada stalking doi yang bikin sakit hati :p Maaf ya kalo tulisan ini belum sempurna, karena yang Maha Sempurna hanyalah Allah semata, saya hanya makhluknya yang fakir ilmu dan penuh dosa. Semoga kita semua menjadi insan yang dapat meneladani akhlak Nabi Muhammad. SEMANGAT BERAMBISI TANPA BEROBSESI YA TEMAN-TEMAN! ^-^)9


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, teman-teman sekalian.. Semoga kita selalu senantiasa dalam lindungan-Nya, aamiiin.. ^-^
Dalam pergaulan, kita semua dianjurkan untuk berkomunikasi. Tanpa adanya komunikasi, tidak akan terjalin interaksi. Benar begitu kan? Berkomunikasi itu punya tata cara dan etikanya tersendiri. Baik itu komunikasi langsung maupun tidak langsung. Misal saja:  menggunakan bahasa yang baik dan benar, intonasi yang jelas, susunan kata yang tertata, dan satu lagi yaitu sopan santun dalam beretika. Tulisan maupun lisan kita harus bisa dipertanggungjawabkan. Di Indonesia sendiri, etika dan moral sangat dijunjung tinggi dalam kondisi apa pun.
Kata dosen saya, “Ada 3 kata yang sangat sulit orang-orang ucapkan. Butuh hati yang lapang jika akan mengucapkannya, yaitu: Maaf, tolong, dan terima kasih.” Saya sangat setuju dengan perkataan beliau. Tanpa disadari, orang-orang (termasuk saya) masih sering lupa mengucap 3 kata ini dalam kondisi-kondisi yang sesuai pastinya. Saya menyebutkan 3 kata tersebut bertahta karena memang kata-kata tersebut punya kekuatan tersendiri. Tak banyak pula orang yang dengan mudahnya bisa mengucapkan 3 kata itu di situasi tertentu. Berikut nih akan saya bahas sedikit tentang 3 kata yang sangat bertahta bagi saya.
1.      Maaf
Dari survei kecil-kecilan di akun instagram saya #eaak 43 dari 60 responden mengatakan bahwa mengucapkan kata “Maaf” itu susah. Beragam alasan yang membuat kita susah mengucapkan kata ini, antara lain: tidak mengakui kesalahan, merasa tidak perlu mengucapkannya, atau bahkan gengsi mau ngucapin. Setiap diri kita pasti pernah kan punya salah ke orang lain. Namanya juga manusia, tidak luput dari kesalahan. Penyelesaian setelah berbuat kesalahan pasti macem-macem. Tergantung individu masing-masing. Sebenernya, saat kita berbuat salah pada orang lain, yang orang lain harapkan pada diri kita adalah mengakui kesalahan dulu. Misal nih kita nggak sengaja abis mecahin piring di rumah temen. Pasti harus tanggung jawab ya. Tapi, sebelum tanggung jawab usahakan bilang “Aku minta maaf ya udah mecahin piring kamu” atau “Sorry ya piringnya baru gue pecahin, nggak sengaja”, dan lainnya (yang intinya niatnya sama). Kata-kata tersebut sangat berarti bagi dia yang hatinya telah engkau lukai #nahloh Ucapan itu juga dianggap sebagai bentuk pengakuan salah kalian.
Jika berbuat salah, usahakan langsung menyadari gitu kalo salah tuh. Sebagai bentuk rasa bersalahmu, ucapkan “Maaf” walau sebenernya berat. Iya tau berat. Tapi kan lebih berat rindunya Dilan ke Milea, ahahahaha. Saya sendiri pun kadang masih suka susah gitu bilang maaf walau sebenernya memang saya yang salah. Kaya gimana ya, gengsi gitu loh kalo mau bilang “Maaf ya” Tapi, sebisa mungkin saya hilangkan gengsi itu dan bilang pada diri saya sendiri “Kamu itu salah, kamu harus mengakuinya. Kata-kata maafmu sangat ditunggu olehnya sebagai pengakuan rasa bersalahmu. Jangan gengsi bilang MAAF.” Usai itu, saya lebh siap bilang maaf ke orang yang saya salahi (korban dari kesalahan saya) itu/? Temen-temen mungkin bisa coba cara yang saya lakukan ini. Atau mungkin sudah punya cara lain? Kan beda-beda ya cara menyikapinya per individu. Boleh saja...
Dan bagi orang yang disalahi, hendaknya dapat memaafkan jika ada orang yang berusaha minta maaf atas kesalahannya. Karena, pengakuan bersalah bagi dirinya itu sudah sangat berat sekali. Hargai dia yang sudah berani minta maaf. Dalam al-quran sendiri disebutkan, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” – (QS. Asy-Syura:43). Pemaaf itu hatinya sangat mulia. Walau hatinya telah disakiti, tapi dia tetap bisa menerima. Menjadi pemaaf juga masih sangat sulit untuk kebanyakan dari kita. Sulit untuk bersabar, sulit untuk ikhlas, sulit untuk menerima.
Kita lihat lagi, Allah saja Yaa Ghoffar (Maha Pema’af). Kita hanya sebagai hamba-Nya loh, kenapa harus susah mema’afkan orang lain? Dengan kita beristighfar, Allah sudah mengampuni dosa kita. Hanya dengan satu kata “Astaghfirullah”, Allah itu sudah bisa mengampuni dosa kita, memaafkan kesalahan kita. Nah kita masa’ dengan kaliat “Ma’af ya blablabla panjaaanggg......” masih kurang bisa menerima sih? Mari kita evaluasi diri, mungkin kita masih terlalu egois.
2.      Tolong
17 sisa responden yang tadi tuh sebenernya mengatakan bahwa mengucapkan “Tolong” itu sulit. Saya setuju juga dengan pernyataan ini. Menurut Aristoteles, manusia disebut sebagai zoon politicon. Yang berarti manusia ialah makhluk sosial. Tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan bantuan orang lain dalam hidupnya. Seperti yang saya bilang tadi, di Indonesia dari dulu sangat menjunjung tinggi sikap sopan santun. Meminta bantuan atau tolong pun juga ada cara sopan santunnya. Dengan apa? Dengan mengucapkan “Minta Tolong” jika sedang membutuhkan bantuan orang lain.
Masih banyak saya temui teman-teman yang saat membutuhkan bantuan tetapi dia lupa sebelumnya mengucapkan kata “Tolong”. Dan bagi saya, menurut saya, ketika ada orang yang membutuhkan bantuan tapi sebelumnya lupa mengucapkan atau bahkan sengaja tidak mengucapkan “Tolong” itu termasuk orang yang kurang bisa menghargai orang lain. Misal ya bilang ke temennya nih, “Eh ambilkan minumku lah” “Eh panggilkan si A dong” “Eh fotokan tugasmu lah”. Coba kata-kata yang bercetak tebal itu termasuk dalam verba apa hayo? Ahahahaha Seperti kalimat imperatif tapi nggak ada tanda serunya aja ya. Kalimat imperatif sendiri adalah kalimat perintah atau ajakan. Dan contoh kalimat di atas adalah kalimat imperatif transitif. (mohon dikoreksi ya teman-teman kalo ada yang salah) Kalo saya artikan, kalimat perintah yang emang perintah gitu. Terkesan seperti menyuruh. Memang tidak ada yang salah, tapi... alangkah baiknya ketika meminta bantuan seseorang kita menggunakan bahasa yang santun. “Minta tolong ambilkan minumku lah” “Tolong panggilkan si A dong” “Eh tolong fotokan tugasmu”. Yang mendengar, yang membaca akan terasa jauh lebih enak gitu kan? Lebih merasa dihargai.
Beragam juga kita temui karakter orang-orang yang dimintai bantuan oleh kita. Karakter pertama, kadang ada kan orang yang dimintai bantuan kalo tidak make kata “Tolong” itu dia cukup tersinggung, “Lah kamu siapa emang kok enak banget nyuruh-nyuruh?” tapi kata itu tidak dia ucapkan. Dia lebih memilih diam. Dan ujung-ujungnya bantuannya dia itu tidak ikhlas ke kita. Karakter kedua, orang yang dimintai bantuan ini masa bodo, terserah mau kita bilang tolong dulu apa nggak, dianya tetep ikhlas dan niat membantu kita. Saran saya, sebagai pihak yang membutuhkan bantuan, sebaiknya kita menganggap orang-orang tuh seperti yang karakter pertama. Dengan begitu, kita akan terbiasa menggunakan kata “tolong” saat membutuhkan bantuan. Ingat, tanpa perlu kita melihat siapa yang akan kita mintai tolong ya. Semua orang tanpa terkecuali dengan perlakuan yang sama :)
Dalil dalam al-quran berbunyi, “....Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” – (Q.S. Al-Maidah:5). Apa makna dari dalil tersebut? Kita sebagai makhluk sosial dianjurkan untuk saling tolong-menolong, saling gotong royong, bahu-membahu. Saat ada orang yang membutuhkan bantuan kita, hendaknya kita membantunya, semampu dan sebisa kita. Dalam menolong sesama, hendaknya kita harus ikhlas. Bukan mengharap imbalan tetapi mengharap ridho-Nya. Mungkin sekarang orang lain yang membutuhkan bantuan kita. Kedepannya kita kan juga nggak tahu, mungkin saja kita yang membutuhkan bantuan mereka :)
3.      Terima Kasih
Kata yang terakhir ini masih sering kita dengarkan dalam kegiatan sehari-hari. Dari tiga kata tersebut di atas, kata ini yang paling mudah diucapkan (menurut saya ini ya, terserah bagaimana menurut temen-temen, boleh berbeda pendapat).  Kata ini sering kali diucapkan usai kita menerima sesuatu. Misal habis diberi hadiah sama temen, “Terima kasih yaaa”. Anak kecil yang habis dikasih permen sama ibunya, “Bilang apa, Nak?” anak kecil itu spontan menjawab, “Makaciih” maapkeun agak dicelat-celatin ni. Atau juga usai kita dibantu, diberi informasi oleh orang lain. “Makasih ya udah bantuin ngerjain tugas.” “Terima kasih Bapak atas informasinya”. Dalam acara formal maupun informal pun kata ini tidak luput diucapkan oleh pembawa acara. “Terima kasih atas sambutan yang hangat dari ....” “Terima kasih atas perhatian Saudara-Saudari...” Dan masih banyak lagi contohnya. 
Yang membuat kata ini bertahta adalah, walau paling mudah diucapkan ya, tetapi juga paling suka lupa diucapkan #nahloh Apa yang membuat kita sering lupa mengucapkan kata ini? Lagi-lagi alasan klasiknya adalah kita kurang menghargai pemberian dari orang lain, entah itu wujudnya barang atau yang bukan barang (misal sebuah pertolongan, informasi, ilmu, dkk). Hal ini jika dibiarkan terus-menerus juga nggak baik. Nggak baiknya kenapa? Karena ya bisa juga yang memberi pada kita itu merasa kurang dihargai. Ada loh orang yang seperti itu. Bukannya mereka mengharap imbalan dari kita yang telah diberi. Tapi, alangkah baiknya kita itu menghargai upaya mereka, pemberian mereka. Kita nggak tau loh sebelum mereka memberi kita usaha-usaha apa yang mereka lakukan. Misal kamu minta tolong ke temenmu untuk memperbaiki barangmu yang rusak (karena kamu nggak tahu sama sekali cara ngebenerinnya, bukan modus ya). Temenmu itu berusaha semaksimal mungkin memperbaiki barangmu itu, tanpa kamu tahu usahanya apa saja. Lalu setelah barangmu itu pulih, sudah tidak rusak, kamu dengan enaknya tidak mengucapkan “Terima Kasih”. Kurang ajar nggak itu? Kalo saya jadi temenmu, saya nggak mau bantu kamu lagi #juahatbanget Udah intinya gitu, jangan lupa bilang “Terima kasih” kalo udah dikasih sesuatu sama orang lain yaa...
Sebenarnya, dari 3 kata ini dapat kita lihat tingkat kepedulian sosial seseorang terhadap orang lain di sekitarnya. Semakin mudah kata-kata tersebut diucapkan oleh seseorang, semakin tinggi juga kepedulian sosial mereka kepada orang di sekitarnya. Saya sangat salut sih dengan orang yang sudah terbiasa mengucapkan kata-kata ini, tiada gengsi dan niatnya untuk menghargai orang lain, tidak lebih. Kalo mau seperti itu ya, kita hanya perlu membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata tersebut. Iya, hanya perlu pembiasaan diri. Jika kamu ingin dihargai orang lain, maka cobalah untuk menghargai orang lain. Yuk temen-temen, mulai dari sekarang (setelah membaca tulisan saya yang kurang sempurna ini) kita membiasakan diri untuk mengucapkan 3 kata yang bertahta ini. Hidup kita akan senang jika lingkungan sekitar kita damai dan tentram, bukan? :)


(dianjurkan untuk bikin story dulu sebelum nonton, dan ini nggak sendirian kok)

Tahun 2014 yang lalu, kebanyakan anak remaja di Indonesia punya hobi yang sama. Hobi apa itu? Hobi berimajinasi, hehehe. Pada saat bulan April di tahun itu, seorang penulis bernama Pidi Baiq merilis karyanya yang berjudul “DILAN: dia adalah Dilanku tahun 1990”. Awalnya tidak begitu banyak yang membicarakan novel ini. Tapi ternyata di Bandung (Kotanya Dilan) sudah sangat ramai ngomongin novel ini. Saya pun tau novel ini melalui twitter. Ada twit nyasar gitu di time line saya yang isinya merekomendasikan baca novel Dilan. Alasannya sih karena dalam novel itu terdapat nilai-nilai (baik) yang tidak ada di jaman sekarang, gitu katanya. Saya pun penasaran, lalu akhirnya membeli juga.
Saya yang pada saat itu masih kelas 3 SMP (ya ampun 3 SMP bacaannya udah Dilan aja, buku pelajaran apa kabar?) punya impression pribadi saat membaca novel ini. Novel Dilan ini kan mengisahkan anak remaja SMA, jadi ya pemikirannya saya (masih 3 SMP) mulai kurang masuk di akal. “Apa iya, ntar kalo udah SMA ada gitu anak kayak Dilan di sekolah?” | pada kenyataannya tidak ada ; “Kalo Dilan benar-benar nyata, sekarang dia ada dimana?” | untuk pertanyaan yang ini, sudah ada jawabannya dan sepertinya memang akan menjadi rahasia publik saja.
Dan dari novel ini, saya mulai tau Pidi Baiq. Surayah (sapaan akrabnya) ini penulis asal Bandung. Novel-novel karyanya selalu punya bahasa yang ciri khas dan ringan, mudah diterima juga. Semuanya juga berdasarkan kisah nyata, nggak ada yang dibuat-buat ceritanya. FYI, yang mau lebih tau Surayah bisa follow twitternya @pidibaiq. Oranya buaik sekali, rajin sekali balesin twit nggak penting anak-anaknya yang totalnya ribuan itu, ahahahaha. Lagi, kalo beruntung akan difollback loh
Di penghujung bulan Januari 2018, dunia perfilman Indonesia seperti hidup kembali /waduh emang abis mati suri ya? . Bagaimana tidak, ada film lokal yang tayang serentak pada tanggal 25 Januari lalu,  kini telah ditonton lebih dari satu juta orang di Indonesia pada penayangannya hari ke enam. Banyak pro-kontra dari kalangan pembaca setia novel Dilan sebelum akhirnya novel ini diangkat menjadi film. Saat Pidi Baiq diminta untuk menjadikan novelnya sebagai film, ia mempunyai syarat bahwa sutradaranya harus dia. Jika sutradaranya orang lain dia tidak mau menerima tawaran dari rumah produksi manapun. Ceritanya Surayah tentang Dilan bisa dibaca di sini
Saya dulu termasuk orang yang ingin sekali novel ini diangkat ke layar lebar. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu saya mulai menyadari. “Sepertinya Dilan hanya akan bagus untuk aku imajinasikan, tidak perlu ada wujud visualisasinya. Mungkin jika ada pun, yang meranin pasti tidak akan benar-benar sesuai dengan imajinasi yang sudah kubangun.”. Tiga tahun lamanya, hingga sudah rilis seri kedua (DILAN: dia adalah Dilanku tahun 1991) dan seri ketiga (MILEA: Suara dari Dilan). Baru lah terdengar kabar novel Dilan akan difilmkan. Jujur, saat itu saya kaget dan menimbulkan pertanyaan yang besar, “Siapa yang mau jadi Dilan?”. Pertama-tama, Surayah ngenalin yang jadi Milea. Oh dia, Vanesha Prescilla yang meranin jadi Milea. Oke, sepertinya sesuai dengan karakter Milea. Yang paling susah ditebak itu ya siapa yang meranin tokoh Dilan. Nama-nama artis papan ataspun banyak disebutkan. Mulai dari Adipati Dolken, Reza Rahardian, Fedi Nuril Nicholas Saputra, dan masih banyak lagi. Lalu muncul nama Jefri Nichol artis yang baru naik daun itu. Kebanyakan masayarakat mengira bahwa Jefri Nichol lah yang akan memerankan tokoh Dilan. Eh tapi ternyata, kok udah meranin di film sebelah ya, huehehe. Akhirnya kami (para pecinta Dilan) bertanya-tanya lagi.
Lama-kelamaan, mulai tidak saya pikirkan siapa yang menjadi sosok Dilan, eh tiba-tiba muncul nama Iqbaal Ramdhan yang akan memerankan sosok Dilan, di media berita manapun. Waduh, pada saat itu sih saya sedih berat (fix alay banget ini). Kan jadinya mending nggak usah difilmin aja gitu, karena takutnya merusak citra dari sosok Dilan yang sudah bagus saya imajinasikan eaaak. Beberapa bulan yang lalu, muncul trailernya. Ada Dilan dan Milea (iyalah jelas). Ada sebuah scene yang menurut saya kurang dapet feelnya. Saya mulai mengkhawatirkan bagaimana nanti filmnya. Tapi, saya tetep berharap filmnya masih sesuai dengan ekspektasi saya.
25 Januari 2018 adalah tanggal yang mungkin sudah ditunggu-tunggu oleh sebagian orang yang emang udah nggak sabar aja pengen nonton, termasuk saya. Hari pertama, tembus 200 ribu penonton, MasyaAllah ini sungguh di luar dugaan saya. Dimana-mana jadi trending, bioskop di kota saya (yang jumlahnya hanya satu dan cuma punya dua studio) pun sangat ramaiii, bahkan antrean yang mau beli tiket itu panjaaang sekali. Yang saya kagetkan ialah banyak muncul review positif dari teman-teman yang udah nonton. Bukannya saya berharap review buruk dari teman-teman, tetapi faktanya emang banyak loh yang meremehkan film ini saat melihat trailernya. Apalagi melihat aktingnya si Iqbal, banyak sekali hujatan yang muncul untuk dia.
Saya, Amalia Zulfa tidak menonton Dilan pada tanggal 25 Januari karena: ingin melihat dalam keadaan khidmat. Maksudnya adalah saya ingin waktu nonton saya itu nggak terlalu ramai antrian, dan juga kurang mau mendengar adik-adik SMP\SMA, dan mbak-mbak\mas-mas yang heboh histeris teriak-teriak waktu dengerin gombalan khasnya Dilan gitu. Maka dari itu, saya nontonnya tanggal 30 Januari dan ambil yang jam malam (jam 20.00 WIB). Tapiii, melihat realita yang ada, sungguh jauh dari ekspektasi ahahahah 1. Saya pesen tiket siang (jam 11.30). Dan itu nyatanya saya sudah kebagian kursi depan. Ya alhamdulillah nggak depan-depan banget, masih baris ke tiga. Jadii, baris ke empat sampai ke belakang itu udah full. Bayangin loh, padahal bioskop baru dibuka jam 10.00. nah itu saya dateng tengah hari, pesen tiket untuk malam udah mau full aja. Haduuhhh. Mana sampai sana juga masih harus mengantre. 2. Masih ada juga yang teriak heboh gitu “ciyee” “aduh dilan” “eaak”. Bahkan yang saya herankan, tadi itu ada cowo mungkin duduk di belakang saya ya, keras banget teriaknya, asli dah heboh banget masnya itu ahahahah.
Kalo boleh saya menilai, dari kesesuaian novel dan filmnya saya beri 9.5 benar-benar sesuai, tapi memang ada part di novel yang tidak dimasukkan dalam film. Ya harus dimaklumin karena durasinya hanya 2 jam, kalo mau dimasukin semua sih bisa 3-4 jam an ya, hehe tapi mau juga liat :D Secara garis besar alurnya masih oke. Yang belum baca novelnya pun masih bisa paham dengan alurnya, bahkan mungkin tidak tertebak akan seperti apa jalan ceritanya. Kalo untuk yang udah baca novelnya, seperti saya gini nih nggak usah repot-repot untuk menebak ceritanya bagaimana, karena memang semua scene sama dengan novel, dialognya pun demikian. Tidak ada yang dikurangin atau ditambahin. Untuk Milea, saya mau kasih nilaii 8.5 uuhh keren banget udah, cantiknya dapet, ekspresinya juga dapet TOP BGT daah. Untuk Dilan, saya kasih nilainya 7.5 pas KKM banget ini ya, hehehe. Maap maap ya Dilan, tapi kamu tidak perlu remidi kok. Iqbal memerankan tokoh Dilan sudah sesuai dengan kemampuan yang dia miliki kok, pasti dia berupaya keras untuk meranin tokoh itu. Yakin saya sih. Yang saya suka dari si Dilannya ini tatapannya begitu tajam, mematikan. Tandanya apa? Berarti emang benar-benar menjiwai perannya gitu. Tapi, memang ada dialog yang memang kurang cocok kalo Iqbal yang ngomong, bagian ini nih “Sun jauh, jangan?” Aduh itu saya kurang suka sih. Cocokan Surayah mah yang bilang kaya begitu, Iqbal kurang dapet feelnya, huehehehe. Secara keseluruhan, untuk Dilan sih tetap MANTAP JIWA.
Banyak beredar juga di media sosial quote-quote punya Dilan. Misalnya: “Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Nggak tau kalau sore. Tunggu aja.” ; “Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang.” ; “Cemburu itu Cuma untuk orang yang tidak percaya diri, dan aku sekarang sedang tidak percaya diri” dan lain sebagainya. Tetapi nih, quote yang sangat viral bukan itu, melainkan quote yang gini, “Jangan rindu, berat. Kau tak kan kuat. Biar aku saja”. Bukan netizen Indonesia namanya kalo ada quote tapi nggak dijadiin humor yang retjeh ya. Misal saja : “Jangan nonton Dilan sendirian, berat. Kamu nggak akan kuat. Ajak aku saja.” ; “Jangan kuliah, berat. Kamu nggak akan kuat. Nikah saja.” ; “Jangan ngerjain skripsi, berat. Kamu nggak akan kuat. Biar aku saja.” ; “Jangan maksiat. Dosanya berat. Kamu nggak akan kuat. Aku juga” dan masih banyak lagi kalo teman-teman mau eksplor sendiri ahahahah. Lama-lama, sering banget hampir tiap hari ada aja humor retjeh dari quote yang ini. Kadang juga terkesan dipaksa-paksain gitu lagi, menyebalkan sekali kan ya. Tapi, ya beginilah negeriku Indonesia tercinta. Masyarakatnya sangat kreatif luar biasa. Dengan hormat, saya mau bilang nih ke teman-teman kalo saya bosan dengan quote itu saja yang selalu seliweran dimana-mana. Coba deh teman-teman baca novel Dilan, banyak kok quote yang keren selain yang itu tu. Beneran dah, iqra’ ya teman-teman! ^^

Di akhir curhatan saya kali ini, saya benar-benar mau terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembuatan novel dan film Dilan. Berkat mereka semua, saya mengenali sosok Dilan. Ternyata ada ya spesies macam itu di dunia ini, hehe. Terlebih untuk Surayah, saya sangat berterimakasiiih sudah mau-maunya menyempatkan nulis dan sibuk menyutradrai film ini (di samping sutradara utama). Akhir kata, 1000x muah untuk Surayaaaah ^o^
Powered by Blogger.